DetikNews
Jumat 10 Agustus 2018, 17:00 WIB

3 Perusahaan Korsel Kepergok Impor Batu Bara dari Korut

Novi Christiastuti - detikNews
3 Perusahaan Korsel Kepergok Impor Batu Bara dari Korut Ilustrasi (Dok. Anadolu Agency)
Seoul - Tiga perusahaan Korea Selatan (Korsel) kepergok mengimpor batu bara dan besi dari Korea Utara (Korut). Aktivitas ini jelas melanggar sanksi-sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Korut yang diberlakukan sejak Agustus 2017.

Seperti dilansir AFP, Jumat (10/8/2018), Kantor Bea Cukai Korsel dalam pernyataan terbaru mengungkapkan bahwa lebih dari 35 ribu ton batu bara dan besi dari Korut diimpor ke Korsel via Rusia, antara April hingga Oktober 2017.

"Setiap kapal yang diyakini telah melanggar sanksi-sanksi PBB akan disita atau dilarang masuk pelabuhan-pelabuhan Korea Selatan," demikian bunyi peringatan yang dirilis Kantor Bea Cukai Korsel.


Suplai batu bara itu pertama dikirimkan ke Rusia. Isi muatan kapal disamarkan dengan menggunakan dokumen-dokumen 'negara asal' yang dipalsukan. Muatan batu bara itu kemudian dipindahkan ke atas kapal tujuan Korsel.

Kantor Bea Cukai Korsel merilis laporan ini setelah dilakukan penyelidikan oleh otoritas Korsel selama 10 bulan terakhir.

"Dinas Bea Cukai Korea telah mengonfirmasi tujuh tindak kriminal dan akan melaporkan tiga orang dan tiga perusahaan ke otoritas penuntutan dengan permohonan untuk mendakwa mereka," sebut Kantor Bea Cukai Korsel dalam pernyataannya. Tidak disebut lebih lanjut nama tiga individu dan tiga perusahaan tersebut.


Laporan Kantor Bea Cukai Korsel ini muncul setelah laporan PBB yang dirilis pekan lalu, mengungkapkan bahwa Korut masih saja melanggar sanksi-sanksi PBB dengan terus mengekspor batu bara, besi dan komoditas lainnya, juga melakukan transfer ilegal dari kapal-ke-kapal di tengah lautan.

Pengiriman besi dan baja ke China, India dan beberapa negara lain telah menghasilkan nyaris US$ 14 juta, mulai dari Oktober hingga Maret bagi Korut.

Tahun lalu, Dewan Keamanan PBB mengadopsi rentetan resolusi untuk melarang Korut untuk mengekspor komoditas demi memutus pemasukan rezim komunis itu dalam melanjutkan program senjatanya.


(nvc/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed