DetikNews
Kamis 08 Maret 2018, 17:34 WIB

Bocah China 'Berambut Es' Dikeluarkan dari Sekolah Barunya, Kenapa?

Rita Uli Hutapea - detikNews
Bocah China Berambut Es Dikeluarkan dari Sekolah Barunya, Kenapa? Bocah China 'berambut es' (Foto: SCMP)
Beijing - Masih ingat dengan bocah "berambut es" di China? Bocah tersebut kini dikeluarkan dari sekolah barunya, hanya sepekan setelah dirinya bersekolah gratis di Sekolah Dasar (SD) swasta tersebut. Alasannya, kepala sekolah kewalahan menghadapi sorotan otoritas dan tekanan dari media terkait bocah bernama Wang Fuman tersebut.

Belum lama ini, foto bocah SD yang rambutnya membeku setelah berjalan berkilo-kilo meter di tengah cuaca dingin dari rumahnya ke sekolah itu, viral di internet dan ramai diberitakan media internasional. Bocah laki-laki berumur 8 tahun itu setiap harinya harus berjalan kaki selama sejam lebih dari rumahnya di desa Zhuanshanbao untuk pergi ke sekolah. Fotonya menjadi viral pada Januari lalu setelah seorang guru memposting fotonya dengan rambut dan bulu mata yang membeku usai berjalan kaki menuju sekolah di tengah cuaca yang sangat dingin.

Setelah fotonya viral, Fuman pun ditawari untuk bersekolah gratis di sebuah sekolah berasrama, Sekolah Xinhua di Zhaotong, provinsi Yunnan. Meski sekolah tersebut jaraknya jauh dari rumahnya, namun itu tak jadi masalah karena dia harus tinggal di asrama sekolah. Dia tak perlu lagi berjalan kaki sekitar 4 kilometer setiap hari untuk bersekolah.

Namun baru sepekan bersekolah di sana, kepala sekolah mengeluarkan Fuman dan menyuruh ayahnya untuk datang menjemput. Keputusan ini membuat mereka kecewa, khususnya Fuman yang menyukai sekolah barunya.

"Saya tinggal di sana dan tidak perlu berjalan jauh untuk pergi ke sekolah. Saya cuma harus ikut olahraga lari setiap pagi," tutur Fuman seperti dilansir South China Morning Post (SCMP), Kamis (8/3/2018).

Kepala Sekolah yang hanya ingin disebut namanya sebagai Yang, mengatakan bahwa awalnya dia menerima Fuman karena dirinya ingin berbuat baik. Namun kemudian, besarnya perhatian media dan otoritas membuatnya tidak nyaman. Hal ini dikarenakan Fuman terpilih oleh Kementerian Pendidikan sebagai sosok kunci untuk dibantu dalam upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan.

"Kami mendapat banyak permintaan dari berbagai level departemen pemerintah untuk menginspeksi kami. Banyak media juga ngotot untuk mewawancarai kami. Mustahil bagi saya untuk menolak banyak permintaan itu," keluh Yang kepada SCMP.

Dikatakannya, pihak sekolah tak mampu mengatasi tuntutan ekstra yang ditimbulkan dari kehadiran Fuman di sekolah tersebut. "Itu bukan yang saya inginkan, jadi saya harus mengatakan kepada ayah Fuman untuk membawa pulang bocah tersebut ke sekolahnya yang semula," tandas Yang.



(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed