DetikNews
Senin 04 September 2017, 16:44 WIB

Seruan Malala ke Suu Kyi: Dunia Menunggu, Rohingya Menunggu

Novi Christiastuti - detikNews
Seruan Malala ke Suu Kyi: Dunia Menunggu, Rohingya Menunggu Malala Yousafzai (CNN)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
London - Peraih Nobel Perdamaian termuda dunia, Malala Yousafzai, mengomentari krisis Rohingya di Myanmar. Malala menyerukan agar pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi bersuara keras atas perlakuan tak manusiawi yang dirasakan etnis muslim Rohingya.

Seruan ini disampaikan Malala dalam pernyataan terbuka untuk Suu Kyi yang juga peraih Nobel Perdamaian. Suu Kyi selama ini menuai kecaman karena dianggap tak acuh terhadap penderitaan dan penindasan yang dialami warga Rohingya di Rakhine.

"Setiap kali saya melihat berita, hati saya hancur atas penderitaan warga muslim Rohingya di Myanmar," ucap Malala mengawali pernyataannya, seperti diposting pada akun Twitternya @Malala dan dilansir Reuters, Senin (4/9/2017).


"Beberapa tahun terakhir, saya berulang kali mengecam perlakuan tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu rekan sesama penerima Nobel, Aung San Suu Kyi, untuk melakukan hal yang sama," imbuhnya.

"Dunia menunggu dan warga muslim Rohingya menunggu," ujar Malala yang ditujukan kepada Suu Kyi.

Nyaris 90 ribu warga Rohingya mengungsi dari Rakhine demi menghindari konflik. Serangan dari militan Rohingya atau ARSA terhadap puluhan pos kepolisian dan pangkalan militer Myanmar pada 25 Agustus lalu, memicu bentrokan dengan militer Myanmar.


Otoritas Myanmar menyalahkan militan ARSA atas serangkaian pembakaran rumah dan tewasnya warga sipil di Rakhine. Namun para pemantau HAM dan pengungsi Rohingya yang berhasil kabur ke Bangladesh menuding militer Myanmar telah melakukan aksi kekerasan.

"Hentikan kekerasan. Hari ini kita melihat foto-foto anak kecil dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar. Anak-anak ini tidak menyerang siapapun, tapi masih, rumah mereka dibakar hingga rata dengan tanah," seru Malala.

"Jika rumah mereka bukan Myanmar, tempat mereka tinggal selama beberapa generasi, lantas di mana? Warga Rohingya seharusnya mendapat kewarganegaraan di Myanmar, negara yang menjadi tempat kelahiran mereka," harap gadis 20 tahun ini. Rohingya yang jumlahnya mencapai 1,1 juta jiwa di Rakhine, tidak mendapat akses pada pekerjaan dan pendidikan di Myanmar. Warga Rohingya juga tidak memiliki status kewarganegaraan.


Malala ditembak di kepala oleh militan Taliban tahun 2012, karena dia gemar mengkampanyekan pendidikan bagi kaum wanita di Pakistan. Malala berhasil selamat dan tinggal di Inggris, sebelum akhirnya meraih Nobel Perdamaian tahun 2014 karena kiprahnya memperjuangkan pendidikan kaum wanita. Sementara itu, Suu Kyi meraih Nobel Perdamaian tahun 1991.


(nvc/ita)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed