DetikNews
Minggu 24 Juni 2018, 16:25 WIB

Erdogan, Membungkam Pers - Merepresi Oposisi

Sudrajat - detikNews
Erdogan, Membungkam Pers - Merepresi Oposisi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Montase Foto: Mindra Purnomo)
FOKUS BERITA: Erdogan Menang
Jakarta -

"Selama lebih dari satu dekade, kami berharap Turki bisa menjadi anggota keluarga Eropa ... Tapi kemudian saya mendapati diri saya diborgol seperti pembunuh bayaran. "

Kalimat itu meluncur dari mulut Erol Onderoglu, usai menjalani tahanan selama 10 hari pasca kudeta yang gagal pada pertengahan Juli 2016. "Ketika istri dan anak laki-laki saya datang mengunjungiku, aku harus berbicara dengan mereka melalui kaca. Saat itulah saya menyadari betapa ketidakadilan telah dilakukan terhadap saya," imbuhnya.

Onderoglu adalah satu dari 150 wartawan yang dipenjarakan rezim Recep Tayyip Erdogan. Mereka umumnya dikenai tuduhan dengan "propaganda terorisme" atau "menghina presiden".

Pengunjuk rasa menuntut kebebasan pers di Turki Pengunjuk rasa menuntut kebebasan pers di Turki Foto: Do. Europeanjournalists.org

Tak cuma memenjarakan para wartawannya, 155 media pun ditutup rezim Erdogan. Akibatnya, sekitar 2.500 wartawan menganggur. Selain media massa, rezim Erdogan juga mengontrol media sosial. Lebih dari 100 ribu laman media sosial diblokir pemerintah.

Bintang sepak bola Turki, Hakan Sukur menjadi salah satu korbannya. Sukur mendapat sanksi dari pengadilan, karena me-retweet informasi seputar berita korupsi, bisnis minyak dan senjata Turki dengan ISIS.

Sikap keras rezim Erdogan terhadap kebebaran pers itu menuai kritik tajam dari sejumlah koleganya di Eropa, termasuk Amerika Serikat. Toh, Erdogan tak bergeming. "Tidak ada perbedaan antara seorang teroris yang memegang senjata atau bom dan mereka yang menggunakan pena dan posisi mereka untuk memenuhi tujuan mereka," katanya membela diri.


Terhadap para tokoh oposisi, Erdogan juga bersikap keras. Tak cuma di dalam negeri, mereka yang tinggal di sejumlah negara ikut terkena imbas kebijakan represifnya.
Pada Desember 2017 Associated Press melaporkan bahwa perwakilan Interpol telah memeriksa 40.000 permintaan ekstradisi. Beberapa di antaranya dari Turki, yang kemungkinan besar adalah korban pertikaian politik.

Di luar isu kebebasan pers dan kebebasan berpendapat, sejumlah tokoh oposisi juga menyerang dan mengkritisi sejumlah kebijakan Erdogan. Temel Karamollaoglu, pemimpin partai kecil, Partai Felicity, menyebut Erdogan telah mengkhianati agamanya dengan membiarkan korupsi dan ketidakadilan menyerang pemerintahannya.

Sumber: BBC | DW | ABC News




(jat/jat)
FOKUS BERITA: Erdogan Menang
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed