Jakarta - Ratusan aktivis berunjuk rasa di dekat Kedutaan Besar AS di Manila, membakar bendera dan poster sebagai bentuk penolakan atas serangan AS-Israel terhadap Iran.
Foto
Unjuk Rasa di Manila Tolak Serangan AS-Israel terhadap Iran
Aksi unjuk rasa digelar di dekat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Manila, Filipina, Selasa (3/3/2026). Demonstrasi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap serangan AS-Israel ke Iran di tengah konflik yang masih berlangsung. REUTERS/Noel Celis
Massa bergerak menuju kompleks kedutaan sambil membawa berbagai poster dan spanduk tuntutan. Mereka menyuarakan kecaman atas serangan udara yang dilakukan terhadap Iran. REUTERS/Noel Celis
Sejumlah pengunjuk rasa mengangkat papan bertuliskan pesan solidaritas untuk Iran. Poster-poster tersebut dibentangkan di sepanjang barisan aksi. REUTERS/Noel Celis
Teriakan slogan menggema saat massa berdiri di hadapan barikade pengamanan. Aparat kepolisian tampak bersiaga mengawal jalannya demonstrasi. REUTERS/Noel Celis Β
Dalam aksi tersebut, beberapa demonstran membakar bendera Amerika Serikat sebagai simbol protes. Kobaran api terlihat di tengah kerumunan peserta aksi. REUTERS/Noel Celis Β
Sehari sebelumnya, aksi serupa juga berlangsung di Quezon City, Metro Manila, Senin (2/3/2026). Pengunjuk rasa membakar gambar Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai bentuk kecaman. REUTERS/Noel Celis Β
Para aktivis menyatakan serangan yang dipimpin AS dan Israel bertujuan mengacaukan kawasan Timur Tengah. Mereka menyerukan penghentian konflik karena dinilai berdampak luas terhadap masyarakat sipil, termasuk pekerja migran Filipina. REUTERS/Noel Celis Β
Selain membakar gambar dan bendera, massa mengangkat poster berisi tuntutan serta menyerukan penghentian serangan dan diakhirinya konflik. Mereka menilai eskalasi krisis dapat memengaruhi jutaan orang, termasuk pekerja migran Filipina di Timur Tengah yang jumlahnya lebih dari 2,4 juta orang. REUTERS/Noel Celis Β
Dari jumlah tersebut, 975.000 warga Filipina berada di Uni Emirat Arab, 250.000 di Qatar, 31.000 di Israel, dan 800 di Iran. Aparat kepolisian berjaga di sekitar lokasi aksi, sementara pemerintah menyatakan terus memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut. REUTERS/Noel Celis











































