Ketika Keterbatasan Tak Menghalangi Produktivitas Difabel
Hari Disabilitas Internasional setiap 3 Desember menjadi momen menegaskan bahwa kesetaraan bukan slogan, melainkan tuntutan hidup sehari-hari. Di Jakarta, upaya pemberdayaan tumbuh dari inisiatif komunitas kecil.
Precious One di Meruya, Jakarta Barat, menjadi salah satu ruang aman itu. Rumah dua lantai ini disulap menjadi workshop kerajinan yang mempertemukan kreativitas dan kemandirian penyandang disabilitas.
Di ruang kerjanya, pekerja difabel menjahit, memotong bahan, hingga menyusun pola dengan ketelitian tinggi. Aktivitas mereka mengalir seperti ritme produksi industri kecil yang tengah memenuhi pesanan klien.
Precious One berangkat dari pengalaman sakit Ratnawati Sutedjo yang mengubah perspektifnya tentang kerentanan. Empati itu kemudian diwujudkan menjadi kesempatan kerja bagi mereka yang sering terpinggirkan.
Usaha ini bermula dari kain perca dan tiga pekerja tuli yang belajar sambil berkarya. Identitas “karya disabilitas” menjadi penanda kualitas dan cerita yang membuat produk mereka dikenal luas.
Kini Precious One melayani berbagai klien yang menghargai dedikasi para perajinnya. Relasi yang terbangun menunjukkan bahwa kapasitas difabel diterima pasar tanpa perlu embel-embel belas kasihan.
Di Jakarta Selatan, Wisma Cheshire terus berdiri sejak 1974 sebagai ruang hidup dan pembelajaran bagi penyandang tunadaksa. Tempat ini menjadi rumah, sekolah, dan bengkel keterampilan dalam satu lingkungan.
Para penghuni berlatih membuat produk sekaligus mengelola aktivitas harian secara mandiri. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan bagi tiap individu.
Yayasan Cheshire Indonesia sebagai organisasi nirlaba menjaga keberlanjutan pelatihan tersebut. Banyak karya mereka diminati ekspatriat, membuka akses pemasaran yang lebih stabil.
Sebagai penutup, akses bekerja adalah hak setiap warga, bukan hadiah yang boleh diberikan atau dicabut.