Sejumlah warga yang tergabung dalam Studi Demokrasi Rakyat (SDR) dan para korban investasi menggelar konferensi pers di Jakarta, Kamis (13/1/2022). Acara tersebut digelar guna mendengarkan keluhan para investor yang merasa tertipu oleh Ustad Yusuf Mansur.
Salah satunya Zaini Mustofa yang merupakan seorang lawyer, awalnya ia dan para jamaah masjid Darussalam Kota Wisata mendengarkan ceramah Ustad Yusuf Mansur (UYM) pada tahun 2009 hingga akhirnya mengikuti presentasi UYM terkait bisnis batu bara.
Bisnis tersebut dikerjakan oleh PT Partner Adiperkasa yang dimana UYM sebagai Komisaris Utama yang dikatakan tambangnya berada di Kalimantan Selatan.
Dalam presentasinya UYM menjelaskan bahwa bisnisnya dapat menguntungkan sebesar 28,6 persen yang akan dibagi 3.
Besarannya 50 persen, 14,3 persen untuk sodakoh ke Pesantren UYM, separuhnya lagi untuk BMT Darussalam madani sebagai pengelola atau v manajemen, dan 11,3 persen untuk investor.
Pada saat itu jemaah diajak meninjau lokasi tambang oleh Direktur Utama, pulang dari lokasi para jemaah diajak untuk berinvestasi.
Para jemaah juga sempat mendapatkan keuntungan setiap bulan dalam bentuk tunai yang tak berjalan lama rentang Juni hingga Desember 2009, namun mulai Januari 2010 mulai tidak dibayarkan. Pada tahun 2010 sempat terjadi pertemuan antara UYM dan jamaah, ia menyebut akan mengganti keseluruhan uang yang telah disetor. Namun janjinya hingga kini tidak direalisasi.
Para jemaah dan Zaini mulai berinisiatif untuk menempuh jalur hukum, namun dicegah oleh beberapa jamaah lain dengan alasan membuat gaduh umat muslim. Tertahan hingga 2020 dan kini 2021 ternyata semakin banyak korban lain yang mulai bersuara. Kini Zaini menggugat sendiri UYM ke PN Jaksel dengan tuntutan materil 98 Miliar serta kerugian imateril 100 Miliar, nantinya sidang perdana akan dimulai pada 15 Februari 2022.
Dalam kesempatan tersebut Zaini tidak sendirian, ada beberapa korban yang bersuara salah satunya Helwa yang merupakan warga asal Surabaya yang bekerja sebagai TKI ia bercerita telah menyetorkan uang senilai 38 juta pada tahun 2013. Tak sendiri ia juga bersama TKI lainnya turut menyetorkan uang investasi yang hingga kini tak kunjung membuahkan hasil.