Menanti Aksi untuk Sungai Ciliwung yang Lebih Baik

Sejumlah warga tengah beraktivitas di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Sungai Ciliwung kembali menjadi sorotan usai banjir merendam sejumlah wilayah di Jakarta pada awal tahun baru 2020. Tak sedikit orang menilai banjir itu terjadi karena upaya naturalisasi-normalisasi di sungai itu jalan di tempat.

Guna mengantisipasi terjadinya banjir, Sungai Ciliwung pun akan dilebarkan.

Rencana pelebaran Sungai Ciliwung itu dapat dilakukan bila sudah dilakukan pembebasan lahan di bantaran sungai tersebut.

Seperti diketahui, bantaran Sungai Ciliwung kerap dimanfaatkan sejumlah warga sebagai tempat tinggal atau area permukiman. Rumah-rumah semi permanen itu berjejer di bantaran Sungai Ciliwung.

Terkait dengan rencana pelebaran Sungai Ciliwung, dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta diketahui akan membebaskan 118 lahan di sekitar bantaran Sungai Ciliwung tersebut.

Diketahui 118 bidang lahan itu tersebar di sejumlah kelurahan yaitu Kelurahan Pejaten Timur, Tanjung Barat, Cililitan, dan Balekambang.

Terkait rencana pembebasan lahan di sekitar Sungai Ciliwung itu, SDA DKI Jakarta akan bekoordinasi dengan pihak kelurahan setempat untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pembebasan lahan itu.

Bangunan-bangunan liar di sekitar bantaran Sungai Ciliwung pun rencananya akan ditertibkan guna mendukung upaya pelebaran sungai tersebut.

Pembebasan lahan dan penertiban itu dilakukan guna normalisasi-naturalisasi Sungai Ciliwung sebagai upaya untuk mengatasi banjir di ibu kota.

Seperti diketahui Pemerintah daerah dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memiliki kesepakatan untuk melebarkan sungai di Jakarta dengan konsep normalisasi.

Pemerintah daerah setempat bertugas untuk membebaskan lahan, sementara BBWSCC membangun infrastrukturnya.

Rencana pembebasan lahan dan penertiban bangunan liar di bantaran Sungai Ciliwung itu pun diharapkan dapat berjalan dengan lancar sehingga upaya pelebaran sungai melalui normalisasi maupun naturalisasi dapat direalisasikan dan mengantisipasi terjadinya banjir di Jakarta di masa yang akan datang.