Pesona Batik Lulantatibu, Gabungan Empat Suku Dayak

Batik Lulantatibu, menjadi cermin keragaman sekaligus simbol kebersamaan antar suku yang mendiami kawasan di perbatasan Indonesia - Malaysia tersebut.
Sejumlah narapidana membuat batik Lulantatibu di Lapas Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (6/10).
Kata Lulantatibu merupakan singkatan dari nama empat suku Dayak di daerah itu, yaitu Dayak Lundayeh, Dayak Tagalan, Dayak Taghol, dan Dayak Tidung Bulungan. 
Corak batik Lulantibu dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan sejak 2010 dan akhirnya telah dipatenkan pada Mei 2017 lalu.
Corak pada batik Lulantibu tidak digabungkan begitu saja, tapi melalui pemikiran selama beberapa tahun. Itu karena empat suku Dayak memiliki ciri khas masing-masing dan tiap corak mengandung makna simbolik.
Setelah berhasil memadukan berbagai motif dari suku yang ada di Kabupaten Nunukan, seluruh perwakilan suku dayak menyetujui ada 4 motif orisinil milik masing-masing suku untuk dipatenkan menjadi batik.
Dayak Lundayeh misalnya, memiliki corak khas yaitu gambar tempayan yang berarti melindungi. Banyak alat-alat rumah tangga yang juga terdapat gambar tempayan ini.
Sementara Dayak Tagalan memiliki corak khas yaitu gambar goresan yang menyerupai empat buah garis lengkung dan titik-titik kecil yang berarti persatuan.
Dayak Taghol memiliki corak khas yaitu gambar empat garis membentuk tameng yang berarti ketahanan.
Sedangkan Dayak Tidung Bulungan memiliki corak khas, yaitu gambar bunga raya yang berarti kemakmuran.
Perbedaan goresan yang dimiliki oleh masing masing suku disatukan menjadi rangkaian motif batik yang menghasilkan keindahan. Batik ini menjadi semangat berdampingan untuk kehidupan yang lebih baik.