Ribuan masyrakat antusias mengikuti rangkaian prosesi mulai dari kirab pusaka hingga rebutan tumpeng agung.
Puncak peringatan hari jadi di awali dengan kirab pusaka Trenggalek, berupa Tombak Korowelang, Songsong Tunggul, payung Songsong Tunggul Naga, Songsong Tunggul Wibawa, lambang kabupaten serta penghargaan Parasamya Purna Karya Nugaraha.
Arak-arakan ini juga dimeriahkan oleh drum band prajurit dari Keraton Surakata lengkap dengan kereta kencana yang dinaiki oleh Bupati Trenggalek dan istrinya Arumi Bachsin.
Kehadiran sang kepala daerah beserta istri tersebut menjadi magnet tersendiri bagi ribuan maryarakat Trenggalek yang menyaksikan mulai dari Jalan Panglima Diponegoro hingga Alun-laun Trenggalek.
Bahkan dalam pidato sambutannya, Emil berpamitan langsung kepada seluruh masyarakat maupun jajaranya dalam bahasa Jawa, karena tahun ini merupakan even hari jadi terakhir yang ia pimpin sebagai bupati. Emil menambahkan, peringatan Hari Jadi 824 Trenggalek tahun ini juga menjadi tahun keprihatinan bagi pemerintah dan masyarakat, karena sepekan yang lalu Pasar Pon Trenggalek terbakar dan meludeskan ratusan lapak dan kios.