Foto: Kisah Tragis Orangutan di Berbagai Daerah di Indonesia

Pada 2015, publik digegerkan dengan unggahan di Facebook tentang pria yang memasak orangutan di Kalimantan Tengah. Dalam kasus ini polisi menetapkan Dadun bin Uja sebagai tersangka. Ia terbukti membakar bangkai orangutan untuk dimasak. (Foto: Facebook)

Orangutan ini jadi korban ketika terjadi kebakaran hutan Kalimantan Tengah, 2015 silam. Mereka mengalami gangguan pernapasan karena terjebak di antara bara api. Orangutan ini pun termasuk yang beruntung karena berhasil diselamatkan. (Foto: BKSDA Kalteng)

Pada 2016, temuan 3 orangutan terbakar di Kalimantan Timur disorot media internasional. Salah satunya Daily Mail edisi 28 Februari yang mengangkat artikel berjudul "Three female orangutans have died in a land fire near a protected forest in Indonesia amid claims the blaze was started deliberately" dengan foto-foto orangutan yang nahas.  Foto: Istimewa (via Facebook Centre for Orangutan Protection/COP))

Saat diautopsi bangka orangutan ini tak ditemukan adanya kekerasan. Mereka murni mati karena terbakar. Penyidik pun tak menetapkan tersangka dalam temuan ini. (Foto: COP via FB)

Orangutan di Kutai Kaltim juga punya kisah sedih. Ia ditemukan luka kena jeratan tali dan luka tembak di dekat Taman Nasional Kutai Kalimantan Timur, Mei 2016 lalu. (Centre for Orangutan Protection/COP)

Di bulan kedua 2017, kasus pembunuhan terhadap orangutan kembali ramai diperbincangkan. Orangutan yang masuk ke wilayah perkebunan ini harus mati di karena dianggap hama. (Foto: Istimewa)

Masih satu rangkaian, beredar foto seorang wanita yang memotong-motong daging orangutan. Sebagian diletakkan di panci dan ada yang di ember. Tampak tangan orangutan tergeletak dan sudah dikuliti.(Foto: Istimewa)

Nasib orangutan pun harus mengalah di tengah masifnya pembukaan lahan untuk kebun sawit. Keberadaan mereka kerap dianggap sebagai hama di hutan yang sudah berubah jadi perkebunan industri. Tak jarang mereka kerap dipukuli, bahkan ditembak sampai mati. (Foto: Dokumentasi COP)

Awal tahun 2018 ini, publik kembali dikejutkan dengan temuan bangkai orangutan tanpa kepala yang mengambang di Sungai Barito, Kabupaten Buntok, Kalimantan Tengah. (Foto: dok. Centre for Orangutan Protection)

Orangutan itu mati mengenaskan. Tanpa kepala, bulunya sudah rontok, dan penuh luka. (Foto: dok. Polsek Dusun Selatan)

Hasil autopsi menyatakan 17 peluru bersarang di bangkai orangutan berjenis kelamin jantan itu, tulang rusuknya patah, dan luka leher akibat ditebas. Bangkainya pun ditemukan sudah membusuk. (Foto: dok. COP)

Sejauh ini, polisi sudah memeriksa 5 saksi terkait temuan orangutan tanpa kepala itu. Sebagai tindak lanjut, Dirjen KSDAE KLHK Wiratno akan memanggil ratusan pengusaha sawit untuk berdiskusi. Ia bakal mengumumkan protap penanganan satwa liar yang masuk ke perkebunan. Wiratno dan kepolisian berjanji bakal mengusut kasus matinya orangutan ini sampai tuntas. (Foto: dok. COP)

Pada 2015, publik digegerkan dengan unggahan di Facebook tentang pria yang memasak orangutan di Kalimantan Tengah. Dalam kasus ini polisi menetapkan Dadun bin Uja sebagai tersangka. Ia terbukti membakar bangkai orangutan untuk dimasak. (Foto: Facebook)
Orangutan ini jadi korban ketika terjadi kebakaran hutan Kalimantan Tengah, 2015 silam. Mereka mengalami gangguan pernapasan karena terjebak di antara bara api. Orangutan ini pun termasuk yang beruntung karena berhasil diselamatkan. (Foto: BKSDA Kalteng)
Pada 2016, temuan 3 orangutan terbakar di Kalimantan Timur disorot media internasional. Salah satunya Daily Mail edisi 28 Februari yang mengangkat artikel berjudul Three female orangutans have died in a land fire near a protected forest in Indonesia amid claims the blaze was started deliberately dengan foto-foto orangutan yang nahas.  Foto: Istimewa (via Facebook Centre for Orangutan Protection/COP))
Saat diautopsi bangka orangutan ini tak ditemukan adanya kekerasan. Mereka murni mati karena terbakar. Penyidik pun tak menetapkan tersangka dalam temuan ini. (Foto: COP via FB)
Orangutan di Kutai Kaltim juga punya kisah sedih. Ia ditemukan luka kena jeratan tali dan luka tembak di dekat Taman Nasional Kutai Kalimantan Timur, Mei 2016 lalu. (Centre for Orangutan Protection/COP)
Di bulan kedua 2017, kasus pembunuhan terhadap orangutan kembali ramai diperbincangkan. Orangutan yang masuk ke wilayah perkebunan ini harus mati di karena dianggap hama. (Foto: Istimewa)
Masih satu rangkaian, beredar foto seorang wanita yang memotong-motong daging orangutan. Sebagian diletakkan di panci dan ada yang di ember. Tampak tangan orangutan tergeletak dan sudah dikuliti.(Foto: Istimewa)
Nasib orangutan pun harus mengalah di tengah masifnya pembukaan lahan untuk kebun sawit. Keberadaan mereka kerap dianggap sebagai hama di hutan yang sudah berubah jadi perkebunan industri. Tak jarang mereka kerap dipukuli, bahkan ditembak sampai mati. (Foto: Dokumentasi COP)
Awal tahun 2018 ini, publik kembali dikejutkan dengan temuan bangkai orangutan tanpa kepala yang mengambang di Sungai Barito, Kabupaten Buntok, Kalimantan Tengah. (Foto: dok. Centre for Orangutan Protection)
Orangutan itu mati mengenaskan. Tanpa kepala, bulunya sudah rontok, dan penuh luka. (Foto: dok. Polsek Dusun Selatan)
Hasil autopsi menyatakan 17 peluru bersarang di bangkai orangutan berjenis kelamin jantan itu, tulang rusuknya patah, dan luka leher akibat ditebas. Bangkainya pun ditemukan sudah membusuk. (Foto: dok. COP)
Sejauh ini, polisi sudah memeriksa 5 saksi terkait temuan orangutan tanpa kepala itu. Sebagai tindak lanjut, Dirjen KSDAE KLHK Wiratno akan memanggil ratusan pengusaha sawit untuk berdiskusi. Ia bakal mengumumkan protap penanganan satwa liar yang masuk ke perkebunan. Wiratno dan kepolisian berjanji bakal mengusut kasus matinya orangutan ini sampai tuntas. (Foto: dok. COP)