Para pekerja 'memanen' sperma sapi di Balai Inseminasi Buatan di Lembang, Bandung.
Sperma ratusan sapi pejantan unggulan di sejumlah Balai Inseminasi Buatan ini membuat Indonesia selama bertahun-tahun mengalami surplus sperma beku sapi.
Tahun lalu, misalnya, Indonesia memproduksi 4,9 juta dosis. "Surplusnya sekitar 800 ribu dosis hingga 1 juta dosis," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro.
Sperma beku surplus itu saat ini sedang berusaha dilempar ke luar negeri. Namun ini bukan hal yang gampang. Pemerintah pengimpor harus memastikan sperma sapi keturunan yang diproduksi di Indonesia itu cocok dengan kondisi mereka dan tak membawa penyakit.
Ekspor pertama sperma beku sapi dari Indonesia dilakukan pada 2006. Saat itu yang diekspor adalah produksi Balai Besar Inseminasi Buatan di Singosari, Malang. Kepala Pemasaran Balai Besar di Singosari, Jack Pujianto, mengatakan, mereka mengirim 3.000 dosis.
Satu dosis dibanderol US$ 20 (sekitar Rp 200 ribu). Harga ini, meski jauh berlipat dari harga untuk para petani dan peternak lokal yang mulai Rp 30-an ribu per dosis, masih di bawah harga pasar dunia, yang mencapai US$ 30 per dosis.