Pria Asal Jakarta Ini Punya 4 Rumah Makan di Berlin Tanpa Pinjaman Bank

Pria Asal Jakarta Ini Punya 4 Rumah Makan di Berlin Tanpa Pinjaman Bank

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 17 Sep 2026 17:54 WIB
Davin Sia, 34 tahun, punya empat rumah makan di Berlin Jerman. ia berasal dari Kelapa Gading, Jakarta (Foto: DW)
Davin Sia, 34 tahun, punya empat rumah makan di Berlin Jerman. ia berasal dari Kelapa Gading, Jakarta (Foto: DW)
Berlin -

Saat bertemu langsung dengan tim DW di Berlin, Davin Sia tersenyum-senyum canggung. "Ih, padahal aku sudah siap-siap kalian mau wawancara, tapi enggak tahu kenapa jadi panik begini," ujarnya sambil tertawa.

Di balik kegugupannya itu, Davin mengaku bukan tipe orang yang jago ngomong. Namun, soal strategi bisnis, ceritanya berbeda. Dalam waktu empat tahun, ia berhasil mengembangkan usaha kuliner dari satu restoran menjadi empat lokasi di Berlin. Semua itu pun dibangun tanpa pinjaman bank, tanpa warisan, maupun menang lotre.

"Maunya sih menang lotre ya," kata "jomblo" asal Kelapa Gading Jakarta ini sambil cengar-cengir. "Tapi enggak begitu ceritanya." Modal utamanya: Tabungan, investasi, dan nekat ambil peluang di saat banyak orang justru menghindari risiko, terutama saat pandemi. Begitulah ia perlahan mulai membuka rahasia dagangnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai menyajikan sendiri makanan nasi padang dan nasi kulit ayam sambal matah kepada pengunjung di salah satu restorannya, ia bercerita punya satu rumah makan Indonesia, satu rumah makan Thailand, dan dua gerai tempat makan di sebuah gedung dekat stasiun utama Kota Berlin.

Dari mahasiswa informatika ke dapur restoran

Awalnya Davin datang ke Jerman untuk kuliah teknik informatika, tapi seperti banyak mahasiswa lain, hidupnya tidak jauh dari kerja paruh waktu. Juga ternyata, titik baliknya bukan di kampus—melainkan di dapur restoran.

ADVERTISEMENT

"Awalnya aku kerja part-time di restoran. Dari situ malah jadi suka dunia gastronomi," katanya. Meski jurusan kuliahnya jauh dari dunia kuliner, Davin tidak melihat itu sebagai hambatan. "Kadang orang bilang ini enggak nyambung ya, tapi menurutku kuliah itu bukan cuma soal kerja sesuai jurusan," ujarnya.

Menurut Davin, kuliah justru membentuk cara berpikir. "Bagaimana kita bisa berpikir lebih kritis, analitis, dan sistematis, jika berhadapan dengan masalah." Ia menambahkan, "Jadi jangan lihat orang sukses terus bilang, 'ah dia enggak kuliah juga bisa.' Enggak begitu. Jadi bagiku, meski ambil karier berbeda dari jurusan kuliah, pendidikan di bangku kuliah adalah proses pendewasaan yang sangat bermanfaat membentuk pola berpikir kita."

Bangun bisnis tanpa bank, tanpa warisan

Ketika memutuskan membuka restoran sendiri, Davin memilih jalan yang tidak umum, yaitu tidak pinjam uang dari bank sama sekali. "Semua bisnis aku pakai uang tunai. Enggak pernah ambil kredit," katanya santai.

Modalnya datang dari gaji yang ia sisihkan selama bertahun-tahun, lalu diputar ke investasi. "Saya kerja terus dari muda, menabung, terus berinvestasi di sana-sini," ujarnya.

Sebagian besar investasinya ada di saham, baik di Jerman maupun Indonesia, tapi ia dengan cepat menegaskan: Itu bukan jalan instan. Harus cerdik dalam menanam saham. Menanam saham harus dipelajari, "Kalau enggak belajar, ya jadi kayak judi, tapi kalau dipelajari, ya bukan judi."

Ia juga jujur soal realita: "Rugi juga pernah. Bahkan sering di awal, tapi ya dari situ kita juga belajar dari kesalahan."

'Ditindas' justru jadi sekolah bisnis

Salah satu bagian paling menentukan dalam hidupnya justru datang dari pengalaman kerja yang tidak menyenangkan. "Awalnya aku ditindas sama atasan," katanya. Namun, Davin justru bersyukur saat mengingatnya, karena menurutnya itu malah menjadi "sekolah gratis".

"Disuruh ini-itu yang sebenarnya bukan tugas aku, tapi dari situ aku jadi mengerti cara mengelola restoran," ujarnya. Mulai dari suplai barang, pembukuan, sampai marketing, semua ia pelajari dari pengalaman langsung. "Jadi ya aku nikmati saja penindasan itu sebagai arena belajar bisnis," katanya sambil terkekeh-kekeh.

Pandemi jadi peluang

Saat pandemi COVID-19 membuat banyak restoran tutup, Davin justru masuk ke usaha kuliner. "Waktu orang jual restoran murah, aku malah beli," katanya.

Keputusan yang terlihat nekat itu ternyata menjadi titik lompat besar. Dalam empat tahun, ia punya empat restoran di Berlin.

Target hidup, circle, dan stres yang 'diatasi dengan mandi'

Jauh sebelum sukses, Davin sudah punya target jelas: Pada usia 30 harus punya bisnis sendiri. "Aku selalu pasang target," sebutnya.

Selain target, ia menekankan satu hal yang menurutnya sangat penting, yaitu lingkaran pergaulan. "Circle itu penting banget. Lebih baik punya lingkungan yang saling dorong maju, daripada cuma nongkrong-nongkrong terus di kafe, banyak menghabiskan waktu di taman kota, bersantai-santai.... buat aku pribadi bukan hanya sayang waktunya yang terbuang, tapi jika pertemanannya enggak produktif atau positif, malah bisa bahaya," ujarnya.

Banyak orang mungkin memilih cara itu buat menghilangkan stres, tapi Davin punya pemikiran lain. "Hal-hal itu bisa mengurangi stres? Ya enggaklah, itu hanya sesaat saja. Buat saya pertemanan sangat penting. Kalau pergaulannya salah, bukannya bisa cari duit malah habis duit. Percaya deh,"' katanya.

Saat ditanya soal stres, jawabannya cukup tidak terduga. "Aku kalau stres? Mandi," katanya sambil tertawa. "Di situ aku bersihkan diri, jadi segar dan bisa dapat ide-ide baru saat mandi."

52 karyawan, 14 jam kerja, tanpa hari libur

Kini bisnisnya mempekerjakan lebih dari 50 orang. Meski begitu, ia tidak khawatir kalau karyawannya nanti jadi pesaing. "Enggak apa-apa. Kita bisa sama-sama maju," tegasnya.

Rutinitasnya pun masih padat. Ia bekerja 12–14 jam sehari, hampir tanpa hari libur. "Soalnya saya ingin financial freedom di usia muda. Senang kan, bisa memetik manfaatnya semuda mungkin? Enggak perlu nunggu di atas usia 40 tahun, saat orang-orang lain menghadapi krisis paruh baya dengan melakukan hal yang kadang di luar nalar karena merasa tidak cukup," ucapnya.

Sebagai bagian dari sandwich generation, Davin merasa bertanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga di Indonesia.

Tiga kunci versi Davin

Untuk anak muda yang ingin merantau atau mulai usaha, Davin merangkum semuanya jadi tiga hal sederhana: "Pergaulan yang sehat dan sama-sama mau maju, target hidup yang jelas. Juga. kerja keras."

Davin masih belum sepenuhnya merasa "sudah sampai". Karena bagi dirinya, bisnis empat restoran di Berlin baru "awal perjalanan" dan hanya hasil dari banyak keputusan kecil: Kerja part-time, belajar dari pengalaman pahit, investasi, dan keberanian mengambil risiko saat orang lain mundur.

Banyak orang lain juga berbisnis. Davin senang jika diaspora lain sukses dalam hidupnya. "Penting bersaing secara sehat, bukannya malah menjahati atau merugikan orang lain," jelasnya.

Saking sibuknya, Davin pun bercerita tak pernah ada waktu mencari pasangan. Ia hanya bisa berharap calon pasangannya kelak bisa cocok dengan kehidupannya yang super sibuk dan setia. "Itu kriteria yang biasa saja kan, ya. Namun, jika yang mendasar seperti itu saja seseorang enggak bisa penuhi, ya susah. Kita kan sama-sama mau maju," tandasnya. Kesibukan baginya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran maupun tindakan negatif.

"Butuh proses sampai di titik ini. Jangan berpikir untuk mendapat sesuatu dengan cara instan," ucapnya. Ia ingin membuktikan dengan disiplin mengelola keuangan, berani mengambil peluang, dan terus belajar dari pengalaman—termasuk pengalaman pahit—seseorang bisa mewujudkan mimpi memiliki jaringan restoran di salah satu kota terbesar di Eropa.

Editor: Prita Kusumaputri

Lihat juga Video: Cobain Masakan Restoran Indonesia di Berlin

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini