Para pemimpin perusahaan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) menyerukan pengawasan yang lebih ketat terhadap perkembangan teknologi tersebut. Namun, Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump dan Kongres belum menunjukkan langkah cepat untuk meresponsnya.
CEO Anthropic, Dario Amodei, CEO OpenAI, Sam Altman, dan Elon Musk dari xAI menyampaikan kekhawatiran tentang perkembangan AI yang terlalu cepat. Namun, Trump pada Senin (14/9) menyebut kekhawatiran terhadap AI dan pembangunan pusat data sebagai bagian dari "konspirasi sakit". Perbedaan sikap ini menunjukkan adanya jarak antara kekhawatiran para pemimpin industri teknologi dan respons politik di Washington.
Amodei meminta perusahaan AI memperlambat pengembangan teknologi mereka. Dalam esai yang dibagikan pada Sabtu (12/9), ia memperingatkan bahwa dalam enam hingga 12 bulan, agen AI "bisa saja mampu mengambil alih seluruh internet dan berpotensi menyebabkan kerugian hingga ratusan miliar dolar".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Altman mengatakan sepakat dengan Amodei. Ia juga menilai risiko kepunahan manusia akibat AI sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima".
Ancaman AI bagi kemanusiaan
Kekhawatiran terhadap penyalahgunaan AI meningkat setelah peneliti Anthropic, Jacob Coxon, mengundurkan diri dan mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan AI "mempertaruhkan hidup kita". Beberapa hari kemudian, Anthropic merilis laporan intelijen ancaman yang menyebut model Claude miliknya telah digunakan dalam aktivitas mulai dari pengembangan senjata dan operasi siber hingga pengawasan dan penipuan.
Namun, sebagian investor menilai peringatan tersebut berlebihan. Michael Burry, investor yang dikenal karena bertaruh melawan pasar perumahan AS sebelum krisis finansial 2008, menyebut peringatan dari Anthropic dan OpenAI sebagai "gembar-gembor dan bualan".
Di Washington, kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah untuk merespons perkembangan AI juga muncul dari Max Stier, presiden dan CEO Partnership for Public Service.
"Sinyal yang kita terima dari para pemimpin politik tidak menunjukkan pemahaman mengenai krisis yang, menurut saya, memang sedang kita hadapi," kata Stier. "Penundaan akan terbukti sangat mahal."
Trump dan Kongres berbeda sikap
Sejumlah anggota DPR AS atau yang dikenal dengan Kongres mulai mendorong regulasi, meski belum ada tanda bahwa legislasi tersebut akan segera disahkan. Pemimpin Mayoritas Senat John Thune mengatakan pada Sabtu (12/9) bahwa ia berbicara dengan Senator Demokrat Amy Klobuchar mengenai "jalan ke depan" untuk rancangan undang-undang AI.
"Anda tidak ingin menghambat inovasi, tetapi saya pikir Anda juga ingin memastikan bahwa ancaman yang lebih maju dapat dimitigasi dan bahwa ada kemampuan serta tempat untuk melakukannya," kata Thune.
Senator Republik John Kennedy mengatakan akan mengajukan aturan yang disebut "kill switch" yang mewajibkan pengembang memiliki kemampuan untuk mematikan sistem AI jika diperlukan.
Senator Josh Hawley juga mengatakan bahwa perlindungan masyarakat harus menjadi bagian dari kebijakan AI. "Kita perlu melindungi pekerja. Kita perlu melindungi anak-anak secara daring. Kita perlu melindungi orang-orang yang terancam oleh pusat data," kata Hawley.
"Kita juga harus memastikan bahwa model-model terdepan ini tidak akan meledakkan internet dan dunia," lanjutnya.
Namun, waktu Kongres untuk bergerak semakin terbatas menjelang pemilu pada November. Ketua Kongres AS Mike Johnson juga tidak menunjukkan urgensi untuk segera menyusun undang-undang. Ia menyerukan agar Trump mengundang para pemimpin perusahaan AI untuk membahas persoalan tersebut. "Refleks lembaga legislatif adalah menutup berbagai hal dengan birokrasi dan regulasi yang berlebihan," kata Johnson.
Sementara itu, Trump tampak menjadi hambatan terhadap kemungkinan regulasi lebih ketat. Para pemimpin industri yang sebelumnya menyerukan pengawasan harus menghadapi sikap presiden yang menolak kekhawatiran tersebut.
Senator Mark Warner, politikus Demokrat dari Virginia dan mantan eksekutif teknologi, mengatakan Kongres memiliki rekam jejak yang lambat dalam merespons persoalan besar.
"Kita tidak pernah melakukan apa pun sampai kita mengalami momen 'astaga'," katanya.
Peringatan meningkat, regulasi belum pasti
Perdebatan regulasi AI turut memicu kekhawatiran terkait ekonomi dan keamanan. Saham terkait AI merosot pada Senin (14/9), dengan Nasdaq 100 turun 1,2 persen dan indeks chip Philadelphia turun 5,1 persen. Nvidia turun 3,6 persen, AMD 5,6 persen, dan Micron 6 persen.
Steve Sosnick dari Interactive Brokers mengatakan bahwa perlambatan investasi AI dapat berdampak pada ekonomi dan pasar saham. "Pada dasarnya, selama ini kita bergerak berdasarkan pengeluaran AI," katanya. Namun, Deutsche Bank menilai persaingan AI antar perusahaan dan antarnegara masih kuat sehingga sulit membayangkan perusahaan memperlambat pengembangan secara sukarela.
Bill Gates mengatakan pemerintah dunia belum siap menghadapi perubahan akibat AI. "Saya tidak berpikir pemerintah mana pun sudah cukup mendalami persoalan ini seperti yang seharusnya," katanya kepada Reuters. Gates Foundation juga akan mengalokasikan setidaknya $1 miliar (sekitar Rp17,7 triliun) dalam dua tahun untuk memperluas akses AI di bidang pendidikan, kesehatan dan pertanian.
AS dan China diperkirakan akan membahas keselamatan AI dalam perundingan bilateral bulan ini. Namun, Global Times mengkritik seruan Amodei sebagai "buku pedoman Perang Dingin" yang bertujuan membatasi perkembangan teknologi China.
Editor: Rizki Nugraha
Lihat juga Video: AI Bisa Habiskan Air Bumi dalam Jumlah Besar, Kok Bisa?










































