Keluarga-keluarga di Nepal pada Rabu (02/09) menggelar pemakaman simbolis untuk "membebaskan jiwa" kerabat mereka yang masih hilang, sepekan setelah banjir bandang dahsyat menyapu desa-desa dan rumah-rumah di kawasan Himalaya.
Tim darurat sejauh ini telah menemukan lebih dari 1.100 jenazah, sementara hampir 4.500 orang masih dinyatakan hilang setelah gelombang raksasa air beku, bebatuan, dan puing-puing yang dipicu runtuhnya gletser di ketinggian tinggi menerjang perbatasan Cina-Nepal pada 26 Agustus.
Setelah berhari-hari menyisir tempat penampungan dan kamar jenazah tanpa hasil, sebagian keluarga korban yang hilang mulai kehilangan harapan dan memilih menggelar upacara terakhir, membakar boneka jerami dalam ritual Hindu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harus melakukan ini untuk membebaskan jiwanya, agar ia tenang dan bahagia di mana pun ia berada," kata Dolma Newar Tamang, diapit putranya yang terisak, dalam pemakaman untuk sang suami.
Suaminya sedang dalam perjalanan menuju Cina ketika bencana itu terjadi.
"Saya melihat beritanya dan langsung menelepon dia," katanya kepada AFP. "Saya menelepon berulang kali, tapi dia tidak pernah mengangkat."
Sepekan setelah bencana kolosal ini, tim penyelamat Nepal masih mencari korban selamat, termasuk dengan menggali lumpur padat yang telah mengurung beberapa terowongan pembangkit listrik tenaga air. Sejauh ini, penyelamat hanya menemukan jenazah dari dalam terowongan, meski tim masih terus menggali, mengebor, dan meledakkan puing-puing.
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan ia masih berharap sebagian yang hilang bisa ditemukan hidup.
"Mukjizat memang terjadi," katanya kepada AFP. "Pada titik ini, saya tidak mau sepenuhnya menyerah pada harapan."
'Tanggung jawab global'
Kemarahan kian membesar atas skala kehancuran yang menimpa Nepal, negara yang sebagian besar bersifat pedesaan dengan 30 juta penduduk. Negara ini hanya menyumbang sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang mendorong pemanasan global, namun termasuk di antara mereka yang paling merasakan dampaknya.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah memperingatkan bahwa bencana ini merupakan "indikasi serius" atas risiko yang dihadapi negara Himalaya tersebut.
Para ilmuwan mengatakan Himalaya, rangkaian pegunungan tertinggi di dunia, memanas dengan cepat seiring naiknya suhu global, yang mempercepat pencairan gletser. Gletser di kawasan Himalaya dan Hindu Kush yang lebih luas merupakan sumber air vital bagi sekitar 240 juta orang di kawasan pegunungan, serta 1,65 miliar orang lainnya di lembah-lembah sungai Asia Selatan dan Asia Tenggara.
"Perubahan iklim adalah kontribusi global, dan respons terhadap bencana juga merupakan tanggung jawab global," kata Shah dalam sebuah unggahan media sosial.
Kathmandu memperingatkan bahwa biaya rekonstruksi bisa mencapai miliaran dolar. Nepal, yang bulan ini menandai satu tahun sejak protes massal mematikan atas korupsi yang merajalela dan kondisi ekonomi yang memprihatinkan menggulingkan pemerintahan sebelumnya, memiliki sumber daya terbatas untuk merespons bencana sebesar ini.
Sebagai gambaran skala kehancuran, media pemerintah Cina melaporkan bahwa akses jalan menuju Gyirong Port yang terdampak parah di Tibet akhirnya dipulihkan pada Rabu setelah "pekerjaan perbaikan siang dan malam selama berhari-hari."
Pemakaman massal
Dengan kamar jenazah yang sudah meluap di Nepal, pihak berwenang terpaksa menguburkan ratusan jenazah yang belum teridentifikasi setelah pengambilan sampel DNA.
Nepal melaporkan 1.114 jenazah telah ditemukan hingga Rabu (02/09), sementara 3.916 orang masih hilang. Media pemerintah Cina melaporkan 16 orang tewas dan 546 hilang. Secara keseluruhan, total korban tewas yang dilaporkan mencapai 1.130 orang, dengan 4.462 orang hilang.
Lebih dari 800 warga negara asing dari lebih dari 30 negara termasuk dalam daftar orang hilang: 583 di Nepal dan 261 di Cina. Mereka termasuk wisatawan yang datang untuk mendaki Himalaya, serta peziarah Hindu yang mencari ketenangan spiritual di Gunung Kailash yang sakral di Tibet.
Setidaknya 17 jenazah juga telah ditemukan di sungai-sungai hilir di India.
Di Cina, jurnalis asing dibatasi untuk meliput di Tibet, dan pihak berwenang Cina memegang kendali ketat atas sumber-sumber informasi di kawasan tersebut. Kelompok-kelompok advokasi Tibet di pengasingan mempertanyakan versi Cina tentang bencana ini, namun Beijing menegaskan bahwa "penyampaian informasi telah dilakukan secara terbuka, transparan, dan tepat waktu."
Editor: Rizki Nugraha
Simak juga Video 'China Buka Jalur Pelabuhan Gyirong Seminggu setelah Banjir Nepal':










































