Pakistan di Lingkar Keamanan Teluk, Haruskah India Cemaskan Pakta Makkah?

Pakistan di Lingkar Keamanan Teluk, Haruskah India Cemaskan Pakta Makkah?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 20 Agu 2026 09:07 WIB
PM Pakistan Shehbaz Sharif bersama Putera Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan usai ratifikasi Pakta Pertahanan di Makkah, Jumat (7/8) (Saudi Press Agency/APA Images/ZUMA/picture alliance)
PM Pakistan Shehbaz Sharif bersama Putera Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan usai ratifikasi Pakta Pertahanan di Makkah, Jumat (7/8) (Saudi Press Agency/APA Images/ZUMA/picture alliance)
New Delhi -

Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan diteken pada 7 Agustus silam, di tengah Perang Iran dan goyahnya struktur keamanan di Timur Tengah.

Arab Saudi mencari mitra baru karena tingginya ketidakpastian soal apakah payung keamanan Amerika Serikat bisa diandalkan. Turki mengincar peran regional yang lebih besar, sedangkan Pakistan berupaya memanfaatkan hubungan militer, yang telah lama terjalin dengan Riyadh, demi memperluas pengaruh di kawasan strategis.

Perjanjian itu mengatur pertahanan kolektif. Serangan bersenjata terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesepakatan tersebut juga meresmikan hubungan yang sebenarnya telah terjalin. Pakistan selama puluhan tahun melatih dan membantu pasukan Arab Saudi, sementara hubungan pertahanan dengan Turki berkembang melalui pertukaran militer dan kerja sama.

Bagi pemerintah di New Delhi, pertanyaannya apakah pakta Makkah memberi keunggulan strategis bagi musuh bebuyutannya itu, di kawasan yang vital bagi kepentingan India.

ADVERTISEMENT

Pakta tak banyak mengubah situasi di lapangan

Sejumlah analis India belum melihat goyahnya keseimbangan regional dalam waktu dekat. Sebagian lainnya memandang pakta Makkah sebagai peringatan bahwa India membutuhkan kehadiran militer yang lebih kentara di kawasan dengan kepentingan ekonomi tinggi.

Arab Saudi merupakan mitra energi dan investasi utama bagi New Delhi. Teluk dan Laut Merah sangat penting bagi perdagangan serta ketahanan energi India.

Pakta itu memungkinkan Pakistan memperluas peran keamanannya di Teluk, sekaligus menyediakan kerangka kelembagaan bagi kerja sama pertahanan yang lebih erat dan, berpotensi, membuka akses yang lebih besar bagi pendanaan serta teknologi.

Namun mantan Komisaris Tinggi India untuk Pakistan, Ajay Bisaria, menilai perjanjian tersebut akan berdampak kecil terhadap dinamika dasar konfrontasi India-Pakistan.

"Pakta Makkah tak lebih berharga dari kertas yang digunakan untuk menulisnya," kata Bisaria kepada DW.

"Pakta itu tidak banyak mengubah keadaan dibandingkan pakta pertahanan Saudi-Pakistan tahun lalu, sebuah pengaturan yang hanya terbukti memiliki nilai simbolis bagi Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Saat itu Riyadh sedang terguncang oleh rapuhnya payung keamanan Amerika," ujarnya.

Jika kelak terjadi krisis India-Pakistan, mantan duta besar itu tidak memperkirakan pakta tersebut akan mengubah posisi Arab Saudi.

"Bagi India, pakta ini perlu dipantau, tapi bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan," kata Bisaria.

"Jika terjadi lagi serangan teroris dari Pakistan, situasinya kemungkinan tidak akan jauh berbeda dari Operasi Sindoor, kecuali mungkin retorika yang lebih keras," ujarnya. Ia merujuk pada nama operasi yang dilancarkan India sebagai respons terhadap serangan terhadap wisatawan di Kashmir pada 2025, yang oleh New Delhi dituduhkan kepada militan yang didukung Pakistan. Islamabad membantah terlibat dalam serangan tersebut.

"Turki akan terus memasok drone dan peralatan kepada Pakistan. Sementara itu, Saudi, alih-alih terburu-buru memosisikan diri sebagai pembela Pakistan, kemungkinan lebih memilih menawarkan jasa mereka, secara lebih vokal, sebagai mediator," katanya.

Tak ada kekhawatiran langsung bagi India

Tara Kartha, mantan anggota Sekretariat Dewan Keamanan Nasional India, menilai India tak perlu membesar-besarkan arti penting perjanjian tersebut.

"India tidak perlu terlalu mengkhawatirkan pakta Mekkah. Arab Saudi dan Turki nyaris tidak melihat kami sebagai pesaing strategis atau 'musuh'," kata Kartha kepada DW.

Sebagian besar hubungan militer Pakistan-Turki, kata Kartha, sebenarnya sudah ada. "Industri pertahanan Turki yang tangguh tentu akan tersedia bagi para pihak dalam pakta ini," ujarnya.

"Namun Pakistan dan Turki sudah memiliki hubungan pertahanan yang kuat, termasuk pengembangan bersama pesawat Kaan. Jadi, di lapangan sebenarnya tidak ada yang berubah, kecuali kemungkinan meningkatnya pendanaan bagi anggaran pertahanan Pakistan. Itu tentu masalah yang tidak mudah dihindari," katanya.

Kekhawatiran yang lebih mendesak bagi India mungkin adalah apakah sumber daya Saudi dan teknologi Turki dapat memperkuat kemampuan militer Pakistan dalam jangka panjang.

Hubungan India dengan Arab Saudi

Di luar persaingan India-Pakistan, pakta tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai hubungan India dengan Arab Saudi.

Kerajaan di Riyadh telah membangun hubungan yang luas dengan India, mencakup energi, investasi, perdagangan, dan hubungan politik. Upaya Arab Saudi mendiversifikasi kemitraan keamanannya tidak serta-merta berarti memilih Pakistan ketimbang India.

Analis geopolitik Harsh Pant, wakil presiden Observer Research Foundation yang berbasis di Delhi, mengatakan kepada DW bahwa India sebaiknya merespons secara hati-hati, tetapi tidak pasif.

"Perbedaan kepentingan strategis di antara ketiga anggota dapat membatasi kekompakan pakta ini. Namun New Delhi harus memanfaatkan hubungannya sendiri dengan Riyadh untuk memperdalam kerja sama keamanan, intelijen, dan ekonomi," kata Pant.

Hubungan bilateral yang lebih erat dengan Arab Saudi, ujarnya, dapat membantu memastikan peran baru Pakistan tidak berubah menjadi pengaruh yang tidak proporsional di Teluk.

New Delhi juga harus mengawasi dimensi militer dengan cermat. Jika drone, rudal, sistem peperangan elektronik, atau teknologi pertahanan Turki lainnya semakin mudah diperoleh Pakistan, perhitungan keamanan India di wilayah barat dapat berubah.

Peringatan bagi India?

Randhir Jaiswal, juru bicara Kementerian Luar Negeri India, mengatakan New Delhi sedang mengkaji implikasi pakta tersebut "dari perspektif keamanan nasional India serta pertimbangan mengenai perdamaian dan stabilitas kawasan."

"India tetap berkomitmen penuh untuk melindungi kepentingan nasionalnya dan akan mengambil semua langkah yang diperlukan dalam hal ini," katanya.

Pakar strategi C. Raja Mohan mengatakan kepada DW bahwa perjanjian trilateral tersebut menunjukkan persoalan yang lebih besar dalam pendekatan India terhadap Teluk. Ketergantungan ekonomi India pada kawasan itu telah meningkat pesat, sementara kehadiran keamanannya relatif terbatas, ujarnya.

"Bagi India, ini seharusnya menjadi peringatan bahwa New Delhi tidak bisa terus menjadi pemain yang terutama mengandalkan diplomasi dan ekonomi di Teluk. India membutuhkan jangkauan militer yang lebih besar di kawasan itu serta hubungan keamanan dan pertahanan yang lebih dalam dan praktis dengan negara-negara Timur Tengah secara individual," kata Mohan.

Dia melihat kesenjangan yang kian melebar antara kepentingan India dan kehadiran keamanannya.

"Kesenjangan antara kepentingan ekonomi India dan kehadiran militer-keamanannya yang terbatas semakin sulit diabaikan," ujarnya.

India dapat memperdalam kerja sama pertahanan dan intelijen dengan Arab Saudi serta negara-negara Teluk lainnya, memperkuat keamanan maritim di Laut Arab dan Laut Merah, serta mengawasi dengan saksama kerja sama militer Pakistan-Turki.

Mohan, profesor Kajian Amerika di Jindal Global University, melihat perjanjian itu terutama sebagai upaya Arab Saudi memperluas pilihan strategisnya.

"Saya melihatnya lebih sebagai bukti bahwa negara-negara Arab masih belum mampu membangun sistem keamanan regional yang dapat diandalkan. Yang penting, ini menunjukkan Arab Saudi sedang melakukan lindung nilai terhadap ketidakpastian mengenai keandalan payung keamanan Amerika Serikat," kata Mohan.

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: Kilas Balik Konflik India-Pakistan, Ternyata Sejak 1947

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini