Video itu dipublikasikan pada awal Desember 2025, tak lama setelah milisi pemberontak Pasukan Dukungan Cepat (RSF) merebut Kota Babanusa di Sudan, yang tampaknya juga melibatkan tentara anak. Jaringan investigasi Bellingcat berhasil membuktikan bahwa beberapa video tersebut memang direkam langsung di Babanusa.
Belakangan ini, banyak video tentara anak di Sudan menjadi viral di media sosial, terutama di platform TikTok. Sebagian besar direkam sendiri oleh anak-anak tersebut menggunakan kamera ponsel dan ditonton jutaan kali, ujar jurnalis Bellingcat, Sebastian Vandermeersch.
Ia menemukan video-video itu secara tidak sengaja saat meneliti kejahatan perang di Sudan: "Saya menemukan seluruh jaringan akun di TikTok yang membagikan konten tentang tentara anak," ujarnya. "Tentara anak sebagai influencer adalah fenomena yang benar-benar baru."
Anak-anak Sudan paling terdampak perang
Perang di Sudan yang dimulai tiga tahun lalu merupakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Hampir 14 juta orang telah mengungsi, lebih dari empat juta mencari perlindungan di negara-negara tetangga. Sekitar 34 juta orang bergantung pada bantuan kemanusiaan, demikian menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa. Itu artinya setara dengan 65% populasi.
Anak-anak menjadi kelompok yang paling menderita, tegas Kamal Eldin Bashir dari organisasi Save the Children di Sudan: "Mereka mengalami pengungsian, terpisah dari keluarga, kekurangan akses pendidikan, dan terutama layanan kesehatan—ditambah lagi dengan malnutrisi yang mempengaruhi sangat banyak anak," jelasnya.
Yang paling rentan adalah anak-anak tanpa pendamping yang berada di kamp pengungsian tanpa orang tua. Menurut data UNICEF, sekitar 42.000 anak telah terdaftar. Sebagian besar kehilangan orang tua saat melarikan diri atau akibat pengeboman, papar Bashir, seraya menegaskan: "Mereka berisiko direkrut untuk perang."
Terutama milisi RSF diketahui memanfaatkan banyak tentara anak, ujar Kepala Tim Penyelidik PBB untuk Sudan Mohamed Othman,: "Mereka digunakan dalam berbagai peran, misalnya di pos pemeriksaan jalan, tetapi juga untuk kegiatan spionase." Padahal, penggunaan anak di bawah usia 15 tahun dalam konflik bersenjata tergolong kejahatan perang menurut Statuta Roma, dasar yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag.
"Anak singa" dengan trauma berat
Di dunia maya, anak-anak ini sering disebut "anak singa" atau "bayi singa". Istilah ini sudah digunakan dalam konflik-konflik sebelumnya di Sudan maupun negara sekitarnya. Di Sudan Selatan dan Uganda, ribuan anak pernah dikerahkan di garis depan.
Tentara anak ini pada akhirnya mengalami trauma berat dan membawa dampaknya seumur hidup, ujar Bashir dari Save the Children. "Menurut statistik, hingga 50% anak di Sudan menderita gangguan stres pascatrauma," ujarnya. "Ini angka yang sangat mengkhawatirkan." Pada anak-anak yang direkrut untuk ikut bertempur secara langsung, angkanya bahkan lebih tinggi.
Trauma dapat muncul dalam berbagai gejala, seperti mimpi buruk dan penurunan prestasi di sekolah. "Namun, untuk menangani semua anak ini, kami kekurangan fasilitas kesehatan khusus yang memahami masalah ini," kata Bashir. Dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.
Konsekuensi berat bagi masa depan
Jika anak-anak ini tidak mendapatkan penanganan, dampaknya akan sangat buruk bagi seluruh masyarakat, tegas Victor Ochen. Warga Uganda ini adalah direktur organisasi AYNET, yang fokus pada rehabilitasi mantan tentara anak, salah satu dari sedikit lembaga semacam itu di Afrika. Baru-baru ini, Ochen juga melatih para psikolog dari Sudan. Ia menilai fenomena glorifikasi tentara anak sebagai "pahlawan perang" sangat mengkhawatirkan. "Mereka bisa disalahgunakan sebagai alat propaganda oleh pihak-pihak yang berperang," ujarnya.
Ochen sendiri tumbuh di Uganda saat perang saudara dan saudaranya direkrut paksa oleh kelompok pemberontak Lord's Resistance Army (LRA). Dari pengalamannya, ia tahu bahwa perang sering membentuk generasi berikutnya. Dalam sebuah studi regional atas mandat Uni Afrika, AYNET menemukan bahwa kawasan tersebut, termasuk Sudan, mengalami siklus berulang konflik sipil yang brutal. Alasannya, kata Ochen: "Banyak anak mengalami perang, melihat orang tua mereka dibunuh. Ketika mereka 10 hingga 15 tahun lebih tua dan sudah dewasa, mereka siap membalas." Dengan demikian, trauma terus berlanjut lintas generasi.
Jurnalis investigatif Vandermeersch telah mengonfrontasi TikTok terkait video-video tersebut. Namun, platform itu merespons dengan sangat lambat. "Setelah 48 jam, akun-akun itu masih aktif," katanya. Baru setelah artikelnya dipublikasikan, semua akun yang dilaporkan ditutup. Namun, tak lama kemudian, ia kembali harus melaporkan akun-akun baru.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
Simak juga Video '1.283 Faskes Kena Serangan Konflik di Sejumlah Negara Sepanjang 2025':
(ita/ita)











































