India-Uni Eropa Sepakati Perjanjian Dagang 'Mother of All Deals'

India-Uni Eropa Sepakati Perjanjian Dagang 'Mother of All Deals'

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 28 Jan 2026 17:05 WIB
India-Uni Eropa Sepakati Perjanjian Dagang Mother of All Deals
Jakarta -

India dan Uni Eropa akhirnya mencapai kesepakatan dagang yang telah dinegosiasikan selama hampir dua dekade. Perjanjian ini akan memangkas tarif atas sebagian besar barang, dengan tujuan meningkatkan perdagangan dua arah serta mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global.

Perjanjian yang dinilai akan mempengaruhi nasib 2 miliar orang ini resmi disepakati pada Selasa (27/01) oleh pimpinan eksekutif Uni Eropa. Traktat ini disebut sebagai "mother of all deals", perjanjian yang akan membuka perdagangan bebas untuk hampir seluruh barang antara 27 negara anggota Uni Eropa dan India.

Cakupannya meliputi sektor tekstil hingga obat-obatan, sekaligus memangkas bea masuk tinggi untuk anggur dan mobil asal Eropa. Namun, implementasi perjanjian ini diperkirakan baru akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemangkasan tarif besar-besaran

Uni Eropa optimis kesepakatan ini akan melipatgandakan ekspor Blok tersebut ke India pada 2032 dengan menghapus atau menurunkan tarif terhadap 96,6% dari barang yang diperdagangkan berdasarkan nilai. Langkah ini, kata pihak UE, juga diproyeksikan akan menghasilkan penghematan sekitar 4 miliar euro (sekitar Rp68 triliun) per tahun bagi bea masuk perusahaan Eropa.

Sebagai imbalannya, Brussel akan memangkas tarif atas 99,5% barang impor dari India secara bertahap selama tujuh tahun. Kementerian Perdagangan India menyebut tarif akan diturunkan hingga nol untuk produk kelautan, kulit, tekstil, bahan kimia, karet, logam dasar, serta permata dan perhiasan asal India.

ADVERTISEMENT

Meski cakupannya luas, kedua pihak sepakat mengecualikan sejumlah produk sensitif dalam perjanjian, misalnya kedelai, daging sapi, gula, beras, dan produk susu.

India juga mengecualikan sereal, susu, dan keju karena "sensitivitas domestik", sementara Uni Eropa menolak tarif preferensial atau lebih rendah untuk gula, daging, unggas, dan daging sapi asal India.

"Mother of all deals"

Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut kesepakatan ini sebagai terobosan bersejarah.

"Kemarin, sebuah kesepakatan besar ditandatangani antara Uni Eropa dan India. Orang-orang di seluruh dunia menyebutnya sebagai 'mother of all deals.' Perjanjian ini akan membawa peluang besar bagi 1,4 miliar penduduk India dan jutaan orang di Eropa," ungkap Perdana Menteri India Narendra Modi.

Dalam konferensi pers bersama di New Delhi dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antnio Costa, Modi mengatakan kemitraan dengan Uni Eropa "akan memperkuat stabilitas dalam sistem internasional" di tengah "kekacauan tatanan global."

"Eropa dan India sedang mencetak sejarah hari ini. Kami telah menyelesaikan mother of all deals," kata Ursula von der Leyen lewat akun X nya.

Dalam pidato selanjutnya, Ursula von der Leyen menyebut kesepakatan tersebut sebagai kisah "dua raksasa" yang memilih kemitraan "dalam semangat win-win yang sesungguhnya." Dia juga menegaskan bahwa perjanjian ini mengirimkan "pesan kuat bahwa kerja sama adalah jawaban terbaik atas tantangan global."

Membuka sektor yang selama ini dilindungi

Kesepakatan ini akan membuka akses ke pasar India yang selama ini dikenal sangat protektif. Menurut pernyataan Uni Eropa, India akan memangkas tarif impor mobil, dari sebelumnya bisa mencapai 110% menjadi 10% dalam lima tahun.

Kebijakan ini diproyeksikan menguntungkan produsen otomotif Eropa seperti Volkswagen, Renault, Mercedes-Benz, dan BMW.

Kedua pihak menyebutkan, tarif yang lebih rendah tersebut akan berlaku untuk 250.000 unit mobil per tahun dengan nilai di atas 15.000 euro. Begitu kesepakatan mulai diterapkan, tarif impor kendaraan juga akan langsung dipangkas ke kisaran 30 hingga 35%.

Selain itu, India juga akan memangkas tarif impor anggur dari sebelumnya 150% menjadi 75% secara langsung, yang selanjutnya akan diturunkan secara bertahap hingga 20%. Sementara itu, Uni Eropa menyebut tarif impor minuman keras akan dipangkas menjadi 40%.

Kesepakatan ini, sambung pihak Uni Eropa, juga mencakup penurunan tarif untuk sejumlah produk UE yang masuk ke India, termasuk mesin, peralatan listrik, bahan kimia, serta besi dan baja.

Tekanan AS percepat kesepakatan

Perundingan India dan UE kembali mendapatkan momentum setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif hingga 50% atas sejumlah produk India dan ketika para sekutu AS menolak ancaman tarif Trump serta upayanya mengambil alih Greenland.

Selain perdagangan, India dan Uni Eropa juga menyepakati kerangka kerja sama yang lebih dalam di bidang pertahanan dan keamanan, serta pakta terpisah untuk mempermudah mobilitas tenaga kerja terampil dan pelajar. Langkah ini menandakan bahwa kemitraan kedua pihak tidak terbatas pada isu ekonomi semata.

Nilai perdagangan India dan Uni Eropa tercatat mencapai 136,5 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2024-2025, lebih tinggi dibandingkan perdagangan India dengan Amerika Serikat maupun Cina. Menurut pejabat India, kedua pihak menargetkan peningkatan nilai perdagangan hingga sekitar 200 miliar dolar AS (sekitar Rp3.343 triliun) pada 2030.

Penandatanganan resmi perjanjian ini akan dilakukan setelah proses peninjauan hukum yang diperkirakan memakan waktu lima hingga enam bulan.

"Kami memperkirakan kesepakatan ini akan diterapkan dalam waktu satu tahun," kata seorang pejabat pemerintah India, dikutip dari Reuters.

Pajak karbon dan dukungan iklim

Kendati sudah mencapai kesepakatan, tapi perjanjian ini belum memberikan keringanan langsung bagi perusahaan India yang terdampak Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) atau mekanisme pajak karbon Uni Eropa, yang mulai berlaku pada 1 Januari 2026. Pajak ini mencakup baja, semen, listrik, pupuk, dan produk lainnya.

Pemerintahan Modi menyatakan bahwa mereka telah memperoleh komitmen dari Uni Eropa bahwa India akan menerima fleksibilitas terkait pajak karbon tersebut apabila fleksibilitas serupa diberikan kepada negara ketiga mana pun.

Secara terpisah, Uni Eropa sepakat memberikan dukungan finansial sebesar 500 juta euro (sekitar Rp8,4 miliar) dalam dua tahun ke depan untuk membantu India menurunkan emisi gas rumah kaca.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Didadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Muhammad Hanafi

Lihat juga Video: RI-Uni Eropa Akhirnya Sepakati Perjanjian Dagang IEU-CEPA

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads