Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menolak tuduhan Rusia bahwa Ukraina mencoba menyerang kediaman Vladimir Putin di wilayah Novgorod dan menyebutnya sebagai "kebohongan".
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Zelenskyy mengatakan bahwa Rusia berusaha melemahkan kemajuan yang dicapai dalam pembicaraan perdamaian Ukraina-AS dan sedang menyiapkan serangan terhadap gedung pemerintah Ukraina di Kyiv.
Zelenskyy menulis, "Kisah tentang 'serangan kediaman' ini sepenuhnya rekayasa yang bertujuan membenarkan serangan tambahan terhadap Ukraina, termasuk Kyiv, serta penolakan Rusia untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mengakhiri perang."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan bahwa dugaan serangan itu akan mengubah posisi negosiasi Moskow dan mengancam akan melakukan serangan balasan.
Ukraina membantah tuduhan itu. Duta Besar Ukraina untuk Turki, Andrii Sybiha, menulis di X, "Hampir sehari telah berlalu, dan Rusia masih belum memberikan bukti yang masuk akal atas tuduhannya tentang 'serangan terhadap kediaman Putin'. Dan mereka tidak akan bisa, karena tidak ada. Tidak ada serangan semacam itu terjadi."
Kyiv menilai tuduhan Rusia hanya dimaksudkan untuk melemahkan negosiasi perdamaian.
Trump ungkap percakapan dengan Putin
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memberi tahu dirinya pada Senin (29/12) bahwa Ukraina mencoba menyerang kediamannya. Kyiv membantah klaim Rusia tersebut.
Trump menyampaikan hal ini dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia mengatakan, "Saya tidak suka itu. Ini tidak baik," ketika ditanya apakah tuduhan itu bisa memengaruhi upayanya memediasi perdamaian di Ukraina.
Trump menambahkan, "Saya belajar tentang ini dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah tentang hal itu," dan menggambarkan pembicaraannya dengan Putin sebagai "percakapan yang sangat baik."
Trump juga menekankan, "Ini periode waktu yang sensitif. Satu hal jika mereka bersikap ofensif karena mereka memang ofensif. Tapi menyerang rumahnya? Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu."
Saat ditanya apakah ada bukti serangan tersebut, Trump menjawab, "Kita akan cari tahu."
Akankah rencana perdamaian terwujud?
Zelenskyy menyebut AS telah menawarkan "jaminan keamanan yang kuat" untuk Ukraina selama 15 tahun, meski nasib wilayah Donbas masih belum jelas. Jaminan ini akan menjadi bagian dari rencana perdamaian 20 poin yang dibahas dengan Trump.
"Janji sebelumnya, termasuk memorandum Budapest 1994 yang didukung AS dan Inggris, 'tidak berhasil'," kata Zelenskyy. Ia menekankan, keberadaan pengawas internasional pascaperang adalah bentuk keamanan terbaik bagi warga Ukraina.
Zelenskyy menambahkan, "Kami ingin jaminan itu lebih lama. Saya katakan kepada Trump bahwa kami ingin mempertimbangkan jaminan 30, 40, atau bahkan 50 tahun, dan itu akan menjadi keputusan historis oleh Presiden Trump." Trump menanggapi, "Saya akan memikirkannya."
Zelenskyy menegaskan Ukraina menolak menyerahkan wilayahnya kepada Rusia. "Tidak rahasia lagi bahwa Rusia ingin ini. Dalam fantasi mereka, mereka ingin kami tidak ada di wilayah negara kami sendiri," ujarnya.
Ia menawarkan zona demiliterisasi dan zona ekonomi bebas di sepanjang garis depan, dengan penarikan pasukan kedua pihak. Rencana ini bisa diajukan dalam referendum nasional jika Rusia setuju gencatan senjata minimal 60 hari.
Kremlin menegaskan Ukraina harus menarik pasukannya dari "sabuk benteng" di oblast Donetsk. Juru bicara Putin, Dmitry Peskov, memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, Ukraina akan kehilangan lebih banyak wilayah. Zaporizhzhia, yang dikuasai Rusia sejak invasi 2022, tetap menjadi titik krusial negosiasi.
Selain itu, Rusia menempatkan sistem rudal Oreshnik dengan kemampuan nuklir di Belarus. Kementerian Pertahanan Rusia menggelar upacara militer untuk menandai masuknya sistem ini ke dinas aktif. Kepala pasukan rudal Rusia menyatakan rudal Oreshnik memiliki jangkauan yang memungkinkan mencapai seluruh Eropa.
Penempatan rudal ini menambah ketegangan di tengah negosiasi yang belum menemukan terobosan, meskipun Trump menyebut kedua negara "lebih dekat dari sebelumnya" untuk mengakhiri perang.
Editor: Rizki Nugraha
Simak juga Video: Rumah Putin Diserang Puluhan Drone, Trump Sangat Marah











































