Infeksi COVID-19 di Korea Utara Diduga Capai 2 Juta Kasus

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 19:20 WIB
Kim Jong Un (DW)
Jakarta -

Korea Utara meningkatkan produksi pasokan medis di tengah wabah virus Corona yang tengah menghantam negara ini, kantor berita negara Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan pada hari Kamis (19/05).

Outlet berita Korea Utara itu melaporkan 262.270 kasus tambahan dengan gejala demam dan satu kasus kematian pada hari Rabu (18/05). Namun, pihaknya tidak melaporkan jumlah kasus yang dinyatakan positif COVID-19.

KCNA melaporkan setidaknya 740.160 orang telah dikarantina. Angka ini menandai dugaan infeksi Corona yang mendekati dua juta kasus, karena jumlah total kasus saat ini mencapai 1,98 juta. Setidaknya 63 orang dilaporkan telah meninggal akibat infeksi virus Corona ini.

Kekhawatiran atas kurangnya tes dan vaksin

Korea Utara secara resmi melaporkan wabah COVID-19 pada pekan lalu dan menghubungkan salah satu kematian dengan varian virus Omicron.

Pakar kesehatan mengatakan, Korea Utara tidak memiliki cukup alat tes untuk memastikan jumlah orang yang terinfeksi virus tersebut. Sejauh ini, Pyongyang juga belum menanggapi tawaran bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan negara lain.

Wakil Penasihat Keamanan Nasional Seoul mengatakan pada hari Rabu (18/05), bahwa Korea Selatan dan Amerika Serikat telah menawarkan untuk mengirim bantuan medis, tetapi belum ada tanggapan dari Pyongyang.

Pyongyang menggunakan obat-obatan tradisional

KCNA melaporkan pada hari Kamis (19/05), bahwa otoritas kesehatan meningkatkan produksi obat-obatan tradisional yang digunakan untuk mengurangi demam dan rasa sakit karena "efektif dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit berbahaya."

Sejumlah pabrik telah meningkatkan produksi alat suntik, obat-obatan, alat sterilisasi, dan termometer dengan "cara kilat". "Ribuan ton garam segera diangkut ke Pyongyang untuk menghasilkan larutan antiseptik," lapor KCNA, Kamis (19/05).

Pemerintah juga telah mengimbau masyarakat untuk menggunakan obat penghilang rasa sakit dan mengonsumsi obat rumahan yang tidak diverifikasi - seperti berkumur air garam atau minum teh daun willow.

Warga Shanghai diizinkan keluar rumah

Kondisi yang berbeda terjadi di Cina, di mana Shanghai yang memiliki penduduk 25 juta, mencatat tidak ada infeksi baru di luar area karantina selama lima hari berturut-turut.

"Saya merasa sangat senang, pencabutan lockdown dimulai," kata Zhong Renqiu di supermarket di distrik pusat Changning yang baru saja dibuka kembali.

"Kami terutama mengandalkan aturan pemerintah," kata Zhong, yang membeli telur, goji berry, wijen hitam, dan gandum.

Namun, pemerintah tetap waspada terhadap bahaya penyebaran infeksi baru di tengah pelonggaran aturan yang dilakukan secara bertahap. Mereka juga berencana untuk meminta sebagian besar penduduk untuk tetap berada di dalam rumah pada bulan ini.

Wakil Wali Kota Shanghai Zhang Wei mengatakan, kegiatan ekonomi telah pulih, bisnis dapat kembali beroperasi, dan pihak berwenang akan mengizinkan lebih banyak lagi perusahaan untuk melanjutkan operasi normal mulai awal Juni mendatang.

Kota itu "berusaha untuk memulai kembali aktivitas dan produksi sepenuhnya sesegera mungkin," katanya.

Shanghai melaporkan kurang dari 800 kasus baru. Tidak ada yang berasal dari luar area karantina, untuk hari kelima berturut-turut.

Sementara itu, ibu kota Beijing belum memberlakukan lockdown seluruh kota, tetapi secara bertahap memperketat pembatasan selama sebulan terakhir. Berdasarkan data, ada 55 kasus baru pada Rabu (18/05), turun dari 69 kasus.

ha/yf (Reuters, AP)

Simak Video 'Dirjen WHO Minta Korea Utara Buka Data Covid-19 di Negaranya':

[Gambas:Video 20detik]




(haf/haf)