Kisah Kontras Warga Afghanistan, Satu Dideportasi, Satu Dievakuasi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 31 Agu 2021 18:18 WIB
Jakarta -

Ketika suara tembakan terdengar di jalan-jalan Kabul, Farhad (bukan nama sebenarnya) menggendong putranya yang berusia 3 tahun dan berusaha menenangkan anaknya dengan mengatakan bahwa sebuah pernikahan sedang dirayakan di dekat sini. Tembakan ke udara adalah tradisi perkawinan di Afganistan untuk menghormati pengantin.

"Anak saya belum bisa memahami apa yang terjadi di negaranya sekarang. Dia sangat takut dengan ledakan keras," kata Farhad, menambahkan bahwa dia tidak bisa menjelaskan kepada anaknya apa yang sebenarnya terjadi.

Farhad adalah satu dari lebih dari 1.000 warga Afganistan yang dideportasi dari Jerman ke negara asal mereka sejak akhir 2016.

Dia masih di bawah umur ketika dia datang ke Jerman. Dia datang sendiri, kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia tidak melakukan kejahatan apapun di Jerman. Namun, permohonan suakanya ditolak, meskipun ada dukungan besar dari teman-teman Jermannya agar permohonan suakanya diterima.

Praktik deportasi yang kontroversial

Sama seperti Farhad, setiap tahun ribuan orang Afganistan berusaha keras untuk mendapatkan izin tinggal di Jerman. Sekitar 60% permohonan suaka warga Afganistan ditolak. Baru pada 11 Agustus, yakni hanya empat hari sebelum Taliban menguasai Kabul, Kementerian Dalam Negeri Jerman menangguhkan deportasi kontroversial ke Afganistan.

Terlepas dari kritik yang disampaikan oleh organisasi hak asasi manusia (HAM), pemerintah Jerman telah lama mempertahankan posisinya bahwa Afganistan cukup aman untuk terus mendeportasi orang ke sana. Saat ini, masih ada sekitar 30.000 warga Afganistan di Jerman yang diwajibkan secara hukum untuk meninggalkan negara tersebut.

Mereka yang dideportasi ke Afganistan lebih tidak aman?

Seseorang seperti Farhad yang telah dideportasi sekali, tidak memiliki kesempatan realistis untuk diterbangkan sebagai bagian dari angkutan udara Jerman. Tapi dia putus asa. "Jika Taliban mengetahui saya telah tinggal di Jerman, mereka akan membunuh saya," katanya.

Abdul Ghafoor warga Afganistan yang telah membantu migran selama bertahun-tahun mengatakan bahwa orang-orang seperti Farhad yang kembali ke negaranya akibat dideportasi, berada dalam bahaya yang lebih besar daripada warga lainnya.

Ghafoor menjelaskan bahwa warga Afganistan yang pernah tinggal di negara Barat menimbulkan ancaman di mata Taliban, karena mereka yang tinggal di luar negeri mungkin memiliki gaya hidup yang berubah.

Ghafoor berbicara dari pengalamannya sendiri. Dia melarikan diri ke Eropa, dan pernah diusir dari Norwegia pada 2013, kemudian dideportasi kembali ke Afganistan. Setelah kembali, ia mendirikan sebuah LSM, Organisasi Penasihat dan Dukungan Migran Afganistan (AMASO), untuk membantu orang-orang yang kembali dideportasi serta orang-orang terlantar secara internal.

Orang-orang yang kembali ke Afganistan akhirnya mengalami kesulitan, meskipun tidak semua dari mereka yang dideportasi telah melanggar hukum di negara-negara tempat mereka mencari perlindungan.

"Kebanyakan orang di Afganistan berpikir bahwa orang-orang ini pasti telah melakukan sesuatu yang salah dan itulah mengapa mereka dideportasi," kata Ghafoor.

Mendapat keamanan di Hamburg

Ghafoor dikenal karena membantu migran Afganistan, tetapi pekerjaannya ini juga membahayakan nyawanya sendiri. Sudah sejak lama, keluarga dan teman-teman menekannya untuk meninggalkan Afganistan lagi.

"Saya terus menerima ancaman. Tapi saya bisa menghadapinya," katanya, seraya menambahkan bahwa untuk waktu yang lama, dia tidak ingin pergi. Namun, ketika Taliban mengambil alih Kabul, merasa khawatir. Dengan cepat Ghafoor menghancurkan semua dokumen di kantornya yang berisi nama dan alamat.

Selama beberapa hari ini, Abdul Ghafoor telah aman di Hamburg. Namanya dengan cepat dimasukkan ke dalam salah satu daftar penumpang yang bisa dievakuasi. Faktanya, dia adalah satu dari hanya tujuh penumpang yang diterbangkan keluar dari Kabul pada 17 Agustus dengan penerbangan evakuasi pertama Bundeswehr. Dia duduk di pesawat yang tidak penuh sama sekali. "Saya terus menangis selama penerbangan," katanya kepada DW melalui telepon.

Sejak tiba di Jerman, Ghafoor bekerja tanpa henti. Setiap hari dia menerima telepon dan pesan bantuan dari Afganistan, dan dia menggunakan media sosial untuk mencoba mengatur bantuan.

'Kamu harus berbohong untuk menyelamatkan hidupmu'

Sementara Ghafoor aman, cerita yang begitu kontras terjadi pada Farhad yang terus menjalani mimpi buruknya di kehidupan nyata. Istrinya bahkan tidak berani meninggalkan rumah sejak Taliban menyerbu Kabul; hanya dia yang masih pergi keluar untuk menjalankan tugas sehari-hari. Teman-teman Jermannya telah mengiriminya sejumlah uang melalui Western Union. Dia masih memiliki uang tunai sekitar €20 (Rp337 ribu). Dia tidak tahu apa yang akan terjadi ketika uangnya habis.

Tak jarang, Farhad diberhentikan oleh pejuang Taliban dan diinterogasi. "Kamu siapa? Mau kemana? Apa profesimu? Apakah kamu pernah bekerja untuk polisi atau untuk orang asing?" Pertanyaan yang selalu sama. Dia kemudian mengatakan dia sedang dalam perjalanan untuk membeli makanan. Dan memberikan nama palsu.

"Kamu harus berbohong untuk menyelamatkan hidupmu."

Beberapa kali, Farhad juga telah mengambil anaknya. Anak itu menangis, putus asa untuk mencari udara segar. Agar tidak menakuti anak laki-laki itu, Farhad mengatakan pria bersenjata dan berjanggut itu mirip dengan kepolisian baru di kota itu. Kebohongan putih lainnya. Farhad tidak percaya bahwa akan ada pelarian dari Kabul untuk keluarganya dalam waktu dekat. (pkp/hp)

(ita/ita)