Promosikan Obat 'Ajaib' COVID-19, Presiden Venezuela Hujan Kritik

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 14:47 WIB
Jakarta -

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mempromosikan sebuah obat "ajaib" yang ia sebut mampu menetralkan COVID-19 tanpa efek samping, sebuah klaim yang menurut dokter tidak didukung oleh fakta-fakta sains.

"Sepuluh tetes di bawah lidah setiap empat jam dan keajaiban akan terjadi," kata Maduro dalam sebuah tayangan televisi pada Minggu (24/01). "Ini adalah antivirus yang kuat, sangat kuat, yang menetralkan virus corona," tambahnya.

Maduro mengklaim bahwa cairan antivirus yang ia promosikan sudah melalui masa studi berbulan-bulan. "Ini sudah melalui masa studi sembilan bulan, eksperimen, aplikasi klinis. Diberikan pada yang sakit, pada orang yang diintubasi, dan kami berhasil memulihkan mereka," ujarnya.

Tanpa merinci bahan-bahan aktif di dalamnya, Maduro menggambarkan cairan itu sebagai "tetes ajaib Jose Gregorio Hernandez," seorang dokter Venezuela abad ke-19 yang dibeatifikasi oleh Gereja Katolik Roma tahun lalu.

Maduro mengatakan bahwa pengobatan yang ia sebut Carvativir itu telah diuji selama sembilan bulan di antara warga Venezuela yang terinfeksi virus corona. Maduro bahkan berencana untuk mendistribusikannya bukan hanya secara nasional tapi juga ke negara lain di dunia.

Pemerintahan Maduro sejauh ini belum merilis bukti untuk mendukung klaim tersebut.

Bukan pertama kalinya

Para ilmuwan di dalam dan luar negeri tetap skeptis. Akademi Kedokteran Nasional Venezuela dalam sebuah pernyataan pada Senin malam (25/01) mengatakan bahwa Carvativir memang "memiliki potensi terapeutik terhadap virus corona."

"Meskipun demikian, adalah bijaksana jika kita menunggu lebih banyak data dari tes Carvativir … untuk menganggapnya sebagai kandidat pengobatan COVID-19," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Merespons klaim Maduro, Fransisco Marty, seorang ahli penyakit menular di Brigham and Women's Hospital di Boston, menuliskan cuitan di akun Twitternya: "Klaim pengobatan untuk merek #Carvativir untuk #COVID19 tidak dibuktikan kebenarannya oleh data klinis apa pun, tetapi melihat konferensi pers dari Maduro, hal ini mungkin memunculkan euforia kegembiraan lain di sosial media terkait obat sublingual."

David Boulware, profesor kedokteran dan dokter penyakit menular di Universitas Minnesota Medical School juga mencatat kurangnya bukti ilmiah dari obat "ajaib" Maduro. "Ini sama saja seperti hal lain, di mana orang-orang mencoba menjual semacam 'kacang ajaib' sebagai solusi untuk masalah yang kompleks," katanya kepada Associated Press, Selasa (26/01).

"Ini akan sangat bagus jika berhasil, tetapi saya ingin melihat datanya," tambah Boulware.

Ini bukan pertama kalinya Maduro mempromosikan sebuah pengobatan. Pada bulan Oktober lalu, dia memberi tahu Organisasi Kesehatan Pan American bahwa para ilmuwan Venezuela menemukan sebuah molekul yang mampu membatalkan kapasitas replikasi virus corona baru. Meski begitu, Maduro belum membicarakan perkembangan penemuan tersebut sejak saat itu. Maduro juga pernah mempromosikan teh herbal khusus yang ia klaim dapat menangkal virus dan penyakit lainnya.

Bukan hanya Maduro, ada beberapa pemimpin negara lain yang juga menerima solusi pengobatan yang sejatinya ditolak oleh studi ilmiah. Sebut saja mantan presiden AS Donald Trump dan Jair Bolsonaro dari Brasil. Mereka berdua sama-sama keras kepala memuji obat antimalaria meskipun penelitian berulang kali menemukan bahwa obat itu tidak efektif dan dimungkinkan berbahaya.

Selain itu, Madagaskar juga mempromosikan sebuah minuman buah sebagai obat ajaib untuk semua penyakit. Dan Alexander Lukashenko dari Belarusia memuji beberap hal seperti vodka, perjalanan ke sauna, dan permainan hoki es sebagai tonik potensial dari COVID-19.

Bagaimana situasi pandemi di Venezuela?

Virus corona jenis baru memang belum menyerang Venezuela sekeras negara-negara Amerika Selatan lainnya seperti Brasil, Ekuador, dan Peru. Namun, banyak ahli mengatakan bahwa hal itu kemungkinan karena sanksi terhadap pemerintahan Maduro, telah membatasi perjalanan ke sana secara tajam.

Venezuela secara resmi melaporkan sekitar 123.709 kasus COVID-19 dengan angka kematian sebanyak 1.148 – angka yang menurut oposisi dan beberapa petugas kesehatan tidak mencerminkan dampak virus corona di negara-negara Amerika Selatan, yang sistem kesehatannya telah memburuk.

Sejak Oktober lalu, Venezuela telah menjadi bagian dari uji coba vaksin Sputnik V dari Rusia, sekutu setia pemerintahan Maduro. Venezuela menandatangani kontrak dengan Rusia pada Desember lalu untuk membeli vaksin. Meski begitu, proses inokulasi tidak segera dijadwalkan hingga April mendatang.

gtp/ha (AP, reuters)

(ita/ita)