detikNews
Kamis 10 Oktober 2019, 15:58 WIB

Picu Krisis Kemanusiaan, Uni Eropa Kecam Serangan Militer Turki di Suriah

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Picu Krisis Kemanusiaan, Uni Eropa Kecam Serangan Militer Turki di Suriah Foto: Getty Images
Brussels -

Setelah Turki melakukan serangan terhadap milisi Kurdi di Suriah bagian utara pada Rabu (09/10), kecaman keras pun bermunculan. Negara-negara dan organisasi dunia saat ini mempertimbangkan untuk mengambil langkah konkret terkait hal ini, termasuk kemungkinan memberikan sanksi kepada Turki sampai pasukannya ditarik kembali.

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker meminta Turki untuk segera menghentikan operasi militernya dan mendesak Turki menahan diri. Dia mengingatkan bahwa Uni Eropa tidak akan mendanai "safe zone" buatan Turki di dalam Suriah.

"Kalau Turki memiliki rencana membuat sebuah "safe zone" sebagai bagian dari serangannya, jangan harap Uni Eropa akan memberikan sepeser pun," kata Juncker kepada anggota parlemen Uni Eropa di Brussel.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengutuk keras serangan yang dilakukan oleh Turki dan meminta Turki segera menghentikan operasi militernya. Dia meminta Turki mewujudkan kepentingan keamanan negaranya dengan cara damai.

"Turki membiarkan destabilisasi terus terjadi di wilayah itu yang berisiko terhadap bangkitnya ISIS," kata Maas di Berlin. Menurutnya, serangan Turki tidak hanya akan menyebabkan krisis kemanusiaan tapi juga menimbulkan gelombang pengungsi baru.

Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian juga mengecam aksi Turki melalui akun twitternya, sementara mitranya dari Inggris Dominic Raab menyatakan "keprihatinan serius" atas serangan tersebut.

Dewan Keamanan PBB mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan pertemuan darurat pada Kamis, untuk membahas serangan Turki di Suriah. Presiden Dewan Keamanan PBB Jerry Matthews Matjila meminta Turki untuk melindungi rakyat sipil.

Sementara, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyatakan paham masalah keamanan yang dialami Turki. Tapi, dia tetap meminta Turki menahan diri.

Tak hanya itu, negara negara dari Arab, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, Kuwait dan Irak mengecam pelanggaran yang dilakukan Turki atas kedaulatan Suriah melalui operasi militernya. Mereka berencana melakukan pertemuan pada Sabtu untuk membahas serangan militer Turki ini.

Di Amerika Serikat, kejadian ini mengantarkan mereka pada momen langka bersatunya politik bipartisan di Parlemen AS. Senator-senator baik dari Demokrat dan Republik bekerja sama membahas sebuah RUU yang akan membekukan seluruh aset pemimpin Turki dan memblokir penjualan senjata AS ke negara itu. Jika disahkan, RUU ini juga berpotensi memberikan sanksi bagi negara-negara yang menjual senjata ke Turki.

Sebelumnya, banyak politisi mengkritik keputusan Trump menarik pasukan AS dari Suriah yang dinilai menyebabkan terjadinya invasi sehingga menguntungkan musuh AS seperti Rusia.

Sementara dari sisi Rusia, Presiden Vladimir Putin mengatakan kepada Presiden Turki melalui telepon pada Rabu, agar berpikir hati-hati terkait rencana serangan tersebut supaya tidak merusak seluruh upaya penyelesaian krisis Suriah yang telah dilakukan.

Penyerangan oleh militer Turki di Suriah

Sebelumnya pada Rabu (09/10), Turki telah melancarkan serangan operasi militer di timur laut Suriah terhadap milisi Kurdi. Serangan ini dilakukan setelah AS memutuskan menarik pasukannya dari perbatasan dan meninggalkan milisi Kurdi, sekutu AS.

Dalam serangan itu, pesawat tempur dan artileri Turki menggempur Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di sepanjang garis depan perbatasan, sampai akhirnya pasukan darat Turki dapat melintasi perbatasan pada malam harinya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan serangan yang ia sebut "Operation Peace Spring" akan menghancurkan tempat-tempat teroris di sepanjang perbatasan dan akan membawa perdamaian dan ketenangan di wilayah tersebut.

Erdogan juga menambahkan bahwa serangan militer Turki dibantu oleh Tentara Nasional Suriah menargetkan milisi Kurdi dan ISIS.

Operasi militer Turki dimulai setelah Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan akan menarik pasukan AS dari wilayah perbatasan, yang kemudian memungkinkan Turki menyerang 60.000 milisi Kurdi yang selama ini membantu AS melawan ISIS.

Melalui operasi militer ini, Turki ingin membuat sebuah "safe zone" dengan kedalaman 32 kilometer dan panjang 480 kilometer di sepanjangan perbatasan Suriah. "Safe zone" ini nantinya akan digunakan untuk menampung setidaknya 1 juta dari total 3,6 juta pengungsi Suriah yang datang ke Turki dari wilayah lain di Suriah.

"Operasi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ISIS. Serangan ini hanya untuk membersihkan Turki dari pasukan Kurdi," kata Nicholas Heras, pengamat konflik Timur Tengah di AS. "Turki jelas berbohong", ujarnya.


Kepanikan luar biasa

Serangan darat oleh militer Turki berpusat di sepanjang 100 kilometer antara Tel Abyad dan Ras al-Ain. Sementara, di dekat kota terluas di wilayah itu, Qamishli, gumpalan asap terlihat membumbung tinggi di angkasa. Penyerangan juga dilaporkan terjadi di Kobane dan di beberapa daerah lain.

Menteri Pertahanan Turki mengatakan sampai tengah malam waktu setempat, sudah dilakukan penyerangan terhadap 181 target.

Menurut Syrian Observatory bidang HAM, sudah ada 15 korban tewas akibat serangan tersebut, termasuk 8 rakyat sipil.

Juru bicara SDF melalui akun twitternya menyatakan bahwa pesawat militer Turki tidak hanya menembaki target serangannya, tapi juga area tempat tinggal rakyat sipil di wilayah tersebut.

Menurutnya, terjadi sebuah kepanikan luar biasa yang menyebabkan ribuan orang pergi meninggalkan wilayah perbatasan. Mereka pergi ke arah selatan dan ke arah Wilayah Kurdi di Irak, ujar juru bicara SDF.

SDF bersumpah akan melawan serangan militer Turki di sepanjang perbatasan. Pejabat AS dan Kurdi mengatakan bahwa SDF harus menangguhkan operasi penyerangan terhadap ISIS untuk fokus pada perlawanan terhadap operasi militer Turki.

SDF sudah mengingatkan ada sekitar 11.000 anggota ISIS di dalam penjara yang dapat melarikan diri karena serangan ini. Sementara, puluhan ribu keluarga dari anggota ISIS ini juga ditempatkan di kamp-kamp lain disepanjang wilayah yang dikuasai SDF.

Komite Penyelamatan Internasional mengatakan bahwa lebih dari 300.000 orang dapat mengungsi karena serangan militer Turki. Hal ini disebut akan berdampak buruk terhadap pelayanan kemanusiaan bagi ratusan ribu pengungsi lain yang sebelumnya keluar akibat perang sipil Suriah yang terjadi selama 8 tahun.

Dua anggota ISIS yang dijuluki "The Beatles" dipindahkan

Sementara itu, Amerika Serikat memindahkan dua anggota ISIS asal Inggris yang ditangkap karena perannya memenggal kepala para sandera dari negara Barat dalam sebuah dokumentasi film. Menurut pejabat AS, Mereka dipindahkan dari Suriah ke Irak pada Rabu (10/10).

Dua lelaki itu adalah bagian dari 4 anggota ISIS yang dikenal secara global dengan sebutan "The Beatles", sebuah alias yang diberikan oleh tahanan kepada mereka karena berkebangsaan Inggris.

Kelompok ini memenggal kepala jurnalis dan relawan dari Inggris, Amerika, Jepang serta sekelompok tentara Suriah di depan kamera pada 2014 dan 2015 lalu. Dokumentasi eksekusi brutal tersebut disebar secara global sebagai bentuk propaganda ISIS.

Dua anggota ISIS ini dipindahkan sebelum serangan militer Turki di wilayah utara Suriah pada Rabu. Dua anggota ISIS bernama El Shafee Elsheikh dan Alexanda Kotey ini sebelumnya ditahan oleh Pasukan Demokratik Suriah pimpinan Kurdis (SDF). SDF adalah target dari serangan militer Turki.

Kesempatan untuk melarikan diri

Sebelumnya pada Rabu, Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menangkap beberapa anggota ISIS yang ditahan sebelum mereka sempat melarikan diri selama penyerangan Turki berlangsung. "Kita menangkap beberapa anggota ISIS yang paling berbahaya," kata Trump dalam pernyataannya di Gedung Putih.

Ribuan anggota ISIS ditahan di pusat-pusat penahanan yang dijalankan oleh milisi Kurdi di Suriah. Ada kekhawatiran bahwa anggota ISIS yang ditahan tersebut akan melarikan diri, karena serangan militer Turki. Padahal, AS dan SDF telah bekerja sama dalam perang melawan ISIS di wilayah itu.

Keputusan Trump menarik pasukan AS dinilai membuka jalan masuk bagi pasukan Turki. Hal ini membuatnya disebut sebagai seorang "pengkhianat". Milisi Kurdi dianggap sebagai sebuah organisasi teroris oleh Turki. Karenanya, Turki melakukan penyerangan dengan tujuan mengambil alih wilayah Suriah dan menggunakannya untuk memindahkan pengungsi Suriah yang saat ini masih berada di Turki.

gtp/vlz (AP, AFP, Reuters, dpa)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com