detikNews
Senin 22 Juli 2019, 10:36 WIB

Kesan Mahasiswa Jerman di Indonesia: Nikmatnya Nasi Ayam di Bawah Bayang Merapi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kesan Mahasiswa Jerman di Indonesia: Nikmatnya Nasi Ayam di Bawah Bayang Merapi
Jakarta -

Mengapa saya ada di Yogyakarta? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya saya jelaskan dulu sedikit tentang diri saya.

Nama saya Felix Fahrenbach, umur saya 20 tahun, mahasiswa di Universitas Teknik RWTH Aachen di jurusan "Ilmu Geologi Terapan" dan peserta program berjalan dua minggu: "International Summer Field Course in Geoscience Fire and Water Volcanism, Groundwater and Society".

Jadi, selain akan menghadapi syok budaya, saya juga akan mendapat kenalan internasional sekaligus berkenalan dengan tema vulkanisme dan air tanah. Proyek ini adalah kerjasama antara universitas-universitas terkemuka Jerman dan Indonesia, dan beberapa negara lain seperti Jepang, Malaysia, Myanmar, Laos, Thailand dan Vietnam. Secara keseluruhan tim ini terdiri dari 46 mahasiswa dan 26 dosen.

Malam pertama setibanya di tempat saya langsung tertidur kelelahan. Pagi berikutnya sudah menunggu pertemuan pertama saya dengan budaya lokal dalam bentuk sarapan pagi: tersedia nasi, ayam, bakmi dan buah-buahan eksotis. Setelah perut terisi kami pun berangkat ke Candi Borobudur. Benar-benar sesuatu yang istimewa, karena inilah candi Buddha yang terbesar di dunia.

Saya mendaki sepuluh tingkat candi ini, yang dikenal juga sebagai sepuluh tahapan menuju pencerahan. Di sana saya banyak belajar tentang buddhisme, kaitannya dengan budaya Jawa dan cara-cara mencapai hidup bahagia. Sebelum perjalanan dilanjutkan, tentu saja ada sesi obligatoris berfoto bersama di depan candi. Khusus untuk program ini juga dibuat sebuah spanduk yang kreatif.

Sore harinya ada acara penyambutan resmi untuk semua peserta di Universitas Gadjah Mada (UGM), yang banyak berperan dalam perencanaan program ini. Jadi saya segera mandi dan mengenakan pakaian yang rapih. Sayangnya saya belum punya kemeja Batik, tapi saya menuju gedung universitas dengan tekad untuk membawa sesuatu dari budaya ini kembali ke Jerman.

Acara penyambutan berlangsung meriah dengan tekanan pada kerjasama internasional yang dirintis. Contoh jelasnya adalah jaringan GetIn-CICERO, yang terbentuk sejak 2017 antara UGM dan Universitas RWTH Aachen. Saya kira, kami semua gembira telah menjadi bagian dari program ilmiah ini dan pertukaran ilmiah serta budaya yang terjadi. Acara diakhiri dengan makan malam bersama.

Pagi berikutnya saya dibangunkan di pagi buta oleh weker. Pikul lima pagi lewat sedikit saya dan sekelompok kecil peserta berangkat ke Candi Prambanan. Saya begitu terkesan menyaksikan bagaimana langit di atas candi berubah warna, dari hitam menjadi biru gelap, kemudian biru terang yang sangat kuat. Setelah kunjungan singkat ke candi pagi hari, sarapan tradisional sudah menunggu saya.

Program hari ini adalah kunjungan ke gunung berapi yang cukup terkenal: Gunung Merapi. Setelah perjalanan dengan Jeep di jalan berbatu, saya berdiri di depan sebuah bunker tua dengan pemandangan fenomenal ke gunung. Karena gunung berapi itu saat ini cukup aktif, diberlakukan zona aman dengan radius 4 kilometer dari kepundan gunung. Jadi kami tidak bisa mendekat. Pada kunjungan berikutnya ke sebuah rumah yang hancur oleh erupsi terakhir Merapi, saya bisa menyaksikan sendiri betapa hebat kekuatan gunung berapi yang bisa merusak.

Waktu makan siang, saya sudah tidak tahan lagi dan benar-benar ingin mencoba, seberapa pedasnya sebenarnya makanan Indonesia. Jadi saya mencampurkan satu sendok sambal ke nasi di piring saya. Untuk menceritakannya dengan singkat: saus Sambal memang sangat pedas, dan bukan ide yang baik mencampurkannya dengan nasi. Tapi untuk program berikutnya yaitu kunjungan ke kota Semarang, rasa kantuk saya benar-benar menghilang.

Di Semarang hari berikutnya kami disambut oleh universitas kedua di Indonesia yang ikut program ini: Universitas Diponegoro. Setelah itu kami mengunjungi Brown Canyon Semarang. Di sana kami bisa melihat sedimen-sedimen vulkanik yang mengesankan dan cara pertambangan yang tradisional di kawasan ini. Sore harinya kami mengunjungi Bendungan Jatibarang. Saya memberanikan diri menuruni tiga ratus anak tangga menuju sebuah terowongan, 74 meter di bawah bendungan. Di sini bisa dirasakan betapa hebatnya tekanan air pada dinding bendungan. Setelah kembali ke atas, saya bisa mempelajari fungsi-fungsi dan kaitan sosial proyek bendungan ini.

Malam harinya saya memenuhi tekad bulat saya untuk membeli kemeja di toko Batik. Tidak mudah menjatuhkan pilihan dengan begitu banyak corak dan warna yang tersedia. Setelah konsultasi panjang, saya akhirnya menetapkan pilihan, dan meninggalkan toko Batik itu dengan sehelai kemeja Batik baru.

Setelah hari-hari pertama yang mengesankan, kami pun berangkat menuju Bayat di Klaten. Pada hari-hari berikutnya, kawasan ini akan menerima beberapa tamu mahasiswa asing, karena agenda utama program ini adalah kerja lapangan. Di lokasi ini kami akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan ilmiah yang menarik. Tapi tentang itu akan saya ceritakan dalam Blog saya yang berikutnya.

Untuk saat ini, terimalah salam hangat dan Glckauf dari Bayat, Klaten.

Dari saya, Felix.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.




(ita/ita)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com