DetikNews
Senin 12 Februari 2018, 02:56 WIB

800 Perempuan Rekrutan ISIS Ditahan, Banyak yang Ingin Pulang

Deutsche Welle (DW) - detikNews
800 Perempuan Rekrutan ISIS Ditahan, Banyak yang Ingin Pulang Ilustrasi ISIS (Foto: AFP)
Jakarta - Human Rights Watch wawancarai puluhan "pengantin jihad" di kamp penahanan di Suriah utara yang ingin kembali ke negara asal. Sebaliknya, beberapa negara meminta mantan anggota ISIS untuk diadili di Irak dan Suriah.

Ratusan perempuan asing yang bergabung dengan kelompok militan ISIS dengan anak-anak mereka, telah ditangkap dalam beberapa bulan terakhir oleh pasukan Kurdi yang didukung pasukan Amerika Serikat di Suriah utara, demikian surat kabar Die Welt Jerman melaporkan pada hari Sabtu.

Harian Jerman mewawancarai direktur program terorisme dan kontraterorisme Human Rights Watch, Nadim Houry, yang berbicara dengan banyak perempuan saat berkunjung ke beberapa kamp penahanan di daerah yang dikuasai Kurdi di negara yang dilanda perang bulan lalu. "Sekitar 800 anggota perempuan ISIS dengan anak-anak berada di empat kamp ... mereka berasal dari sekitar 40 negara. Di antara mereka ada yang berasal dari Kanada, Prancis, Inggris, Tunisia, Yaman, Turki dan Australia," kata Houry seraya menambahkan bahwa 15 berasal dari Jerman.

Houry menggambarkan bagaimana perempuan dan anak-anak mereka ditahan di lokasi penahanan yang luas, di mana mereka memiliki sejumlah kebebasan, namun tidak diizinkan pergi.

Baca juga:

Jerman-Turki Kembali Berdialog Guna Menghadang ISIS

TKI di Hong Kong Terjerat Propaganda ISIS

Alami kekerasan

Beberapa perempuan yang diwawancarai mengeluh bahwa mereka "dipukuli dan dipermalukan" selama interogasi dan dipaksa menjalani kondisi tidak higienis dengan bayi mereka yang baru lahir.

"Para perempuan ini berada dalam situasi yang sangat sulit. Terutama bagi anak-anak kecil, keadaannya sama sekali tidak baik," kata Houry kepada Die Welt.

Pakar terorisme mengatakan bahwa para perempuan itu sekarang ingin kembali ke negara asal mereka, bahkan jika itu berarti menghadapi tuntutan pidana.

"Beberapa perempuan setidaknya ingin mengirim anak-anak mereka ke rumah," katanya kepada surat kabar tersebut. "Anak-anak tidak melakukan kejahatan apapun, mereka adalah korban perang dan seringkali orang tua mereka yang radikal," katanya. Houry mengatakan kepada Die Welt bahwa pihak berwenang Kurdi kurang ingin memindahkan mereka ke negara asal mereka.

Tidak diterima di negara asal

Namun pejabat Kurdi menghadapi perlawanan keras dari beberapa negara asal para perempuan itu, termasuk Perancis, Inggris dan Belgia, yang saat ini menangani ribuan pejuang jihad yang kembali dari Suriah dan Irak, yang dipenjara atau lolos dari konflik selama dua tahun terakhir.

Pemerintah Perancis, misalnya, telah meminta jihadis Prancis yang ditangkap di Suriah dan Irak untuk diadili di sana, jika mereka dapat jamin pengadilannya berlangsung adil.

Bulan lalu, sebuah pengadilan Irak menjatuhkan hukuman mati kepada seorang perempuan Jermansetelah dia dinyatakan bersalah karena tergabung dalam kelompok jihad. Ini jadi kasus pertama yang melibatkan perempuan Eropa. Laporan sebelumnya telah mengungkapkan bagaimana ratusan perempuan Barat telah melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk bergabung dengan ISIS sejak kelompok radikal Islam tersebut mengumumkan kekhalifahannya di dua negara yang dilanda perang pada tahun 2014.

(Nik Martin/ap/ml/dpa)


(rna/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed