Cerita dari \'Ujung Langit\':

Antara Ngeri, Nyali dan Tuntutan Profesi

- detikNews
Jumat, 29 Agu 2008 21:55 WIB
Jakarta - Bummm...lift itu jatuh dari lantai 20. Hancur dan menimbulkan suara ngeri. Orang yang berada didalamnya pun turut remuk.

Untungnya, peristiwa tersebut hanya ada di film. Di salah satu adegan film Mr and Mrs Smith yang melejit beberapa waktu lalu.

Gambaran tersebut sedikit menceritakan kengerian yang terjadi saat gondola yang menggantung di tower RCTI jatuh, Kamis 28 Agustus. Tali pengait pada kotak berukuran 2x5 meter itu putus dan menyebabkan gondola meluncur menumbuk bumi.

Praktis, 5 pekerja didalamnya tewas seketika. Hampir seluruh badannya remuk.

"Suaranya keras sekali," kata Irma (31)(bukan nama sebenarnya) salah satu karyawan RCTI yang menjadi saksi peristiwa naas tersebut.

Apakah pekerja lain yang beraktivitas di 'ujung langit' itu kapok? "Jangan lupa berdoa terlebih dahulu," kata salah satu pekerja kepada detikcom (Jumat, 29/8/2008).

Anto (29), pekerja pembersih kaca gedung pencakar langit ini tersentak begitu mendengar kabar gondola jatuh dari ketinggian bermeter-meter. Ia mengaku merinding dan tercekat.

Anto langsung teringat dirinya, yang biasa di ketinggian 50-100 meter dan hanya bergantung pada 4 tali besi gondola. "Ngeri banget dengar berita itu. Saya langsung ingat pekerjaan saya. Saya hanya
berdoa, tidak menimpa saya," katanya.

Lajang asal Batang ini menyatakan selalu mengikuti petunjuk standar keamanan sebelum bekerja seperti helm, sepatu, kaos tangan, dan tali pengikat ke tubuh.

"Saya tahu risiko pekerjaan ini sangat besar, meski hanya pembersih kaca. Butuh nyali melawan rasa ngeri," kata Anto yang tinggal di Mampang Prapatan, Jaksel.

Terlebih, tuntutan profesi seakan melupakan segala ketakutan. Takut akan ketinggian dan rasa was-was.

"Kalau sudah di atas, nggak ada istilah bercanda. Bawaanya pengen cepat selesai dan segera turun. Anginnya kencang," ucap Mahmud (28), salah satu teknisi tower pemancar sinyal telepon seluler (BTS) ditempat berbeda.

Mahmud mengaku butuh adaptasi satu tahun untuk berani naik hingga ketinggian 100 meter. Awalnya, dia hanya menerima tantangan 10-20 meter.

"Gila-benar-benar gila. Ini pekerjaan yang menuntut keberanian, dan emosi tinggi. Saya baru berani memasang tower diketinggian 100 meter setelah setahun. Menara diatas gedung pencakar langit di Jakarta," cerita Mahmud, alumnus sebuah PTN di Surabaya.

Ketinggian, bagi Mahmud dan Anto serta sejumlah pekerja ketinggian lain merupakan tantangan. Sekaligus menjadi pengingat kematian yang terus mengetuk dan mengintai.

"Jadi selalu ingat yang diatas (Tuhan). Nyawa kami dipertaruhkan," seloroh Anto serius.

Tertantang untuk mencoba? (Ari/ken)