Selebriti dan Politik (1)

Dewi & Pejabat Kucing Garong

- detikNews
Senin, 07 Apr 2008 09:18 WIB
Jakarta - Pintu sebuah apartemen di kawasan Mega Kuningan perlahan terbuka. Dari balik pintu muncul sesosok perempuan mungil yang berdandan apa adanya. Dia adalah penyanyi dangdut Dewi Persik, yang belakangan bikin heboh lantaran dicekal mentas di Tangerang oleh walikotanya, Wahidin Halim.

Dewi yang saat itu mengenakan kaos warna merah muda dan rok putih, terlihat agak sibuk lantaran esok harinya ia akan manggung di Singapura. "Mas ngobrolnya sambil aku beres-beres ya," ujar pedangdut yang ngetop dengan goyang gergajinya kepada detikcom.

Sambil memilah-milah baju yang akan dibawa ke negeri singa, Dewi bercerita seputar ramainya berita pencekalan dan aksi protes dari sebuah ormas Islam. Dengan tenang, janda Syaiful Jamil ini menjelaskan kalau dirinya sudah tidak risau lagi. Sekarang Dewi tahu berita pencekalan dirinya merupakan rekayasa dari orang-orang dekat Walikota Tangerang Wahidin Halim.

Dengan maraknya berita itu di media, nama Wahidin diharap akan populer menghadapi pilkada Kota Tangerang, pada Oktober mendatang. Wahidin merupakan salah satu calon walikota yang digadang Partai Golkar.

Soal rekayasa itu mulai dirasakan Dewi ketika ia ditelepon seseorang yang mengaku orang dekat Wahidin. Di ujung telepon, pria bernama Edi Effendi itu meminta Dewi untuk datang ke Tangerang menemui walikota. Dewi kemudian disarankan, saat sowan ia harus sedikit menangis supaya menarik untuk dipublikasikan.

"Dewi kamu tenang aja dan kamu jangan takut untuk dicekal, kamu aman masuk ke Tangerang, karena yang punya wilayah adalah aku. Kamu sebaiknya minta maaf kepada bapak Wahidin sekarang. Saat ini beliau ada di depanku," cerita Dewi tentang isi telepon orang dekat Wahidin.

Namun perempuan asal Jember ini emoh mengikuti kemauan Edi Efendi. Sebab ia merasa tidak pernah membuat salah terhadap Walikota Tangerang dan selalu mengikuti apapun kemauan dari klien setiap manggung. "Asal tidak disuruh telanjang saja," celetuknya.

Apalagi, ujar Dewi, ia sudah lama tidak manggung di Tangerang. Dan saat ini pun ia belum ada kontrak untuk manggung di sana. Tapi tiba-tiba muncul berita yang menyebutkan ia dicekal oleh Walikota Tangerang. Dalam berita di sejumlah media massa Wahidin mengatakan, kehadiran Dewi dikhawatirkan bisa merusak generasi muda Tangerang. Sehingga Dewi layak untuk dicekal.

"Aku benar-benar nggak ngerti apa yang dimaksud Pak Walikota Tangerang. Aku pernah manggung di Kota Tangerang sudah sangat lama, sebelum menikah dengan Syaiful Jamil. Terus terang Aku merasa diadili dengan cara seperti ini," keluh Dewi.

Pemberitaan itu rupanya tidak hanya berdampak bagi Dewi. Orang tuanya di kampung juga sempat stres dan jatuh sakit. Orang tua Dewi merasa shock dengan pemberitaan yang menyebut anaknya sebagai perusak geberasi muda.

Wahidin saat dikonfirmasi soal adanya agenda terselubung di balik rekayasa pencekalan Dewi Persik segera menampik. "Saya sudah terkenal kok sekarang. Buat apa mendompleng nama Dewi Persik," jelas Wahidin kepada detikcom. Wahidin mengaku pencekalan yang dilakukannya hanya sebatas niat. Karena goyang dangdut yang ditampilkan Dewi sangat vulgar.

Menurut Wahidin pencekalan itu bukan semata-mata terkait Perda No 8 tahun 2005 tentang pelacuran, tetapi ada efek negatif lain yang terkait akhlak buat penonton, terutama anak muda. Goyang dan pakaian seksi, kata Wahidin bisa mengganggu masyarakat Tangerang yang berpedoman akhlakul karimah.

Sekalipun melarang goyang dangdut, Pak Walikota mengaku ia tidak anti dangdut. Hanya saja ia tidak mau mendapat kecaman dari sejumlah kalangan di Tangerang. Bahkan beberapa pejabat dan LSM banyak yang memintanya untuk menggugat Dewi Persik.

Sementara itu anggota DPRD Tangerang Abdul Syukur menilai tindakan Wahidin Halim bukan rekayasa. Menurutnya, Wahidin hanya ingin menjaga kredibilitas dari kota yang dipimpinnya. "Joget seronok tidak baik dampaknya terhadap anak-anak. Selain itu bisa menimbulkan nafsu syahwat yang mengarah pada maksiat," katanya kepada detikcom.

Syukur kemudian mempersoalkan statement Dewi yang menantang. Sebab pernyataan itu berdampak kepada aksi protes dari para pejabat dan seluruh masyarakat kota Tangerang.

Bagi Dewi Persik, kasus yang menimpanya baru-baru ini merupakan sebuah pembelanjaran. Ia mengaku hanya berlindung kepada Allah SWT bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan dirinya. " Hei para pejabat kucing garong, jangan korbankan selebriti untuk tujuan politik dan popularitas," tegas Dewi .

Benarkah Walikota Tangerang Wahidin Halim berupaya mencari popularitas melalui Dewi Persik? Bisa iya bisa juga tidak. Tapi pakar komunikasi Universitas Indonesia (UI) Effendi Ghazali berpendapat, masyarakat Indonesia saat ini secara umum punya kecenderungan memiliki karakter C-3, yaitu consumerism, celebrity dan cynicisme. Tiga karakter ini kemudian dimanfaatkan para politisi untuk meraih dukungan pemilih. Dan media massa sangat besar perannya dalam pembentukan tiga karakter ini. (ron/ddg)