Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyinggung pemotongan anggaran Jakarta saat menghadiri Jakarta Asset Forum and Expo (JAFEX) 2026. Pramono berharap pemotongan anggaran Jakarta tak ditambah lagi.
Hal itu disampaikan Pramono saat membuka JAFEX 2026 di St Regis, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026). Acara itu juga dihadiri Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Awalnya, Pramono menjelaskan alasan Pemprov DKI perlu mengembangkan skema creative financing. Menurutnya, pembangunan Jakarta tak bisa lagi hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai Gubernur Jakarta, saya memahami kenapa Jakarta perlu creative financing. Kita menggunakan dana-dana KLB untuk membangun. Kita juga gunakan obligasi daerah," kata Pramono.
Pramono mengatakan Pemprov DKI menargetkan bisa menerbitkan obligasi daerah sekitar Rp 5,2 triliun pada tahun depan. Dia menilai nilai nominal tersebut masih bisa ditangani Jakarta.
"Mudah-mudahan tahun depan pemerintah DKI Jakarta sudah bisa menerbitkan obligasi daerah kurang lebih Rp 5,2 triliun. Dan sebenarnya bagi Jakarta, angka ini bukan angka yang menyulitkan," ujarnya.
Pramono kemudian menyinggung kondisi APBD Jakarta yang mengalami pemotongan. Dia berharap agar pemotongan tersebut tak semakin besar.
"Siapa pun pasti akan bisa menyelesaikan kalau APBD Jakarta walaupun masih dipotong, asal motongnya jangan nambah lagilah begitu, ini mumpung ada Pak Menko," kata Pramono.
Meski begitu, Pramono menegaskan Pemprov DKI tak ingin pembangunan Jakarta sepenuhnya bergantung pada APBD. Dia mengatakan sejumlah skema pembiayaan akan dimanfaatkan, mulai koefisien luas bangunan (KLB), sertifikat laik fungsi (SLF), surat persetujuan prinsip pembebasan lahan (SP3L), hingga obligasi daerah.
"Kami melakukan creative financing, salah satunya dari KLB, SLF, SP3L, kemudian juga dari obligasi daerah atau municipal bond," jelasnya.
Pramono mengatakan strategi tersebut diperlukan agar pembangunan Jakarta tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran. Dia menilai pemanfaatan aset dan pembiayaan kreatif dapat menjadi sumber alternatif untuk mendukung pembangunan Jakarta sebagai kota global.
"Kami dalam membangun tidak lagi semata-mata bergantung pada APBD," pungkasnya.










































