Polisi mengungkap soal keberadaan ratusan senjata di sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel). Polisi menyebut senjata itu ada di sekolah berawal dari perjanjian kerja sama untuk olahraga menembak.
"Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi, keberadaan senjata angin tersebut diawali dari adanya perjanjian kerja sama antara yayasan dengan PT Lokta terkait kerja sama olahraga menembak air rifle," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Selasa (11/7/2026).
Namun Budi mengatakan pihaknya masih mendalami legalitas senjata itu. Polisi juga sudah mengecek ulang tiga ruangan di sekolah, yaitu ruang kerja mantan ketua pengurus, ruang kerja mantan sekretaris, dan ruang sarana dan prasarana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyidik masih melakukan pendalaman terhadap legalitas, kepemilikan, penyimpanan, serta penggunaan barang-barang tersebut," ujarnya.
Hasil pengecekan ulang, polisi kembali menemukan satu buah airsoft gun dengan ratusan butir peluru. Total keseluruhan barang bukti itu masih dilakukan pendataan dan pencocokan oleh penyidik.
"Dari pengecekan tambahan tersebut ditemukan 1 buah airsoft gun, 117 butir peluru berbagai kaliber dengan rincian 21 butir kaliber 32 S&W, 19 butir kaliber 380 Auto, 34 butir kaliber 38 special, 18 butir kaliber 22 WMR, dan 25 butir kaliber 9x19 mm luger," kata dia.
"Selain itu ditemukan 166 selongsong kaliber 22, 5 magazine kaliber 9 mm, 2 recoil spring, 2 botol green gas, 2 tabung gas CO2, 2 wadah peluru mimis, serta sejumlah spare part dan aksesori," imbuhnya.
Ratusan pucuk senjata itu pertama kali ditemukan pada 10-11 Juli 2026 dan kembali ditemukan pada Rabu (5/8) malam. Pihak kepolisian merinci, 995 pucuk senjata yang sebelumnya ditemukan merupakan senapan angin, sementara satu pucuk lainnya merupakan senjata api jenis Franchi SPA, SPAS-15 kaliber 12 GA milik pria DS yang merupakan direktur di PT Lokta Karya Perbakin.
"Perlu kita luruskan bersama, penemuan barang yang diduga berupa senjata. Ada 996 yang ditemukan, 995 merupakan senjata angin," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8).
Konflik Kepengurusan Yayasan Kubu IWD dan Kubu N
Sebelumnya, Alhadid Endar Putra selaku kuasa IWD sekaligus Dirut PT Lokta Karya Perbakin menyampaikan 995 pucuk senjata airsoft gun itu adalah milik perusahaan tersebut. Senjata itu disimpan di gudang sekolah berkaitan dengan rencana kerja sama ekstrakurikuler (ekskul) menembak antara PT Lokta Karya Perbakin dengan pengurus yayasan sekolah sebelumnya pada 2020.
"Pertanyaannya, kenapa ada di sekolah yayasan, alasannya karena tahun 2020 itu ada kerja sama kita dengan Pak Suryo, dia pembina juga di yayasan tersebut. Waktu itu kita sepakat mau bikin ekskul menembak untuk atlet muda bertepatan dengan Asian Games, menembak target itu lho, yang dipencet jalan kertasnya," kata Alhadid.
Alhadid menyebut bahwa pihak yayasan kubu N ini sebetulnya sudah tahu soal adanya senjata yang disimpan di gudang itu. Ia merasa heran pihak yayasan sekolah seakan-akan tidak mengetahui asal-usul senjata tersebut.
"Saya juga tidak tahu tiba-tiba meledak, mereka seakan-akan baru tahu. Mereka tahu juga sudah ada izinnya," ungkap Alhadid.
Alhadid menduga persoalan ini mencuat karena ada konflik di lingkup internal kepengurusan yayasan sekolah. Konflik itu terjadi sejak pembina yayasan yang sebelumnya diberhentikan secara sepihak.
"Ternyata saya ulik ada konflik di yayasan itu. Ini mengenai pembina Bu N sudah menjadi pembina sudah menduduki fisik dari April 2026. Jadi 5 bulan itu menduduki di sana, sebelum dia menduduki itu dia memberhentikan pembina lain," jelasnya.
Sementara itu, pihak yayasan mengakui soal adanya konflik kepengurusan tersebut. Konflik ini pula yang menjadi pintu masuk temuan senjata tersebut.
"Iya, karena tanpa ada sengketa itu kami nggak bisa masuk. Justru karena sengketa itu, kami kemudian memberhentikan dia ketua," kata Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/8).
Setelah IWD diberhentikan, kata Hermawanto, pihaknya mendapatkan akses untuk membuka ruangannya. Saat dibuka, ditemukan ratusan senjata berbagai jenis. Pihaknya juga menemukan narkotika hingga 30 compact disk (CD) porno.
"Lalu kemudian kami punya akses untuk masuk ke dalam ruangan, ruangan sekolah kan? Akhirnya kami coba buka-buka, nggak tahunya ketika kami buka ruangan itu menjadi... kita temukan barang terlarang. Seandainya tidak ada sengketa, mungkin senjata itu masih ada di sini," jelasnya.










































