Peneliti Monash University Ungkap Pola Video Lama Demo Diviralkan Lagi

Peneliti Monash University Ungkap Pola Video Lama Demo Diviralkan Lagi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 05 Agu 2026 17:38 WIB
logo X dulu twitter
Foto: Ilustrasi X dan media sosial lainnya (Unsplash/Julian Christ)
Jakarta -

Sejumlah video lama terkait demonstrasi mahasiswa sempat diviralkan lagi di media sosial. Peneliti Monash University Indonesia mengungkap ada dugaan pola tertentu untuk menaikkan video lama aksi demo mahasiswa tersebut.

Monash University Indonesia melakukan analisis data terhadap sejumlah platform sosial media selama 26 Juli-1 Agustus 2026. Dari analisis tersebut, ditemukan 197 ribu unggahan di X, Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook terkait demonstrasi.

Ada 63 ribu unique user yang ditemukan. Tren volume puncaknya adalah pada 27 Juli lalu sebanyak 50 ribu unggahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti Monash University Indonesia Ika Idris mengatakan sejumlah postingan tersebut berisi video lama dan video hasil suntingan terkait demo mahasiswa. Video dibuat seolah aksi terkini.

"Persoalan yang berulang adalah penyebaran disinformasi, khususnya melalui penggunaan video lama atau hasil suntingan yang disajikan seolah-olah rekaman aksi terkini. Praktik ini dikritik karena menyesatkan publik dan berpotensi merusak upaya demonstrasi yang sesungguhnya," kata Ika Idris kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Dia juga mengungkap ada pola tertentu untuk membuat video itu viral. Sebagian besar konten video tersebut ternyata hasil retweet. Pola ini mustahil dilakukan secara manual.

"Dari 34.935 unggahan X yang dianalisis, 99,46 persen merupakan retweet. Beberapa akun menunjukkan pola yang hampir mustahil dilakukan secara manual. Sebuah akun, misalnya, melakukan sembilan retweet berbeda dalam waktu sekitar 105 milidetik," katanya.

Dia menjelaskan bahwa sejumlah akun lainnya juga melakukan beberapa retweet dengan jeda kurang dari satu detik. Menurutnya, pola ini mengindikasikan penggunaan skrip, aplikasi otomatis, atau mekanisme bulk retweet, yang tujuannya memang untuk menaikkan engagement percakapan.

Dia juga mengungkap pola lain untuk memviralkan konten tersebut. Dia mencontohkannya lewat akun-akun tertentu.

"Pola lain yang menonjol adalah struktur seed-and-amplify, yaitu sejumlah kecil akun membuat atau menyebarkan narasi awal, kemudian ribuan akun lain me-retweet-nya. Satu unggahan dari @dieddfish menghasilkan 13.446 retweet atau 38,7 persen dari seluruh retweet. Adapun sepuluh unggahan sumber teratas menyumbang 88,5 persen dari keseluruhan aktivitas," ujarnya.

Akun Centang Biru dengan Narasi Terkoordinasi

Selain itu, dia mengilustrasikannya lewat satu akun centang biru X dengan nama @urflowerz. Akun tersebut mengunggah video demo lama. Akun tersebut diduga sengaja melakukan implikasi dengan struktur narasi yang telah terkoordinasi.

"Unggahan soal video demo di tanggal 26 Juli sampai 1 Agustus menunjukkan ada pola yang sangat mirip, terutama berada pada tingkat framing dan struktur narasi, ada kemungkinan narrative coordination atau coordinated amplification," tuturnya.

Akun penyebar hoaks demoAkun penyebar hoaks demo Foto: (Dok Istimewa)

Beberapa struktur ini tampak dari urgency hook, emotional judgement hingga call to amplify. Berikut ini analisa struktur narasinya:

1. Urgency hook
"DEMO HARI INI", "BEBERAPA HARI TERAKHIR", "DARURAT", "TERNYATA INI", disertai huruf kapital dan emoji 🚨. Proporsi amplifikasi mencapai 68,1%
2. Inflation of scale
Demonstrasi digambarkan "besar", "di mana-mana", "serentak di seluruh Indonesia", atau berpotensi mengulang 1998.
3. Suppression claim
Media nasional dan televisi dituduh "bungkam", sengaja tidak memberitakan, atau algoritma dianggap menenggelamkan informasi.
4. Repression claim
Sinyal disebut hilang, internet diganggu, atau mahasiswa tidak dapat melakukan siaran langsung karena "sabotase aparat".
5. Emotional judgement
Digunakan kata-kata seperti "muak", "gila", "rezim", "pemerintah zalim", "negara kacau", dan "media dibungkam".
6. Call to amplify
Audiens diminta membantu like, repost, memeriahkan tagar, dan memastikan video "tidak kalah oleh algoritma".

Lebih lanjut, Ika menjelaskan bahwa akun yang paling banyak dibagikan tersebut merupakan akun centang biru. Dia mengingatkan bahwa akun centang biru ini berarti berlangganan X premium, bukan terkait dengan identitas atau keahlian terverifikasi pemilik akun.

"Hal yang juga perlu diperhatikan dari akun-akun yang paling banyak di-share ini Adalah Sebagian besar mereka memiliki "centang biru". Saat ini, centang biru berarti akun berlangganan X Premium dan memenuhi persyaratan dasar, bukan bahwa identitas, keahlian, atau isi unggahannya telah diverifikasi," ungkapnya.

Lihat juga Video Prabowo yang Diviralkan Singgung Iran soal Perang Dunia III

Halaman 2 dari 2
(rdp/imk)


Berita Terkait