Petugas Satpol PP menertibkan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Raya Bogor kawasan Ciracas, Jakarta Timur (Jaktim). Petugas mendapatkan penolakan dan perlawanan dari salah satu pedagang.
Pedagang berbaju merah tersebut bahkan sampai menaruh anak berusia balita ke truk Satpol PP karena tak terima atas penertiban yang dilakukan. Seorang anak yang lebih besar menangis histeris ketika melihat balita itu dimasukkan ke truk Satpol PP.
Pedagang buah itu meminta Satpol PP sekalian membawa balita tersebut sebagai bentuk protes penertiban oleh petugas. Suasana menjadi semakin panas ketika pedagang tersebut membawa benda diduga senjata tajam (sajam) saat masih protes terhadap anggota Satpol PP di lokasi.
Peristiwa penertiban itu dilakukan pada Kamis (9/4) kemarin. Satpol PP menertibkan PKL untuk melancarkan arus lalu lintas dan memberi ruang bagi pejalan kaki di trotoar.
Kasatpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, membenarkan terjadinya kericuhan saat petugas menertibkan PKL di Jalan Raya Bogor, Ciracas. Dia mengatakan penertiban tersebut dilakukan untuk penegakan peraturan daerah (perda).
"Kita jalankan tugas fungsi kita melakukan penertiban, kemudian juga ada hak-hak masyarakat lain yang perlu diperhatikan karena ketertiban umum terganggu. Itu yang paling penting sebenarnya," kata Satriadi kepada detikcom, Jumat (10/4/2026).
Dia meminta anggotanya untuk tetap humanis dalam melakukan penertiban. Dia mengatakan penertiban tersebut merupakan kegiatan rutin dan dilakukan sesuai prosedur.
"Iya kegiatan rutin, biasanya kan gitu, banyak pedagang baru setelah lebaran, kalau tidak kita kencangin aturannya sekarang, nanti malah nggak terkontrol," katanya.
Satriadi mengatakan anggotanya juga melakukan sosialisasi hingga persuasif sebelum penertiban dilakukan. Dia mengungkit saat penertiban pedagang es di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Setiabudi, Jaksel yang sempat viral di medsos.
"Persuasif ada, kita ada beberapa video juga yang menunjukkan petugas bekerja sesuai SOP yang kita jadikan bukti. Biasanya kan mohon maaf nih, netizen kan menggal videonya yang momen seram, momen tegang. Padahal ada proses sebelumnya," katanya.
"Ya itulah salah satu risiko kerja dari Satpol PP ya. Seperti yang di Rasuna Said itu kan ibunya bawa tusukan es, kemudian difitnah. Ya yang seperti itu memang risikonya tapi saya pesan untuk tetap profesional dan humanis," tambah dia.
Lihat juga Video 'Pedagang Sate di Malioboro Tantrum Guling-guling saat Razia Satpol PP':











































