Pengabdian Iptu Bastian Tuhuteru Jadi Pendidik Masyarakat Adat Buru Selatan

Hoegeng Awards 2026

Pengabdian Iptu Bastian Tuhuteru Jadi Pendidik Masyarakat Adat Buru Selatan

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 09 Apr 2026 10:32 WIB
Iptu Bastian Tuhuteru
Iptu Bastian (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Kapolsek Leksula Iptu Bastian Tuhuteru mengabdikan diri untuk mencerdaskan masyarakat adat di pelosok Kabupaten Buru Selatan, Maluku. Hal itu membuat Iptu Bastian diusulkan menjadi kandidat Hoegeng Awards 2026.

Pengusulnya adalah Marlan S Lahallo, warga Desa Kamlanglale, Kecamatan Namrole, Buru Selatan. Marlan mengaku sudah mengenal Iptu Bastian sejak 2016. Menurutnya, Iptu Bastian sosok polisi yang teladan. Berikut testimoninya:

Iptu Bastian Tuhuteru adalah sosok polisi yang patut diteladani. Saya mengenal beliau sejak bertugas di tahun 2016, beliau dalam masa tugas selalu responsif dengan siapapun dan menjadi pelopor pendidikan bagi anak-anak di komunitas adat di dusun Walafau. Di beberapa tempat tugas pun beliau pernah mempelopori berdirinya sekolah untuk saudara-saudara komunitas adat (Kecamatan Waesama). Bukan saja belajar mengenal huruf, membaca, menulis hingga berhitung yang beliau lakukan. Selain peran sebagai guru, sebagai dokter pun beliau lakoni. Banyak hal tentang hidup sehat yang beliau ajarkan bagi saudara-saudara kami di komunitas adat. Sosok anggota Polri seperti ini sangat sulit ditemukan, dari kacamata kami beliau layak menjadi teladan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian detikcom menghubungi Marlan. Dia mengenal Iptu Bastian saat dirinya bekerja di Kecamatan Leksula, wilayah hukum tempat Iptu Bastian bertugas.

"Jadi memang awalnya tidak dikenal, tapi waktu kita kenal beliau (Iptu Bastian) itu karena gebrakan-gebrakan. Waktu itu beliau pernah jadi bhabinkamtibmas salah satu dusun yang bisa dibilang warganya belum tahu baca belum tahu tulis, masih kental sama adatnya, masih bicara juga masih bicara bahasa adat itu, bukan bahasa Indonesia. Nah dari gaya beliau beradaptasi dengan masyarakat di sana itu ternyata nyambung," kata Marlan kepada detikcom, Rabu (11/3/2026).

Marlan menyebut Iptu Bastian melakukan pendekatan terhadap masyarakat adat di pelosok Buru Selatan itu lewat mengajar dan melatih anak-anak setempat agar cerdas dan hidup sehat. Dia pun kagum dengan kiprah Iptu Bastian tersebut.

"Kita juga termasuk kaget karena ada sosok yang bisa membuat masyarakat di sana yang awalnya tidak bisa baca, tidak bisa menulis dan mengenal huruf itu, ternyata sudah bisa dan mereka itu sudah bisa masuk sekolah ke kota. Artinya, sudah bisa bersaing masuk ke kota karena istilahnya sudah tidak terbelakang lagi," ucapnya.

Tak berhenti hanya mengajari dan melatih anak-anak agar bisa membaca dan menulis, Iptu Bastian juga disebut memperjuangkan akan adanya pembangunan sekolah dasar (SD) di desa binaannya. Perjuangan tidak sia-sia, keinginan Iptu Bastian agar dibangun SD di desa binaannya didukung pemda setempat.

"Di sana itu yang paling mereka butuhkan itu, ya sekolah. Karena kapasitasnya waktu itu, beliau bisa koordinasi sama pemda juga support beliau untuk bangun sekolah, buku-buku," ujar Marlin.

"Beliau memang memberi pemahaman untuk mereka, akhirnya mereka juga paham bahwa tidak selamanya hidup itu harus di situ saja, harus berkembang. Jadi, mau tidak mau ya harus bersaing supaya bisa beradaptasi dengan perkembangan dan pembangunan yang nantinya masuk di kita," tambahnya.

Pujian Marlin tak berhenti, karena sikap-sifat dan aksi sosial Iptu Bastian tak pernah berubah sejak menjabat Bhabinkamtibmas hingga saat ini menjadi Kapolsek Leksula. Menurut Marlin, selalu ada saja gebrakan Iptu Bastian.

"Jadi, dia punya mungkin hidupnya begitu ya, orangnya tidak bisa lihat yang kurang maju-maju, maunya maju-maju terus," imbuhnya.

Cerita Iptu Bastian

Iptu Bastian Tuhuteru merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025. Dia menceritakan jalan terjalnya sebagai polisi dan mengabdi sebagai pendidik bagi masyarakat adat di pelosok Buru Selatan, Provinsi Maluku.

Kisah pengabdian Iptu Bastian dalam mencerdaskan masyarakat di Buru Selatan dimulai saat dirinya bertugas sebagai bhabinkamtibmas pada 2016. Wilayah binaannya mencakup Dusun Walafau, salah satu wilayah yang masih tertinggal.

Di sana banyak masyarakat adat di pelosok Buru Selatan yang belum tersentuh pendidikan. Anak-anak biasanya pergi berkebun dan berburu bersama orang tua mereka.

"Di situ tergerak hati kami melihat anak-anak yang belum sekolah, kemudian kami mulai terpanggil untuk mulai mengajarkan mereka," kata Iptu Bastian kepada detikcom, Kamis (11/9/2025).

Bastian saat itu masih berpangkat Bripka. Dia terpanggil untuk mengajar anak-anak di Dusun Walafau meski harus menempuh medan yang sulit kadang harus menyeberangi sungai.

Namun semua itu tak menyurutkan semangat Iptu Bastian untuk membantu mencerdaskan masyarakat adat di pedalaman. Dia awalnya mengajar anak-anak di sebuah tenda sederhana.

Setelah beberapa bulan, tempat belajar pindah lantaran tenda kadang bocor. Iptu Bastian kemudian berkoordinasi dengan salah satu kepala adat di sana untuk meminjam tempat.

Setelah berjuang selama kurang lebih tiga tahun, akhirnya pada 2019 pemerintah bersama masyarakat membangun sekolah dasar negeri. Iptu Bastian bersyukur lantaran perjuangannya itu membuahkan hasil.

"Kami juga hampir 3 tahun mengajar di situ. Dan 2018, masuk 2019, lewat pengorbanan kami itu ditetapkan SD negeri," ujar dia.

Perjalanan selama tiga tahun itu terbilang tidak mudah. Awalnya Iptu Bastian harus meyakinkan para orang tua adat di sana bahwa dirinya memang ingin mengajar anak-anak.

"Jadi kami datang, saya langsung tunjukkan bahwa kami polisi merah putih, tidak ada kepentingan apa-apa. Saya mengikuti orang tua mereka, kepala adat mereka, bahwa kalau bapak ibu tidak buka hati kecil menerima kami mengajarkan anak-anak bapak ibu, berarti bapak ibu akan tertinggal jauh karena ini perkembangan budaya, perkembangan kemajuan negara ini sudah berkembang," ujar Iptu Bastian.

"Kemudian mereka berpikir jangan sampai kita membawa misi lain. Misalnya membawa misi agama tau membawa misi lain, makanya saya mengajar itu diintip oleh orang tua mereka," sambung dia.

Iptu Bastian mengajarkan anak-anak tentang baca tulis hitung (calistung) hingga membina anak-anak tentang pentingnya menjaga kebersihan diri. Saat datang mengajar, Iptu Bastian pun biasa membawa makanan untuk menarik minat anak-anak itu.

"Lewat pengorbanan itu, membuahkan hasil. Anak-anak sudah bisa membaca dan pemerintah membantu pendidikan sekolah yang permanen di dusun itu," ujar dia.

Atas dedikasinya itu, Bastian diberikan tiket sekolah perwira yang kemudian mengantarkannya menjadi Kapolsek Waesama. Pengabdiannya di sektor pendidikan dia lanjutkan saat menjadi pimpinan.

Dia memerintahkan bhabinkamtibmas untuk mengajar dan menjangkau daerah-daerah pedalaman. Dia mengusung nama Baperdewa atau Bhabinkamtibmas Peduli Pendidikan Waesama. Nama itu sama dengan nama program dia saat menjadi Bhabinkamtibmas, namun berbeda di nama akhir daerahnya.

"Di situ kami juga mengajar, ada sekitar dua kampung kami menjangkau masyarakat yang belum terjamah pendidikan di daerah yang menjadi wilayah tugas kami sebagai kapolsek," ujar dia.

Selain itu, Bastian juga mengusung Siri Pinang sebagai program untuk mengatasi konflik di masyarakat dengan pendekatan kultural. Program itu, menurut dia, berhasil menangani sejumlah permasalahan masyarakat.

Selanjutnya, Bastian mendapatkan tugas baru menjadi Kapolsek di Leksula. Dia tetap mengedepankan pendekatan kultural dalam menangani konflik dan menjaga kamtibmas.

Atas dedikasinya, Bastian pernah mendapatkan penghargaan dari Kapolri dua kali yaitu penghargaan peringkat 1 polisi teladan tingkat nasional tahun 2019 dan penghargaan polisi pengajar tahun 20019. Selain itu, penghargaan juga diterimanya dari Kapolda Maluku hingga Kapolres Buru Selatan.

Tonton juga video "Iptu Bastian Tuhuteru, Mengabdi Jadi Pendidik bagi Masyarakat Adat Buru Selatan"

(fas/knv)
Hoegeng Awards 2026
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
SELENGKAPNYA


Berita Terkait