Upaya Kemlu RI agar Selat Hormuz Terbuka untuk 2 Kapal Pertamina

Upaya Kemlu RI agar Selat Hormuz Terbuka untuk 2 Kapal Pertamina

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 08 Apr 2026 20:09 WIB
FILE PHOTO: Cargo ships in the Gulf, near the Strait of Hormuz, as seen from northern Ras al-Khaimah, near the border with Oman?s Musandam governance, amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, in United Arab Emirates, March 11, 2026. REUTERS/Stringer
Ilustrasi Selat Hormuz. (REUTERS/Stringer)
Jakarta -

Iran mengatakan akan membuka Selat Hormuz selama dua pekan usai Amerika Serikat (AS) gencatan senjata disepakati. Kini, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengungkap dua kapal tanker milik Pertamina belum bisa melintas di Selat Hormuz.

Pemerintah masih melakukan diplomasi untuk mengupayakan kapal pembawa minyak itu dapat melintas. Kemlu RI bersama KBRI Teheran sudah berkoordinasi dengan pemerintah Iran. Mereka juga menjalin komunikasi dengan dengan kedutaan Iran di Jakarta.

"Intinya kita mengupayakan agar kapal Pertamina bisa melintasi dari Selat Hormuz," kata juru bicara Kemlu Vahd Nabyl dalam jumpa pers di kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan termasuk dilakukan juga oleh Bapak Menlu dalam pertemuan dengan Dubes Iran dan juga oleh Dubes kita di Teheran dengan otoritas-otoritas di Iran," tambahnya.

Dia menyebut ada beberapa hal teknis yang sedang diatasi agar kapal Pertamina bisa lewat. Katanya, pemerintah juga harus memastikan keselamatan para kru yang melintas.

"Dan saat ini memang perkembangan yang berlangsung adalah terdapat beberapa hal yang cukup teknis yang memang sedang ditindaklanjuti untuk bisa memastikan keselamatan untuk melintas dari sana. Dan ini termasuk antara lain seperti hal-hal seperti asuransi dan juga kesiapan kru," ungkapnya.

Nabyl mengatakan semua pihak wajib mematuhi hukum internasional. Pemerintah ingin kebebasan navigasi dihormati.

"Dan kita dalam tadi seperti di awal disampaikan juga bahwa pada prinsipnya tentu kita ingin meminta agar kebebasan navigasi itu dihormati dan sesuai dengan hukum internasional dan UNCLOS," ucapnya.

Nabyl menyebut, saat ini ada dua kapal milik Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz, kapal Pertamina Priden dan MT Gamsunoro. Pemerintah sedang mengupayakan agar kapal-kapal yang berkaitan dengan kepentingan nasional bisa diatasi.

Trump Klaim Menang

Presiden AS Donald Trump mengklaim AS telah meraih "kemenangan total dan penuh" setelah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Trump meyakini gencatan senjata itu akan berujung pada kesepakatan jangka panjang antara AS dan Iran, saat perundingan berlanjut pekan ini.

Trump, seperti dilansir AFP, Rabu (8/4), tampak optimis soal gencatan senjata dengan Iran, yang diumumkannya menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS itu untuk serangan besar-besaran terhadap Teheran.

Dalam wawancara khusus via telepon dengan AFP usai pengumuman itu, Trump juga melontarkan keyakinannya soal China telah membujuk Iran untuk bernegosiasi dan mengatakan bahwa uranium yang diperkaya milik Teheran akan "ditangani secara sempurna".

"Kemenangan total dan sepenuhnya. 100 persen. Tidak ada keraguan tentang hal itu," kata Trump dalam wawancara singkat dengan AFP, ketika ditanya apakah dia mengklaim kemenangan dengan gencatan senjata tersebut.

Trump, dalam pengumuman via Truth Social pada Selasa (7/4) malam, mengatakan dirinya "setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu". Namun dia memperingatkan bahwa hal ini disertai syarat, yaitu Iran harus membuka kembali Selat Hormuz dengan "SEPENUHNYA, SEGERA, dan AMAN".

Dengan ketidakpastian mengenai pengaturan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas minyak khususnya, Trump bersikeras mengatakan ada kerangka kerja yang kuat untuk kesepakatan jangka panjang.

"Kita memiliki transaksi 15 poin, yang sebagian besar telah disepakati. Kita lihat saja apa yang terjadi. Kita lihat apakah kesepakatan itu akan tercapai," ucapnya.

Trump, dalam pernyataannya, menyebut proposal 10 poin yang diajukan Iran bisa menjadi dasar negosiasi lebih lanjut dan "dapat dilaksanakan".

Namun Trump tidak menjawab secara tegas saat ditanya apakah dia akan kembali pada ancamannya untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan sipil Iran, jika negosiasi lanjutan gagal mewujudkan kesepakatan.

"Anda harus melihatnya sendiri," kata Trump kepada AFP.

Mojtaba: Bukan Akhir Perang

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menginstruksikan semua unit militer negaranya untuk berhenti menyerang setelah gencatan senjata disepakati selama dua minggu dengan AS. Namun Mojtaba juga memperingatkan bahwa gencatan senjata itu "bukanlah akhir dari perang".

Pernyataan Khamenei itu, seperti dilansir NDTV dan Hindustan Times, Rabu (8/4), disampaikan oleh stasiun penyiaran milik negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), setelah AS dan Iran mengumumkan mereka menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, dalam perundingan yang dimediasi Pakistan.

"Ini bukanlah akhir dari perang, tetapi semua cabang militer harus mematuhi perintah Pemimpin Tertinggi dan menghentikan tembakan mereka," kata Mojtaba Khamenei dalam pernyataannya.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran secara terpisah menyampaikan peringatan serupa, dengan mengatakan bahwa "jari kami tetap berada di pelatuk" yang mengisyaratkan Teheran siap menyerang jika musuh bertindak dengan cara apa pun.

"Ditekankan bahwa ini tidak menandakan berakhirnya perang," sebut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam pernyataan yang dirilis usai pengumuman gencatan senjata dengan AS.

"Jari kita tetap berada di pelatuk, dan jika kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh, itu akan ditanggapi dengan kekuatan penuh," tegas Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Pernyataan Mojtaba, yang diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel pada akhir Februari lalu, dirilis saat dia dilaporkan dalam kondisi tidak sadarkan diri dan sedang menjalani perawatan medis darurat di kota Qom, Iran.

Kondisinya memicu keraguan serius tentang siapa sebenarnya yang memimpin Iran saat perang berkecamuk melawan AS dan Israel beberapa pekan terakhir.

Simak juga Video Prabowo Bicara soal Selat Hormuz-Posisi Strategis RI

Halaman 2 dari 3
(azh/rfs)


Berita Terkait