Cuaca ekstrem terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. BMKG menyatakan hal itu tidak berkaitan dengan terjadinya fenomena gerhana bulan total.
"Gerhana bulan tidak memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca, terutama di wilayah Indonesia," kata Direktur Meteorologi Publik, Ida Pramuwardani, dalam jumpa pers secara daring, Rabu (4/3/2026).
Ida menjelaskan, cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir terjadi oleh sejumlah faktor. Pertama, munculnya bibit siklon 90S dan 93S di selatan Jawa dan sekitar Samudera Hindia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampak dari bibit siklon ini adalah peningkatan hujan, salah satunya peningkatan hujan di beberapa wilayah seperti Jawa Barat bagian barat, Jawa bagian timur, Jawa bagian tengah, Bali, sampai dengan Nusa Tenggara," ujar Ida.
Selain bibit siklon, cuaca ekstrem di Indonesia juga disebabkan oleh masih aktifnya Munson Asia. Munson ini, menurut Ida, memberikan kontribusi pada pengangkatan masa udara di wilayah Indonesia bagian selatan hingga menyebabkan hujan deras.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menambahkan, BMKG telah menyiapkan langkah dalam menghadapi cuaca ekstrem tersebut. Mulai hari ini, BMKG bersama BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia.
"BMKG sudah berkoordinasi dengan BNPB dan juga pemerintah provinsi bahwa mulai hari ini dalam mengantisipasi cuaca ekstrem tadi BMKG dan BNPB akan memulai operasi modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bali mulai hari ini," katanya.
Teuku juga mengatakan kondisi cuaca di Jakarta terus dipantau oleh BMKG. Operasi modifikasi cuaca juga segera dilakukan jika dinilai perlu.
"Untuk DKI Jakarta akan terus dipantau kondisinya jika diperlukan BPBD DKI Jakarta akan membiayai pelaksanaan operasi modifikasi cuaca," pungkas Teuku.
Lihat juga Video: Antisipasi Cuaca Ekstrem, BMKG-BNPB Mulai Operasi Modifikasi Cuaca
(ygs/dhn)










































