Keluarga menggelar tahlilan almarhumah Meriyati Hoegeng atau Eyang Meri, istri Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Tahlilan digelar selama tujuh hari.
Cucu Jenderal Hoegeng, Krisnadi Ramajaya Hoegeng (Rama) menyampaikan, tahlilan dilaksanakan di kediaman di Kompleks Pesona Khayangan, Depok, sejak 4 Februari hingga 10 Februari. Tahlilan dimulai pukul 19.30 WIB.
Eyang Meri berpulang pada usianya yang ke-100 tahun. Eyang Meri meninggal di RS Polri pada Selasa siang kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenazah Eyang Meri dimakamkan di sebelah makam mendiang suaminya, Jenderal Hoegeng. Seusai pemakaman, putra Eyang Meri, Aditya Sutanto Hoegeng, mengenang pesan mendiang ibundanya.
Salah satu pesan yang diingatnya adalah tidak boleh menggunakan fasilitas dinas.
"Nasihat-nasihat yang ke anak-anak, itu sulit. Kita tidak pernah merasakan fasilitas, tidak boleh mempergunakan fasilitas dinas, dan itu semua Ayah sampaikan ke Ibu, Ibu turunkan ke kami," kata Aditya seusai pemakaman Eyang Meri di Makam Giri Tama, Kecamatan Tajurhalang, Bogor, Rabu (4/2).
Dia juga mengenang sosok ibundanya yang sangat penyabar. Menurutnya, Eyang Meri tidak pernah sekali pun menggunakan tangan dalam mendidik anak-anaknya.
Adapun Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenang kebaikan Eyang Meri. Eyang Meri, menurut Kapolri, banyak memberikan pesan yang baik.
"Tentunya, selama almarhumah hidup, beliau banyak sekali membawa pesan-pesan yang selalu disampaikan di setiap kami bertemu," kata Kapolri seusai pemakaman.
Jenderal Sigit mengatakan pesan Eyang Meri menjadi inspirasi baginya serta mendorong seluruh insan Bhayangkara untuk menjaga integritasnya.
"Dan apa yang telah diteladankan oleh beliau dalam kegiatan-kegiatan yang kami lakukan antara lain beberapa kali kami melaksanakan Hoegeng Awards," imbuhnya.
Lihat juga Video 'Prabowo Anugerahkan Bintang Bhayangkara Pratama ke Meri Hoegeng':
(idn/imk)










































