Cerita Pilu Korban Banjir di Pandeglang: Rumah Rusak, Uang Jualan Hanyut

Cerita Pilu Korban Banjir di Pandeglang: Rumah Rusak, Uang Jualan Hanyut

Aris Rivaldo - detikNews
Jumat, 16 Jan 2026 16:04 WIB
Cerita Pilu Korban Banjir di Pandeglang: Rumah Rusak, Uang Jualan Hanyut
Asniah (65), salah satu penyintas banjir di Pandeglang, Banten (Aris Rivaldo/detikcom)
Jakarta -

Sudah hampir satu pekan banjir di Kecamatan Patia dan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, belum surut. Banjir tersebut telah merusak rumah dan usaha warga.

Salah satunya, Asniah (65), penyintas banjir di Kecamatan Patia. Banjir yang melanda permukiman warga tak hanya merusak bangunan, tetapi juga menghanyutkan uang yang ia simpan untuk modal usaha.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehari-hari, Asniah berjualan gorengan keliling untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat banjir datang, rumah berdinding bambu dan warungnya rusak. Uang Rp 1,7 juta untuk modal jualan gorengan juga hanyut terbawa air.

"Bekerja sebagai penjual gorengan, hidup sendirian, air datang Ibu lagi di luar. Uang ketinggalan di warung, hanyut kebawa Rp 1,7 juta buat modal jualan gorengan. Jualan gorengan keliling ke kampung, nggoreng di warung, entar dibawa keliling sama Ibu. Bikin keripik, bikin apa. Udah... Ibu mah cuma begitu doang pekerjaannya," kata Asniah di rumahnya di Kampung Eretan, Desa Surianen, Patia, Jumat (16/1/2026).

Untuk menambah pendapatan, Asniah juga sering bekerja di sawah, menanam dan memanen padi. Namun, akibat banjir yang melanda hampir sepekan ini, sawah yang biasanya ia kelola tidak bisa ditanami maupun dipanen.

"Ke sawah kalau ada (panggilan). Ini mah ke sawah padinya gapuk (nggak ada isinya)," ucapnya.

Hidup sebatang kara sejak suaminya meninggal enam tahun lalu, Asniah kini menjadi tulang punggung keluarga. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan memilih tinggal terpisah.

Asniah mengaku hidup sebatang kara karena suaminya meninggal enam tahun lalu. Sedangkan anak-anaknya sudah berkeluarga dan memilih tinggal terpisah.

"Hidup sendiri, hidup nggak bersuami. Kalau ada suami, mendingan, ada yang ngerjain, ada yang apa. Ibu mah hanya bisa nangis doang semenjak uang Ibu palid (hanyut)," katanya.

Selama banjir, Asniah mengaku belum menerima bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski begitu, Asniah tetap bersyukur masih dapat bertahan hidup setelah mengalami bencana ini.

"Ini bukan rekayasa, Ibu bukan minta dikasih, tapi yang penting Ibu selamat. Mudah-mudahan hati dermawan mau membantu Ibu. Ibu juga pengin punya rumah layak seperti orang lain," tuturnya.

Tonton juga video "Tanggul Sungai Jebol, Permukiman Brangsong Kendal Terendam Banjir"

(amw/amw)


Berita Terkait