Autopsi merupakan hal yang penting dalam mengungkap kasus kematian tidak wajar. Proses itu kerap dipilih sebagai langkah objektif memberikan bukti objektif dalam penyidikan kepolisian.
Dunia forensik Indonesia sudah tidak asing dengan sosok Brigjen Sumy Hastry Purwanti yang saat ini menjabat sebagai Karo Labdokkes Pusdokkes Polri. Dia kerap terlibat dalam proses autopsi dan identifikasi korban berbagai kasus kriminal atau kecelakaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah Brigjen Sumy Hastry yang telah berkiprah 25 tahun di bidang forensik akan diangkat menjadi sebuah film dengan judul Autopsy 'Dead Body Can Talk'. Sumy Hastry merupakan polwan pertama di Asia yang bergelar doktor forensik.
"Secara kebetulan selain dokter forensik, saya juga seorang anggota polisi. Jadi apapun yang saya kerjakan memang untuk keadilan dan kebenaran," kata Sumy dalam launching produksi Autopsy 'Dead Body Can Talk' di STIK Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (29/11/2025).
Bagi Hastry, autopsi bukan sekedar mengurai kematian, tetapi juga cara untuk mencari keadilan. Sebab, menurutnya, setiao jenazah punya hak untuk teridentifikasi.
"(Autopsi) memang mencari keadilan dan kebenaran dari yang sudah tidak bisa bicara atau yang telah pergi meninggalkan kita," ucap Hasty.
"Dari awal saya menjadi dokter spesialis forensik, memang secara langsung saya selalu menginginkan mereka itu punya hak asasi untuk teridentifikasi dirinya, bahkan sampai sebab kematiannya itu bagaimana. Karena tanpa itu, mereka akan pergi secara cuma-cuma," lanjutnya.
Hastry berharap film yang digagas oleh anggota Divisi Hubinter Polri, AKBP Rina Sry Nirwana Tarigan ini dapat menjadi gambaran tentang bagaimana manusia terakhir kali bercerita lewat tubuhnya.
"Harapan saya, semoga film ini untuk edukasi kepada masyarakat dan secara khusus, masyarakat juga tahu kalau tugas Polisi itu sebenarnya ya seperti ini. Untuk mengungkap kasus-kasus kejahatan tindak pidana yang berhubungan dengan tubuh manusia dan bisa dibuktikan secara ilmiah," harap Hastry.
"Jadi teman-teman penyidik itu tidak pernah berhenti bekerja atau mengejar siapa pelaku sebenarnya. Walaupun memang dalam perjalanannya, yang dikasih kemudahan ke diri saya sebagai dokter forensik, dengan petunjuk-petunjuk yang kadang orang awam tidak percaya ya," sambungnya.
Setiap Tubuh Menyimpan Cerita dan Setiap Luka Adalah Pesan
Pada kesempatan yang sama, sutradara Film Autopsy 'Dead Body Can Talk', Ozan Ruz menyebut film ini akan mulai melakukan produksi pada Senin (1/12) mendatang. Lima anggota Polri turut ambil bagian menjadi pemeran.
Ozan berharap film yang rencananya bakal tayang pada tahun 2026 ini dapat memberikan pesan mendalam bagi penonton. Sebab film itu akan bercerita tentang suara yang mencari keadilan dibalik kematian.
"Hal yang paling penting yang harus kita sampaikan, yang harus dirasakan oleh setiap penontonnya nanti adalah sebuah pesan. Karena film ini bukan tentang kematian, melainkan tentang keadilan. Tentang sebuah keadilan yang tetap bersuara meski dari balik kematian," ucapnya.
Kisah Brigjen Hastry, kata dia, menyiratkan makna tentang kemampuan melihat dan mendengar bukan beban. Melainkan takdir untuk membantu mereka yang tak mampu lagi bicara.
"Kita belajar bahwa setiap tubuh menyimpan cerita, dan setiap luka adalah pesan. Ia menjadi jembatan antara sains dan nurani, antara yang hidup dan yang mati, menyatu demi keadilan," jelas Ozan.
Film Autopsy, lanjut Ozan, mengangkat sisi kemanusiaan profesi forensik yang mendedikasikan dirinya untuk suara korban. Dimana sains dan spiritual berjalan berdampingan untuk memperkuat empati dan pencarian kebenaran.
"Sosok gaib hanyalah simbol dari beban moral yang belum terselesaikan. Empatinya begitu dalam hingga kepekaannya mampu melampaui batas yang tak terlihat," lanjut Ozan.
"Ia mendengar apa yang tak lagi bisa diucapkan, bukan karena mengejar dunia gaib, tetapi karena nuraninya menolak membiarkan jasad pergi tanpa keadilan," terangnya.
Menurutnya, profesi Brigjen Sumy Hastry bukan sekedar keberhasilan memecahkan kasus, melainkan bentuk cinta terbesar bagi kemanusiaan.
"Yang paling penting, saya berharap, dan kita semua ingin memperlihatkan bahwa autopsi berbicara lebih keras daripada sebuah teriakan. Keheningan ruang autopsi berbicara lebih keras daripada teriakan," pungkasnya.
(ond/maa)










































