Kasus HIV/AIDS di Bogor Naik Jadi 7.923, Remaja Diminta Waspadai Paparan

ADVERTISEMENT

Kasus HIV/AIDS di Bogor Naik Jadi 7.923, Remaja Diminta Waspadai Paparan

M Sholihin - detikNews
Selasa, 06 Des 2022 10:45 WIB
Laboratory Request, Hiv Test, Hiv Positive
Ilustrasi HIV/AIDS (Getty Images/iStockphoto/atakan)
Jakarta -

Wakil Wali Kota (Wawalkot) Bogor Dedie A Rachim mengungkapkan saat ini 7.923 orang tercatat mengidap human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) di Kota Bogor. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Jumlah penderita HIV/AIDS hanya 7.601 orang.

"Data di Kota Bogor menunjukkan kumulatif tahun 2021 sebanyak 5.750 kasus HIV dan sebanyak 1.851 kasus AIDS. Kumulatif sampai September 2022 sebanyak 6.058 kasus HIV dan sebanyak 1.865 kasus AIDS," kata Dedie dalam keterangannya, Selasa (6/12/2022).

Dedie mengatakan remaja memiliki tingkat risiko yang tinggi terpapar HIV/AIDS yang cukup tinggi. Dari potensi pergaulan, aktivitas di luar rumah, hingga pergaulan seksual yang membahayakan.

Menurutnya, pengawasan dan edukasi bahaya serta pencegahan HIV/AIDS kepada anak-anak, khususnya remaja harus lebih digencarkan.

"Fenomena gunung es ini harus semakin diperkecil, jangan sampai di bawah tidak terdeteksi akhirnya menggelembung tambah banyak. Apa yang menjadi langkah kita mudah-mudahan memberikan hasil manfaat di masa depan," kata Dedie.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno menjelaskan peningkatan kasus HIV/AIDS paling tinggi terjadi pada populasi kunci laki seks laki (LSL) dengan 98 kasus HIV.

"Peningkatan kasus juga terjadi pada populasi kunci transgender sebanyak 3 kasus HIV, pengguna narkoba suntik (penasun) 2 kasus HIV, warga binaan pemasyarakatan (WBP) 3 kasus HIV, ibu hamil sebesar 12 kasus HIV, dan pasien TB sebesar 112 kasus HIV," ungkap Sri Nowo.

Sri Nowo mengatakan pengendalian HIV dalam mencapai 95 persen orang dengan HIV mengetahui status terinfeksi HIV, 95 persen orang dengan HIV minum obat ARV, dan 95 persen pemeriksaan viral load (VL) tersupresi, masih mengalami banyak kendala.

"Hal ini karena upaya pencegahan yang belum optimal, retensi pengobatan ARV yang rendah, masih dirasakannya ketidaksetaraan dalam layanan HIV, khususnya pada perempuan, anak dan remaja serta masih dirasakannya stigma dan diskriminasi," tambahnya.

Ia menyebut perlu dukungan dari semua pihak dan masyarakat untuk berperan aktif dalam mengakhiri epidemi AIDS dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.

"Untuk mencapai ending AIDS tahun 2030, upaya pengendalian dilakukan dengan strategi, pencegahan, penemuan kasus dan penanganan kasus didukung dengan berjalannya transformasi kesehatan. Termasuk penguatan layanan primer, pencakupan kesehatan semesta dan pelibatan masyarakat atau komunitas," pungkasnya.

Simak Video 'AIDS dan 10 Gejala Umumnya: Batuk Kering-Demam':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT