Kenalkan Resa Boenard 'Princess' Bantar Gebang, Bangun Istana Ilmu di Bukit Sampah

ADVERTISEMENT

Kenalkan Resa Boenard 'Princess' Bantar Gebang, Bangun Istana Ilmu di Bukit Sampah

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 03 Jul 2022 06:56 WIB
Jakarta -

Di Balik tumpukan sampah yang menggunung puluhan meter, kawasan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPSP) Bantar Gebang, berdiri sebuah bangunan yang berbeda dari yang lainnya.

Sekilas, bangunan itu berbentuk mirip istana. Sayang, kharismanya redup bagaikan mutiara yang kehilangan pendaran cahaya. Dindingnya tampak kusam dan berdebu. Tanaman rambat yang menempel pun terlihat tidak terawat lagi. Sementara itu, kardus-kardus bekas tergeletak di tepi halaman depannya, tulisan-tulisan yang dibuat dengan cat warna-warni pun telah memudar.

Pemandangan tersebut seakan mengisyaratkan bahwa 'istana' itu sudah tak berpenghuni. Namun, tanaman-tanaman pot yang masih terawat baik di halaman, menandakan sebaliknya.

Resa Boenard menyambut kami dari balik pintu. Auranya memancar di antara pintu kayu yang mulai lapuk. Senyum Resa meyakinkan kami akan harapan yang tersisa dari sekolah kecil yang didirikannya sejak 18 tahun lalu ini, 'istana' yang mereka kenal sebagai The Kingdom of BGBJ.

"Masa kecilku seperti anak-anak lainnya. Hanya saja, aku lahir di tempat pembuangan sampah," tutur Resa dalam program Sosok detikcom, Minggu (3/7/22).

Hidup di tengah lautan sampah, masa kecil Resa diwarnai oleh berbagai macam perundungan. Sebagai anak bantar Gebang, Ia sering disebut sebagai penyebar bau tak sedap. Bukan hanya terjadi dalam waktu singkat, perundungan tetap dialaminya hingga menginjak bangku kuliah. Bahkan, Resa kerap disapa sebagai 'Princess Bantar Gebang'. Namun, Resa yang selalu percaya diri tak pernah mempermasalahkan hal itu.

"Terus aku yang dengan percaya diri 'Hello!', tidak yang langsung murung, malah senyum-senyum sama orang, 'Nanti datang ya ke istana gue ya, gue kasih belatung lu semua," kenang Resa.

Tinggal di Bantar Gebang membuat Resa paham benar tentang kurangnya pendidikan untuk anak-anak pemulung di sana. Dengan alasan itu, pada tahun 2004 ia mendirikan tempat belajar. Ia menamai tempat itu "Sanggar Bantar Gebang atau Sanggar Satu Untuk Semua". Seiring berjalannya waktu, nama itu diganti menjadi "The Kingdom of Bantar Gebang Biji" (BGBJ) sebelas tahun setelahnya.

Dida anak Bantar Gebang yang pandai berbahasa inggris, halaman selanjutnya.

Kelompok belajar di BGBJ terdiri dari kelas calistung, bahasa Inggris, kelas motivasi, musik, dan workshop recycle. Kelas motivasi menjadi program utama Resa. Alasannya, banyak anak-anak Bantar Gebang yang tidak percaya diri dengan latar belakang mereka.

"Segitu beratnya label anak-anak Bantar Gebang membuat anak-anak ini merasa mereka itu nggak punya arti apa-apa karena mereka 'anak sampah'," tuturnya.

Usaha Resa tak sia-sia. Ia melihat sendiri bagaimana anak-anak didiknya memupuk kepercayaan diri lewat berbagai program di BGBJ.

"Sekarang perubahannya aku lihat anak-anak di Bantar Gebang ini, di BGBJ mereka mulai percaya diri. Dulu kalau misalnya ada Kongres Anak atau acara apapun itu berhubungan dengan anak-anak, mereka dibawa ke Jakarta atau ke tempat yang lain itu mereka selalu memisahkan diri di pojokan. Minder karena mereka dari Bantar Gebang," jelas Resa.

Salah satu anak didik Resa, Dida, memberi pernyataan senada. Anak laki-laki yang bercita-cita menjadi dokter itu senang. Berkat BGBJ, ia mendapat ilmu dan teman-teman baru. Tidak hanya itu, ia mampu melihat sisi positif dari dalam dirinya. Hasilnya, Dida menjadi lebih percaya diri.

"Kata Kak Resa, jangan malu kalau tinggal di Bantar Gebang, karena walaupun orang tua kita pemulung tapi kan mereka orang tua kita. Kita bisa tetap hidup sampai saat ini," tutur Dida.

Resa tak memungut biaya pada anak-anak Bantar Gebang yang ingin belajar di BGBJ. Ia malah banyak menyalurkan bantuan pokok pada keluarga anak-anak didiknya. Baginya, melihat anak-anak Bantar Gebang termotivasi dan sadar pendidikan sudah menjadi imbalan yang besar.

"Fokus aku itu lebih ke bagaimana untuk memotivasi anak-anak di pembuangan sampah, karena aku merasa sebagai salah satu anak yang dibesarkan di Bantar Gebang. Zaman aku dulu tidak ada yang memotivasiku, tidak ada orang-orang dari luar negeri untuk ajari aku bahasa Inggris di Bantar Gebang. Kalau sekarang kan adik-adik ini sebelum pandemi itu tiap hari kita punya orang asing untuk ajari mereka berbahasa Inggris," jelas Resa.

Istana yang tergusur, halaman selanjutnya.

Namun, sejak akhir 2021 Resa sedang disibukkan dengan rencana BGBJ untuk pindah lokasi. Mempertahankan 'istana' BGBJ di Bantar Gebang sudah tak lagi jadi opsi. Sebab, proyek pemerintah sedang akan dikerjakan di atas tanah BGBJ.

Resa terpukul. Ia bahkan sempat mengalami burnout hingga menghindari komunikasi dengan orang lain selama empat minggu lamanya. Namun, ia kembali bangkit mengingat tanggung jawabnya pada BGBJ dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Kini, Resa sedang fokus menggalang dana untuk membeli lahan yang akan menjadi markas baru BGBJ. Semangatnya semakin menebal. Di masa-masa sulit seperti itu, ia dibantu anak-anak didik BGBJ serta para orang tuanya untuk mengemasi barang-barang BGBJ untuk dibawa ke tempat baru.

"Tanah yang baru itu (harganya) 2,4 miliar. Kita harus mencari 1,4 miliar lagi. Jadi sudah punya 1 miliar sekarang. Ya minggu-minggu ini kegiatan kita lebih banyak curhat-curhat sama adik-adik dan juga berdoa," tutur Resa.

Ia berharap segera bisa membeli tempat baru yang diincarnya. Dengan begitu, kegiatan BGBJ tidak perlu berhenti lama.

(nad/vys)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT