ADVERTISEMENT

Unissula Usulkan Capres Pemersatu Bangsa

Sponsored - detikNews
Kamis, 30 Jun 2022 14:45 WIB
Unissula
Foto: dok. Unissula
Jakarta -

Rektor Unissula Semarang Prof Dr Gunarto, memberikan pandangannya terkait prospek pilpres 2024. Menurutnya Capres di 2024 diharapkan bisa membangun kesejukan dan merekatkan semua potensi bangsa.

"Capres 2024 mendatang mesti mampu mencerminkan simbol pemersatu bangsa. Kalau kita gagal merumuskan pasangan Capres pemersatu bangsa, maka problem potensi perpecahan sesama anak bangsa akan terus terjadi dan berlarut-larut," ungkap Gunarto dalam keterangan tertulis.

Lebih lanjut Guru Besar Fakultas Hukum Unissula tersebut memberikan pandangannya terkait perjalanan politik pada 10 tahun prihatin. Ia mengakui prihatin karena dalam perjalanan politik tersebut dipenuhi oleh tema-tema kontra produktif.

"Kualitas berbangsa kita begitu rendah. Energi kita sebagai anak bangsa terkuras habis oleh perdebatan publik yang menjurus ke proses disintegrasi sesama anak bangsa. Ini yang harus dihentikan," jelas Gunarto.

Ia menambahkan, pengkubuan antar anak bangsa juga telah menghabiskan energi, sehingga membuat fokus pembangunan jadi terganggu.

"Negara seperti tidak tahu mana yang jadi prioritas mana yang tidak. Dan ini sangat melelahkan bagi siapapun. Jalan satu-satunya kita mulai dari calon pemimpin. Mereka mesti dari pasangan yang mampu menjadi simbol pemersatu bangsa," tuturnya.

Menurut Gunarto, secara teoritik ada kemunduran terhadap implementasi nilai-nilai Pancasila, terutama sila ketiga Persatuan Indonesia.

"Tema-tema yang membenturkan nilai-nilai Pancasila dengan Islam sebagai agama mayoritas intensitasnya makin tinggi. Secara sosial politik situasi ini tidak sehat," ujar Gunarto.

Bagi Gunarto, kondisi ini telah terbukti mengurangi harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Melihat kondisi sosial politik saat ini, Ia menuturkan Unissula berpandangan pasangan Capres mendatang mesti mampu mencerminkan sebagai simbol pemersatu bangsa.

"Kita mesti secara bersama-sama mampu mengakhiri dikotomi sosial politik yang selama ini muncul di ruang publik.Seperti misalnya istilah Cebong, Kampret, Kadrun dan membenturkan antara Pancasila dan Islam. Mesti dihentikan, karena terbukti sangat menguras energi bangsa yang tidak perlu," katanya.

Pemikiran Soepomo

Gunarto menambahkan para pendiri bangsa seperti Prof Soepomo sebenarnya telah meletakkan landasan yang paling mendasar tentang pentingnya menyatukan bangsa. Prof Soepomo melalui teori Integralistik yang telah mengingatkan semua unsur komponen bangsa untuk meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas kepentingan individu, kelompok dan suku.

Secara garis besar, menurut Gunarto, teori integralistik Soepomo menjelaskan tentang hubungan antara masyarakat dengan penguasa negara, sehingga membentuk satu kesatuan utuh yang didukung oleh rasa kekeluargaan serta kebersamaan.

"Teori ini punya enam prinsip dasar. Pertama negara merupakan susunan masyarakat yang bersifat erat dan integral. Kedua, seluruh anggota masyarakat organik yang utuh dan satu. Ketiga, persatuan masyarakat menjadi hal yang paling utama. Keempat, negara tidak memihak golongan tertentu. Kelima, negara dan rakyat saling bersatu membentuk persatuan. Dan keenam, negara mempunyai posisi lebih tinggi di atas semua golongan dalam berbagai bidang," tandas Gunarto.

Pesan Islam, terhadap nilai-nilai persatuan juga sangat jelas. Persatuan dalam Islam merupakan hal yang sangat penting. Sebaliknya, umat Islam dilarang untuk saling berseteru karena akan merugikan umat.

Ia juga mengutip surat Ali Imran ayat 103 yang berbunyi 'Dan berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah. Dan janganlah kamu bercerai berai'. Jadi menurutnya, seorang pemimpin memang perlu punya visi besar dan terukur.

"Tapi pasangan Capres yang bisa menjadi pemersatu, untuk saat ini lebih dibutuhkan," jelasnya.

(Content Promotion/Unissula)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT