Andre Rosiade Ingatkan Erick soal 3,2 Juta Dosis Vaksin Gotong Royong

Gibran Maulana - detikNews
Selasa, 24 Mei 2022 12:46 WIB
Andre Rosiade
Andre Rosiade (dok. Andre Rosiade)
Jakarta -

Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, Andre Rosiade, mempertanyakan nasib 3,2 juta dosis vaksin Sinopharm senilai kurang-lebih Rp 400 miliar yang stoknya masih tersedia hingga saat ini. Andre menyebut, di saat yang bersamaan, PT Bio Farma (Persero) akan memproduksi vaksin buatan dalam negeri, yakni Vaksin BUMN, pada Juli tahun ini.

Andre mengatakan saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pandemi menuju endemi. Karena itu, perlu ada strategi agar proyek vaksin oleh BUMN Holding Farmasi ini tidak merugi.

"Saya dengar vaksin COVID-19 produksi BUMN akan di-launching bulan Juli. Dengan kebijakan pemerintah mengubah status pandemi menuju endemi, bagaimana nasib vaksin ini, Pak? Apakah ini nanti dilibatkan sebagai booster ketiga, booster keempat, atau bagaimana. Jangan sampai ini proyek merugi," kata Andre saat rapat dengar pendapat Komisi VI DPR RI dengan Dirut BUMN Holding Farmasi seperti dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (24/5/2022).

Andre mengingatkan hingga saat ini masih ada stok 3,2 juta dosis vaksin Sinopharm yang belum terpakai. Vaksin ini disebut bagian dari pengadaan Vaksin Gotong Royong kerja sama BUMN Holding Farmasi dengan Sinopharm.

"Ada namanya vaksin gotong royong. Ini vaksinnya Sinopharm. Saya dengar Bapak punya stok 3,2 juta dosis vaksin. Kalau dihitung angka uangnya itu Rp 400 miliar, Pak. Jangan sampai ini nanti jadi temuan," kata Ketua DPD Gerindra Sumatera Barat ini.

Untuk mengurai persoalan itu, Andre mendorong Kementerian BUMN dan Kementerian Kesehatan bisa duduk bersama memberikan solusi terbaik bagi sisa vaksin COVID-19. Mengingat vaksin BUMN yang akan diluncurkan pada Juli 2022 dan vaksin gotong royong Sinopharm sebanyak 3,2 juta dosis masih belum disalurkan pada masa akhir pandemi COVID-19.

"Saya minta ini masuk dalam kesimpulan, selain vaksin BUMN, bagaimana agar Menteri BUMN dan Menteri Kesehatan bisa mendahulukan vaksin BUMN dan juga memikirkan nasib vaksin Sinopharm yang 3,2 juta dosis senilai Rp 400 miliar. Ini angka yang besar. Jangan sampai untung menjadi buntung. Jangan sampai yang sekarang sukses luar biasa, nanti ada temuan BPK karena vaksin Sinopharm-nya kedaluwarsa dan tidak bisa dipakai," kata Andre.

(gbr/fjp)