ADVERTISEMENT

5 Kali Jokowi Ingatkan Sense of Crisis ke Menteri: Pandemi-Perang di Ukraina

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 10 Mei 2022 08:11 WIB
Presiden Jokowi
Foto: Biro Pers Setpres
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) lagi dan lagi mengingatkan jajarannya di Kabinet Indonesia Maju terkait kepekaan krisis (sense of crisis) di dalam negeri dalam menghadapi kondisi global. Setidaknya sudah lima kali Jokowi mengingatkan para menteri.

Hal itu disampaikan Jokowi terkait berbagai persoalan dari pandemi COVID-19, naiknya harga bahan bakar, hingga perang di Ukraina.

Berikut momen-momen Jokowi mengingatkan para menteri agar peka terhadap potensi krisis di dalam negeri.

9 Mei 2022

Yang paling baru, Jokowi menyampaikan persoalan krisis berkaitan dengan perang di Ukraina. Dia meminta agar jajarannya memiliki kepekaan tinggi terhadap potensi krisis di dalam negeri.

"Saya ingin ingatkan lagi agar kita semua memiliki kepekaan yang tinggi mengenai krisis yang ada di negara kita dalam menghadapi krisis global," kata Jokowi seperti disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Senin (9/5/2022).

Hal itu disampaikannya dalam pengantar pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, hari ini. Jokowi mengatakan hal ini terkait kewaspadaan terhadap gejolak ekonomi global.

"Sampai saat ini perang di Ukraina belum berakhir, kelihatannya menunjukkan tanda-tanda yang berkepanjangan sehingga ketidakpastian global menjadi semakin tidak pasti," ucapnya.

"Saya sudah minta kemarin kepada Seskab agar setiap minggu seperti kita lakukan rapat terbatas mengenai PPKM, ini juga sama, urusan pangan, urusan energi harus dilakukan mingguan karena betapa pentingnya pengelolaan 2 hal ini bagi stabilisasi, stabilitas ekonomi kita, utamanya stabilitas harga dan barang pokok rakyat," sambungnya.

Ternyata wanti-wanti Jokowi soal krisis bukan hanya sekali diucapkan. Beberapa kali Jokowi mengingatkan jajarannya soal sense of crisis.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

28 April 2022

Jokowi sempat menyampaikan terkait sense of crisis kepada jajarannya dalam mengantisipasi situasi krisis yang penuh ketidakpastian. Pernyataan Jokowi itu disampaikan beberapa hari lalu, tepatnya saat peresmian pembukaan musyawarah perencanaan pembangunan nasional, seperti disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (28/4). Jokowi awalnya berbicara mengenai situasi ekonomi dan politik global.

"Pandemi belum sepenuhnya berakhir, beberapa negara masih bergulat menekan penyebaran COVID-19. Bahkan masih melakukan lockdown, kemudian terjadi gangguan supply chain yang dampaknya ke mana-mana. Belum lagi dunia yang dihantam perang antara Rusia dan Ukraina yang memunculkan krisis energi dan krisis pangan," kata Jokowi.

Situasi itu, kata Jokowi, menyebabkan inflasi global meningkat tajam dan pertumbuhan ekonomi global mengalami perlambatan. Jokowi mencontohkan tingkat inflasi di Turki dan Amerika yang lebih tinggi dari biasanya.

Jokowi berharap semua pihak dapat menghitung secara cermat saat membuat kebijakan untuk mengantisipasi krisis. Jokowi mengingatkan semua pihak siap jika krisis berlanjut sampai tahun depan.

Karena itu lah, Jokowi mengingatkan tentang pentingnya sense of crisis. Jokowi meminta perencanaan yang baik dalam semua kebijakan.

"Hati-hati semuanya, semua kita harus memiliki sense of crisis, jangan seperti biasanya, jangan business as usual, hati-hati, sense of crisis, harus ada di kita semuanya. Sehingga kita harus ada perencanaan yang baik, harus ada skenario yang pas dalam menghadapi situasi yang tidak pasti ini," ujar Jokowi.

5 April 2022

Pada bulan yang sama, beberapa minggu sebelumnya, Jokowi sempat menyinggung komunikasi publik para menteri yang dinilai tidak memiliki sense of crisis. Kala itu, Jokowi meminta jajarannya memiliki empati terhadap kesulitan rakyat.

Dalam sidang kabinet paripurna yang digelar Selasa (5/4), Jokowi menegur para menteri yang tidak peka terhadap dinamika kenaikan harga kebutuhan pokok dan Pertamax. Jokowi meminta para menteri menceritakan alasan kenaikan agar bisa berempati.

"Sikap-sikap kita, kebijakan-kebijakan kita, pernyataan-pernyataan kita harus memiliki sense of crisis. Harus sensitif terhadap kesulitan-kesulitan rakyat," kata Jokowi seperti dalam video yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (6/4).

Jokowi menyoroti kenaikan harga Pertamax dan menyinggung soal kenaikan harga yang alasannya tidak diceritakan kepada rakyat. Jokowi meminta menterinya memiliki empati terkait masalah ini lantaran selama ini tidak ada penjelasan terkait masalah kenaikan harga energi ini.

"Ada empati kita gitu loh. Nggak ada. Yang berkaitan dengan energi nggak ada. Itu yang namanya memiliki sense of crisis yang tinggi," ungkapnya.

Jokowi memperingatkan kabinetnya bisa dianggap tidak bekerja jika hanya diam saja. Apalagi jika tidak ada pernyataan dari menteri terkait.

"Kalau kerja nggak detail, kerja nggak betul-betul dilihat dan kita diem semuanya, nggak ada statement, dianggap kita ini nggak ngapa-ngapain atau nggak kerja," tegasnya.

Simak pernyataan Jokowi lainnya di halaman berikutnya.

16 Juli 2021

Presiden Jokowi memberikan arahan terkait komunikasi publik para menteri. Jokowi saat itu meminta komunikasi publik harus menimbulkan ketenangan.

"Yang berkaitan dengan komunikasi publik itu yang menimbulkan optimisme, yang menimbulkan ketenangan. Karena terus terang saja, masyarakat ini khawatir mengenai COVID-19 yang naik terus, kemudian kematian tinggi, kemudian juga yang berkaitan dengan urusan makan, urusan perut ini hati-hati," kata Jokowi dalam rapat terbatas pada Penanganan Pandemi COVID-19 (Evaluasi PPKM Darurat), Jumat (16/7), di Istana Merdeka, Jakarta seperti dikutip dari situs Setkab, Minggu (18/7/2021).

Jokowi meminta jajarannya lebih sensitif. Dia tidak ingin masyarakat frustrasi akibat kesalahan kebijakan pemerintah.

"Jangan sampai di antara kita ini tidak sensitif terhadap hal-hal seperti ini. Jangan sampai masyarakat frustrasi gara-gara kesalahan-kesalahan kita dalam berkomunikasi, kesalahan-kesalahan kita dalam menjalankan sebuah policy," ucapnya.

18 Juni 2020

Jokowi pernah marah saat membuka sidang kabinet paripurna pada 18 Juni 2020. Video kemarahan ini diunggah pada 28 Juni 2020. Dalam video itu, Jokowi langsung membuka pidatonya dengan nada tinggi.

"Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa nggak punya perasaan? Suasana ini krisis!" ujar Jokowi.

Dia mengatakan suasana dalam 3 bulan belakangan ini dan ke depan merupakan suasana krisis. Untuk itu, dia meminta semua menteri dan pimpinan lembaga negara juga merasakan bekerja dalam suasana krisis. Namun dia merasa masih ada bawahannya yang bekerja seolah-olah kondisi normal.

"La, kalau saya lihat Bapak-Ibu dan Saudara-saudara masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali. Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extraordinary. Perasaan ini tolong sama. Kita harus sama perasaannya. Kalau ada yang berbeda satu saja, sudah berbahaya," tuturnya.

Jokowi pun mengingatkan sudah banyak lembaga internasional yang memprediksi ekonomi dunia akan turun cukup dalam. Dia meminta agar hal itu diwaspadai, bukan malah diabaikan.

Jokowi pun memerintahkan jajaran kabinet untuk kerja ekstra dalam menangani pandemi virus Corona (COVID-19). Dengan tegas, Jokowi akan melakukan perombakan kabinet jika diperlukan.

"Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat perppu yang lebih penting lagi. Kalau memang diperlukan karena memang suasana ini harus ada, suasana ini tidak, Bapak-Ibu tidak merasakan itu sudah," ujarnya.

Jokowi menyebut dia juga akan melakukan perombakan kabinet jika diperlukan. Jokowi menegaskan akan mengambil langkah penting untuk memerangi virus Corona.

(maa/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT