ADVERTISEMENT

Resensi Buku

Konvensi Fana - Tradisi Survei Abadi

Sudrajat - detikNews
Sabtu, 30 Apr 2022 09:56 WIB
Resensi buku Konvensi Partai Golkar
Repro sampul buku Konvensi Partai Golkar dan Lahirrya Survei Politik
Jakarta -

Ketika ide untuk menjaring calon presiden melalui konvensi digulirkan Partai Golkar pada 2003, banyak pihak mencurigainya sebagai akal-akalan belaka. Sebab kala itu Akbar Tandjung sebagai ketua umum yang tengah tersandera kasus skandal korupsi dana Bulog diizinkan ikut serta. Toh begitu kemudian belasan tokoh dari berbagai profesi antusias mendaftar menjadi peserta. Selain para politisi kawakan, ada pengusaha, cendekiawan, tokoh militer, hingga paranormal.

Dugaan banyak pihak bahwa Akbar sebagai ketua umum akan memenangi konvensi ternyata meleset. Bagi Akbar pribadi bukan kekalahan itu yang terutama membuatnya masygul. Tapi kenyataan bahwa para pengurus di daerah sudah sangat pragmatis. Mereka tak peduli lagi dengan ketua umumnya yang selama bertahun-tahun menjalin komunikasi dan melakukan konsolidasi. Loyalitas mereka mudah goyah oleh iming-iming berbagai hadiah.

Tapi di sisi lain, Akbar boleh sedikit bungah. Kerja kerasnya selama memimpin Partai Golkar terbukti mampu mengembalikan kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia. Jika pada Pemilu 1999 posisi Golkar disalip PDI Perjuangan dengan meraup suara 22,3% atau 23,7 juta suara, lima tahun kemudian Partai Golkar berhasil menyalip PDI dengan suara 21,62%. Secara prosentase memang lebih kecil tapi faktual jumlah suara yang diraup lebih besar, yakni mencapai 24,4 juta suara. Begitu pun dengan perolehan kursi di DPR meningkat dari 120 pada 1999 menjadi 128 di 2004.

Salah satu kunci sukses itu diyakini banyak pengamat berkat pelaksanaan Konvensi. Lewat strategi ini Partai Golkar dan Akba Tanjung dinilai lebih maju dan demokratis sehingga menarik media massa untuk terus-menerus memberikan liputan yang gegap gempita secara gratis. Hal itu antara lain tak lepas dari figur-figur yang terlibat sangat kuat ketokohannya dan merupakan para news maker. Sebut saja sosok Wiranto, Prabowo Subianto, Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan Sri Sultan HB X.

Suradi dan Fajar WH, dua jurnalis senior yang lama meliput isu-isu politik merekonstruksi semua itu dalam buku ini. Mulai dari cikal bakal ide tersebut mencuat, intrik-intrik yang berlangsung di dapur panitia hingga menguak cerita-cerita dari dapur masing-masing peserta yang tak sempat diberitakan media massa.

Seperti diakui keduanya, upaya mereka tak sepenuhnya berhasil. Sebab bagi sebagian pelaku, Konvensi tak cuma menguras materi dan energi. Juga menyisakan luka yang membuat mereka lebih suka melupakan dan memberangus semau dokumen yang ada.

Di luar itu, ada yang luput untuk turut diulas dalam buku ini. Kenapa Partai Golkar tak melanjutkan tradisi Konvensi? Sukses Konvensi itu malah coba diulangi oleh Partai Demokrat guna menghadapi Pemilu 2014. Kenapa sambutan media tak segegap gempita ketika memberitakan Konvensi 2003-2004? Apakah karena 11 figur peserta yang ikut serta seperti Dahlan Iskan, Andi Mallarangeng, Gita Wirjawan, Dino Patti Djalal, dan Jenderal Edy Pramono pamornya kurang moncer? Apakah mereka kalah pamor oleh sosok Jokowi, politisi yang dianggap ndeso tapi sangat fenomenal?

Tapi kekurangan tersebut tergantikan oleh ulasan tentang eksistensi Lembaga Survei. Itulah barangkali kenapa judul buku ini diberi embel-embel "Dan Lahirnya Survei Politik". Beriringan dengan pelaksanaan Konvensi, rupanya kala itu Denny JA menggelar survei yang hasilnya mencengangkan.

Dia menyodorkan data kepada sejumlah elit politik di tanah air, seperti Akbar Tanjung, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Taufik Kiemas. Lewat survei yang digelar Lembaga Survei Indonesia (LSI) dia menyatakan bahwa Pemilu 2004 akan dimenang oleh Partai Golkar, bukan PDI Perjuangan. Tapi untuk Pemilhan Presiden langsung yang pertama kali digelar secara langsung, akan diraih oleh SBY.
Akurasi ini yang kemudian menjadi modal bagi Denny JA dipercaya menggelar survei-survei calon kepala daerah dari Partai Golkar sejak era kepemimpinan Jusuf Kalla hingga sekarang. Juga oleh elit-elit dan parpol lainnya. Denny JA dan LSI kemudian menjelma sebagai konglomerat di bidang survei opini publik. Tak heran bila Doktor Perbandingan Politik dan Bisnis dari Universitas Ohio, AS itu berani sesumbar, "Konvensi boleh fana tapi tradisi survei akan tetap abadi".

Betapapun buku setebal hampir 350 halaman ini menjadi sumbangsih berharga yang merekam dengan relatif detail sebuah hajatan akbar di kancah perpolitikan nasional kita. Apalagi sebagai jurnalis yang telah malang melintang selama hampir 30 tahun meliput bidang politik, keduanya menuliskan peristiwa tersebut dengan renyah, mengalir. Sehingga momen yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun itu seolah baru kemarin terjadi.

Para politisi, akademisi, dan wartawan politik yang ingin memperkaya wawasan terkait salah satu fragmen perjalanan politik bangsa ini sepatutnya membaca buku ini.

Judul Buku: Konvensi Capres Partai Golkar dan "Lahirnya" Survei Politik
Penulis: Suradi dan Fajar WH
Penerbit: Gading Publishing, Februari 2022
Tebal: XXVIII + 347 halaman

(jat/jat)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT