ADVERTISEMENT

Soal 'China Akan Gelar Perang Sebelum 2050', Legislator Yakin Negara Siap

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 23 Jan 2022 11:19 WIB
Bobby Adhityo Rizaldi
Bobby Adhityo Rizaldi (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Andi Widjajanto, ahli pemerintah dalam uji materi UU Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (PSDN) terkait komponen cadangan (komcad) membeberkan China sedang menyiapkan perang untuk menguasai samudra Hindia pada 2050. Legislator Golkar Bobby Adhityo menilai pandangan bisa dijadikan referensi sektor pertahanan untuk selalu siap.

"Masukan dari Pak Andi tentu menjadi referensi sektor pertahanan kita. Utamanya dalam tugas menjaga kedaulatan negara, TNI harus selalu siap siaga menghadapi ancaman perang baik dalam format konvensional (dideklarasikan) atau nonkonvensional (tanpa deklarasi) pun Hybrid (kombinasi), seperti fisik, cyber war, proxy war, dan seterusnya," kata Bobby kepada wartawan, Minggu (23/1/2022).

Bobby menilai perlu adanya kesiapan segala aspek di pertahanan. Dia menyebut pengembangan sudah mulai dilakukan saat ini.

"Oleh karenanya postur pengembangan kekuatan militer saat ini sudah disesuaikan dengan dinamika tersebut. Baik percepatan MEF, lantas legislasi komponen cadangan, pengembangan struktur organisasi kogabwilhan, itu adalah contoh-contoh pembangunan postur agar siap kapanpun perang terjadi. Sesuai dengan adagium civis pacem parabellum," ucapnya.

Anggota Komisi I DPR ini yakin pemerintah selalu siap. Tidak hanya di sektor pertahanan, tapi juga ketahanan pangan dan energi.

"Kapan pun perang akan terjadi, negara kita siap, termasuk membangun ketahanan pangan, ketahanan energi, mengembangkan industri agar memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri, ini adalah bentuk-bentuk kesiapan yang sudah dibangun kepresidenan Jokowi sekarang," ucapnya.

"Kepemilikan perusahaan minyak secara mayoritas ini bukan soal dividen/profit, tapi hasil lifting minyaknya digunakan untuk kepentingan nasional, bukan diekspor," lanjut Bobby.

Diketahui, Andi membeberkan hal itu saat menjadi tim ahli pemerintah dalam uji materi UU PSDN. Awalnya, Andi ditanya kuasa pemohon, Hussein Ahmad dalam sidang di MK soal sikapnya yang berubah terkait komponen cadangan di UU PSDN.

"Pertama, statement saudara pada tanggal 13 Agustus 2010 dengan judul 'Pembentukan Komponen Cadangan Tidak Mendesak'. Saudara mengatakan bahwa pembentukan komponen cadangan dalam sistem pertahanan Indonesia, dalam sistem pertahanan Indonesia saat ini bukanlah hal yang sangat mendesak. Alasannya Saudara katakan 'saat ini Indonesia memang tidak dalam posisi bersiap untuk bertahan untuk berperang'. Pertanyaannya apakah dengan kemudian dibentuknya komponen cadangan sekarang dalam Undang‐Undang PSDN ini, apakah Indonesia sedang bersiap untuk berperang?" kata kuasa pemohon, Hussein Ahmad dalam sidang di MK yang disiarkan secara live di channel YouTube MK, Selasa (18/1/2022).

Simak selengkapnya di halaman berikut

Saksikan Video 'Ibu Kota Baru di Kalimantan Dinilai Rawan Terdampak Konflik China-AS':

[Gambas:Video 20detik]



Menjawab pertanyaan itu, Andi berdalih pendapat pada 2010 karena didasari kondisi global waktu itu masih kondusif. Saat itu, AS dan China masih adem hingga muncul Trump yang meningkatkan eskalasi hubungan kedua negara.

"Kalau dilihat dari eskalasi dinamika ancaman yang terjadi, ya, memang ketegangan antarnegara besar di kawasan ini semakin meningkat, ya. Pada saat saya membuat tulisan itu tahun 2010, tidak ada kondisi‐kondisi yang terjadi antara misalnya Trump dengan China yang mengarah kepada trade world, yang mengarah kepada embargo perusahaan‐perusahaan IT‐nya China, embargo teknologi‐teknologinya China, tidak ada seperti itu," jawab Andi Widjajanto yang juga mantan Sekretaris Kabinet itu.

Selain itu, Andi menilai analisanya hubungan China-AS mereda setelah Biden naik menjadi Presiden AS meleset.

"Saya sebagai analisis hubungan internasional, tadinya menduga bahwa dengan kemunculan Biden dari Partai Demokrat akan ada peredaan ketegangan antara China dengan Amerika Serikat, dan ternyata tidak. Ketegangannya makin tinggi," ujar Andi.

Andi menilai China melakukan rencana strategis selama 70 tahun lebih. Tahap pertama dari 1980 sampai 2000. Tahap kedua, tahun 2000 sampai 2020. Tahap ketiga, tahun 2020 sampai 2050.

"Di tahap kedua, rensra-nya China 2000 sampai 2020 mereka siap menggelar kekuatan, memenangkan perang Laut Cina Selatan. Nanti di tahun 2020 sampai 2050, mereka siap menggelar kekuatan, menang perang di dua titik sekaligus sebagai patokannya. Yaitu Guam di Samudra Pasifik dan Diego Garcia di Samudra Hindia," beber Andi.

(eva/gbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT