Tamparan Keras untuk Jargon Anies 'Maju Kotanya, Bahagia Warganya'

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 01 Jan 2022 07:03 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau rumah susun Nagrak di Jakarta Utara. Rusun itu dijadikan sebagai tempat isolasi mandiri pasien COVID-19.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Indeks Kebahagiaan di DKI Jakarta merosot di sisa masa jabatan Gubernur Anies Baswedan. Fraksi PDIP DPRD DKI beri tamparan keras jargon Anies 'Maju Kotanya, Bahagia Warganya'.

Dilihat dari Indeks Kebahagiaan 2021 yang dipublikasikan BPS, Jumat (31/12/2021), DKI Jakarta berada pada urutan ke-27 dari 34 provinsi di Indeks Kebahagiaan menurut provinsi.

BPS menyatakan indeks tersebut diukur lewat survei pengukuran tingkat kebahagiaan (SPTK) yang dilaksanakan tiga tahun sekali. BPS mengatakan ada tiga dimensi yang diukur dalam SPTK 2021, yakni kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan (affect), dan makna hidup (eudaimonia).

Tingkat kebahagiaan penduduk 2021 diukur berdasarkan data SPTK 2021. Survei dilaksanakan serentak di semua kabupaten/kota di 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Survei digelar pada 1 Juli sampai 27 Agustus 2021. Unit analisis adalah rumah tangga yang dipilih secara acak (random).

BPS menggunakan two stage one phase sampling untuk memilih sampel. Total sampel rumah tangga yang diperlukan untuk keperluan estimasi tingkat kebahagiaan hingga level provinsi di Indonesia sebesar 75 ribu rumah tangga yang tersebar di 34 provinsi.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara oleh petugas menggunakan kuesioner terstruktur dan alat bantu. Alat bantu ini berupa scoring (rating scale) secara presisi terhadap pertanyaan terkait kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup.

Indeks Kebahagiaan Indonesia pada 2017 berada pada angka 70,69 dan naik 0,80 pada 2021 menjadi 71,49. Pada 2021, penduduk perkotaan memiliki nilai Indeks Kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan, yakni perkotaan 71,73 dan pedesaan 71,17.

"Terdapat 10 provinsi yang mengalami penurunan Indeks Kebahagiaan. Provinsi-provinsi tersebut adalah Aceh, Riau, Sumatera Selatan, dan Bengkulu untuk kawasan Sumatera. Untuk kawasan Jawa-Bali-Nusa Tenggara yang turut mengalami penurunan Indeks Kebahagiaan yaitu DKI Jakarta, Banten, Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Sementara untuk kawasan Kalimantan terdapat pada Provinsi Kalimantan Timur," tulis BPS.

Khusus untuk Jakarta, Indeks Kebahagiaan di Ibu Kota Negara ini turun dibanding pada 2017. Pada 2017, angkanya berada pada 71,33 sementara pada 2021 indeks kebahagiaan DKI menjadi 70,68. DKI Jakarta kini berada pada urutan ke-27 dari 34 provinsi di Indeks Kebahagiaan menurut provinsi.

Kritik Keras PDIP

PDIP DKI mengkritik jargon Anies 'Maju Kotanya Bahagia Warganya' gagal total. PDIP menilai turunnya indeks kebahagiaan warga DKI tak terlepas dari peran pelayanan publik. Dia menilai ada penurunan.

"Artinya, Pak Anies tak bisa menunaikan janji kampanye pada saat mereka maju sebagai Gubernur. Artinya, kan slogannya maju kotanya bahagia warganya, itu slogan yang selalu didengungkan ketika kampanye tapi fakta di akhir masa jabatan bukan meningkat justru menurun. Ini kan menandakan kinerja Pak Anies dalam rangka mencapai tujuan membahagiakan warga kan tidak sampai. Jargon bahagia warganya gagal total di akhir masa jabatannya," ujar Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono kepada wartawan.

"Perasaan kan perasaan mereka dilayani, ketika Pemprov tak maksimal kan perasaan mereka terganggu. Itu kepuasan batin ketika kewajiban Pemda memberikan pelayanan publik. Ujung tombak Pemprov paling depan adalah pelayanan masyarakat. Senyum sapa pejabat kita, pelayanan kita ASN kita makin hari makin menurun. Coba ke kelurahan dan kecamatan, nggak seramah zaman dulu. Ini kan soal rasa ketika dilayani," paparnya.

Di sisi lain, Gembong memaklumi jika penurunan indeks kebahagiaan dari sisi makna hidup. Hal itu, lanjut dia, berdampak akibat masa pandemi.

"Soal makna hidup harus diakui di dua tahun ini kan memang pandemi ini mengakibatkan. Jadi kita harus fair juga. Karena akibat pandemi ini pasti nggak akan maksimal," jelas dia.

Gembong meminta Anies memuliakan warga DKI. Sisa jabatan enam bulan ke depan menurutnya masih bisa dioptimalkan untuk warga DKI.

"Kalau mengejar indeks kepuasan agar bahagia warganya masih punya harapan walaupun itungan dalam kewenangan Pak Anies membuat kebijakan tinggal 4 bulan. Karena 6 bulan sebelum masa bakti berakhir sudah tak boleh buat kebijakan bersifat strategis," katanya.

Simak Video 'Harapan Anies di 2022: Tahun Kita Bangkit Menjadi Lebih Kuat!':

[Gambas:Video 20detik]