Tilap Uang Nasabah Rp 1,5 M, Bendahara Lembaga Kredit Desa di Bali Dibekuk

Sui Suadnyana - detikNews
Selasa, 14 Des 2021 02:19 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Klungkung -

Gusti Ayu Suratni, Bendahara Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Tegal Wangi di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, ditetapkan sebagai tersangka. Dia diduga menggelapkan uang nasabah Rp 1,5 miliar.

"Penetapan tersangka 15 November kemarin. Kita gelarkan (perkara), terus kita tetapkan selaku tersangka. Terus kemarin tanggal 9 Desember baru kita tahan, karena kita telah kumpulkan bukti-bukti," kata Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Banjarangkan, Aiptu Ridwan, saat dihubungi detikcom, Senin (13/12/2021).

Ridwan menuturkan, penggelapan dana yang dilakukan tersangka diketahui dari adanya laporan Ni Ketut Koni sebulan yang lalu. Awalnya pelapor menaruh uang di LPD Desa Adat Tegal Wangi Rp 170 juta lewat tersangka.

"Itu dia (Ni Ketut Koni) naruh uang tahun 2019, itu dicari langsung sama Bendahara LPD Tegal Wangi ke rumahnya. Jadi dia percaya bahwa itu dia kan karyawan LPD gitu. Nah dia itu taruh uang berbentuk deposito sama tabungan, jadi 170 juta," terang Ridwan.

Setelah menyerahkan uang tersebut, tersangka juga sempat menunjukkan buku tabungannya kepada pelapor. Pelapor saat itu senang karena uang Rp 170 juta disebut akan diberikan bunga yang lebih tinggi.

Namun setahun kemudian, pelapor akhirnya mengetahui uangnya digelapkan oleh tersangka ketika dananya tersebut jatuh tempo pada Juni 2020. Saat itu Ni Ketut Koni mengambil uangnya ke LPD Desa Adat Tegal Wangi, namun uang tidak tercatat dan dirinya tak terdaftar sebagai nasabah.

Setelah dilakukan pengecekan, diketahui uang pelapor sebesar Rp 170 juta tersebut ditilap tersangka. Meski demikian, pelapor masih memberikan tenggat waktu kepada tersangka untuk mengembalikan uang tersebut.

"Nah dikasihlah tenggang waktu sama Bu Koni, diminta mengembalikanlah, karena kan itu bulan Juni 2020 itu jatuh temponya, nah sampai lewatlah 2021 endak ada pengembalian. Nah baru sebulan kemarin melaporkan," tutur Ridwan.

Berdasarkan mendapatkan laporan tersebut, polisi kemudian melakukan penelusuran. Polisi menemukan banyak kejanggalan. Uang Rp 170 juta milik pelapor tidak tercatat dan juga tidak terdaftar selaku nasabah.

"Memang Bu Koni ini endak masuk selaku nasabah LPD itu. Jadi buku-buku (tabungan dan deposito) yang dia punya, itu buku palsu semua. Seharusnya deposito itu dia dapatlah print out dari LPD, ini ditulis tangan," jelas Ridwan.