Penanganan COVID-19 di Desa Dinilai Lebih Sederhana dan Efektif

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 22:03 WIB
Penanganan COVID-19 di Desa Dinilai Lebih Sederhana dan Efektif
Foto: Dok. Kemendes PDTT
Jakarta -

Penanganan pandemi COVID-19 di desa dinilai lebih sederhana dan lebih efektif. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan, apalagi jika penanganan tersebut dilakukan secara masif di 74.961 desa.

"Di desa lebih efektif, penerapan protokol kesehatan mudah diawasi, budaya gotong-royong juga semakin memudahkan penanggulangan COVID di desa," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/12/2021).

"Dalam penanganan level desa dengan berbasis data mikro, masalah-masalah itu bukan hanya dibicarakan, tapi masalah itu dilihat, bahkan bisa dipeluk," imbuhnya saat menjadi narasumber dalam diskusi online Ngobrol Tempo dengan tema 'INDONESIA OUTLOOK 2022: Penanganan Kesehatan, Pemulihan Ekonomi, dan Reformasi Pendidikan'

Lebih lanjut, dia menjelaskan ketika berbicara COVID-19 di desa, masalahnya lebih jelas. Karena itu, pada awal COVID-19 muncul, kementeriannya mengeluarkan berbagai kebijakan seperti membentuk relawan desa lawan COVID-19.

"Kami selalu menggunakan diksi relawan, kenapa? Karena levelnya desa, jangan sampai misalnya ada yang mengkritik desa ketika sudah masuk dana desa, urusan gotong-royong menjadi menurun, tidak lagi menjadi bagian penting kehidupan warga masyarakat desa," ungkapnya.

"Nah, kami jawab dengan berbagai bukti bahwa gotong-royong di desa masih berjalan baik, meskipun ada dana desa. Maka diksi yang kami pakai di desa selalu menggunakan istilah relawan," sambungnya.

Pada saat menghadapi COVID-19 pada awal 2020, tambahnya, Kemendes PDTT langsung menginstruksikan atau mengeluarkan surat edaran pembentukan relawan desa lawan COVID-19 yang diketuai langsung oleh kepala desa dan wakilnya adalah ketua badan permusyawaratan desa (BPD).

"Kenapa ketuanya kepala desa? Supaya kebijakannya lebih menukik dan pelaksanaan kebijakan bisa dilakukan dengan sangat masif. Kenapa wakilnya BPD? Supaya ketika ada kebijakan yang memang harus dibahas dalam musyawarah desa, ini ketemu. Tidak usah terlalu panjang birokrasinya," tuturnya.

Diketahui, per 7 Desember 2021 setidaknya ada 46.905 desa yang menyediakan tempat cuci tangan di ruang publik dan 45.081 desa menyediakan masker bagi warganya. Kini juga tercatat 46.031 desa telah melakukan sosialisasi hidup sehat bersama COVID-19. Pemerintah desa juga melakukan pengarahan langsung tentang pandemi COVID-19, dan menyediakan ruang isolasi yang berisikan 86.839 tempat tidur, serta menyediakan spanduk protokol kesehatan untuk adaptasi kebiasaan baru.

Adapun jumlah relawan desa lawan COVID-19 pada 2021 sebanyak 1.628.787 yang tugasnya melakukan edukasi seputar protokol kesehatan.

"Sekarang ini, meskipun tidak mudah untuk memberikan pemahaman kepada warga desa untuk terus pakai masker, selalu cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, tetapi kebiasaan-kebiasaan itu mulai ada, mulai tumbuh. Artinya, membangun adaptasi kebiasaan baru berbasis desa lebih efektif," pungkasnya.

(akd/ega)