BMKG Wanti-wanti Potensi Gelombang Tinggi dan Banjir Rob

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 17:03 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Zhacky/detikcom)
Jakarta -

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkap prediksi BMKG akan adanya gelombang tinggi dan banjir rob di beberapa wilayah Indonesia. BMKG mengimbau masyarakat agar mewaspadai dampak potensi bencana tersebut.

"Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari gelombang tinggi dan pasang muka air laut," kata Dwikorita dalam konferensi pers virtual, Rabu (8/12/2021).

BMKG memprediksi ada peningkatan intensitas cuaca ekstrem, terutama pada Desember 2021, Januari, hingga Februari 2022, di sejumlah wilayah Indonesia. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa kondisi, terutama kondisi cuaca yang saat ini musim hujan, pengaruh La Nina, dan pengaruh angin Monsun Asia. Kondisi tersebut diperkirakan memberikan dampak terjadinya kenaikan gelombang tinggi mencapai 4-6 meter.

"Kemudian mengakibatkan juga ada pengaruh dari Monsun Asia yang mengakibatkan curah hujan semakin meningkat, kondisi ekstrem semakin meningkat, dan diperparah dengan adanya pola sirkulasi siklonik dan seruakan dingin yang aktif di Laut China Selatan, yang memberikan dampak signifikan pada peningkatan tinggi gelombang, dapat mencapai 4-6 meter di wilayah perairan Natuna," ujar Dwikorita.

BMKG juga memaparkan, sejumlah wilayah mengalami peningkatan kecepatan angin. BMKG menyatakan daerah yang diperkirakan mengalami gelombang tinggi mencapai 4-6 meter dan kecepatan angin yang signifikan berada di Samudera Pasifik Timur Filipina. Kondisi tersebut juga memberikan dampak terhadap peningkatan tinggi gelombang di wilayah utara Indonesia bagian timur.

"Jadi tinggi gelombang yang mencapai 4 hingga 6 meter, terutama di wilayah utara Indonesia bagian timur, misalnya di utara Papua ataupun Papua Barat," ujarnya.


BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob

Selain itu, Dwikorita mengingatkan potensi banjir rob di sejumlah wilayah. Sebab, kondisi gelombang tinggi dan meningkatnya kecepatan angin bersamaan dengan fase bulan baru sehingga berpotensi terjadinya kenaikan ketinggian pasang air laut atau banjir rob.

"Hal ini, selain kondisi cuaca terkait gelombang dan angin, juga bersamaan dengan fase bulan baru dan kondisi Perigee, yaitu kondisi di mana posisi bulan itu berada pada jarak terdekat dengan planet bumi sehingga gravitasi bulan terhadap permukaan air di samudra di laut menjadi semakin meningkat," kata Dwikorita.

"Yang berpotensi menyebabkan terjadinya peningkatan ketinggian pasang air laut, yaitu pasang air laut maksimum yang dapat berpotensi besar mengakibatkan banjir pesisir atau rob," sambungnya.

BMKG memprediksi kondisi tersebut berpotensi terjadi kembali pada 18-22 Desember 2021 akibat adanya fenomena fase bulan purnama. BMKG juga menyampaikan potensi beberapa wilayah terdampak cuaca ekstrem pada periode 8-10 Desember.

"Jadi perlu kami sampaikan beberapa wilayah terdampak antara lain dalam durasi 8 hingga 10 Desember, yaitu Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, Provinsi Banten, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Ternate, Halmahera, Papua Barat (bagian utara), dan Papua (Papua bagian utara)," ujar Dwikorita.

"Khusus untuk Papua Barat itu adalah Papua Barat bagian utara dan Papua adalah Papua bagian utara yang berhadapan langsung dengan samudra pasifik," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo menyatakan, atas potensi cuaca ekstrem tersebut, masyarakat di wilayah terdampak itu diimbau segera mengantisipasi dan menyiapkan langkah mitigasi bencana. BMKG telah menyampaikan informasi tersebut kepada BPBD, Kementerian KKP, dinas perikanan, dan stakeholder lainnya di pelabuhan penyeberangan dan pelabuhan perikanan.

"Kondisi ini yang perlu kita cermati dari tiga fase yang bersamaan, yaitu angin kencang di pesisir, diikuti gelombang tinggi, ditambah fase pasang maksimum jika kita tambah lagi dengan curah hujan yang lebat tentunya ini akan semakin menambah dampak tingginya genangan di perkampungan-perkampungan nelayan atau pesisir," kata Eko.

"Bahwasanya masyarakat pesisir di 19 wilayah tadi perlu melakukan upaya-upaya adaptasi dan mitigasi yang konkrit agar tidak timbul kerugian-kerugian di masyarakat," imbuhnya.

(yld/dhn)