Strategi Mendikbud Nadiem-Menag Yaqut Sisipkan Antikorupsi di Pendidikan

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 18:08 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim
Mendikbud Nadiem Makarim (Tangkapan layar WINNER 2021)
Jakarta -

Mendikbud-Ristek Nadiem Anwar Makarim dan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas memberikan usulan strategi dalam menyisipkan sisi antikorupsi di sektor pendidikan. Hal tersebut terkait dengan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia).

"Saya sangat sepakat dengan pernyataan Bapak Firli bahwa pada kesempatan sebelumnya, bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Dan saya ingin tambahkan sedikit tentang bagaimana caranya, agar sekolah dan kampus punya peran dalam upaya kita memberantas korupsi," kata Nadiem dalam webinar Peluncuran Strategi Nasional Pendidikan Antikorupsi di YouTube KPK, Selasa (7/12/2021).

Nadiem mengatakan Indonesia seharusnya tidak lagi menghasilkan lulusan pendidikan yang hanya pintar, tapi juga lulusan yang berpendidikan berintegritas.

"Caranya pendidikan Indonesia sekarang harus berhenti mencetak lulusan yang hanya pintar secara akademis dan mulai mendidik pelajar menjadi orang-orang yang berintegritas. Integritas menjadi pelajar Pancasila, yang cerdas berkarakter, seluruh arahan Merdeka Belajar dan transformasi kita lakukan mengarah pada satu tujuan, yaitu profil pelajar Pancasila, di mana integritas dan akhlak mulia menjadi pilar utama," kata Nadiem.

"Perubahan itulah yang saat ini menjadi prioritas kami. Di mana anak-anak dari jenjang PAUD sampai SMA dan SMK didorong untuk memahami dan bukan hanya memahami, tapi aktualisasikan nilai-nilai Pancasila melalui metode pembelajaran berbasis project. Di mana mereka terlibat secara aktif dalam proses belajar. Menurut kami, banyak sekali jenis pembelajaran mengenai akhlak, mengenai Pancasila, mengenai moralitas dan integritas ini hanya sebatas teori, tapi kalau tidak diimplementasikan, kalau tidak berbasis proyek, kalau bukan berbasis suatu portofolio pekerjaan di mana biar berkolaborasi dengan murid-murid lain, integritas tidak akan mungkin bisa mendarah daging di dalam generasi penerus bangsa kita," sambungnya.

Pada sektor perguruan tinggi, Nadiem menyarankan mahasiswa dapat mulai berkontribusi untuk Indonesia, salah satunya mengajar di sekolah. Menurutnya, upaya tersebut bisa menciptakan lulusan yang sukses, dan tentunya berintegritas, sehingga tidak mudah tergoda dengan korupsi.

"Sementara itu, untuk jenjang perguruan tinggi, sekarang ada berbagai macam program Kampus Merdeka, yang mendorong mahasiswa kita untuk keluar dari kampus, belajar dari masyarakat, berkontribusi secara sosial untuk Indonesia. Baik mengajar dalam sekolah, berkontribusi di project sosial di daerah-daerah 3T. Kampus Mengajar ini sekarang masih turun ke masyarakat membantu guru-guru SDN, SMP, mengajar murid-murid yang ketinggalan pada saat di daerah 3T," ujarnya.

"Dengan cara ini, pelajar dan mahasiswa ini bisa memahami perannya sebagai generasi penerus bangsa. Bukan hanya sebagai seorang yang menjadi sukses, ingin menjadi sukses tapi misi sosial untuk membangun Indonesia dengan integritas yang tinggi," sambungnya.

Sementara itu, Menag Yaqut menyarankan strategi pendidikan pada wajib belajar nilai antikorupsi. Hal itu meliputi nilai kejujuran hingga keadilan yang akan tersisipkan di setiap diri seseorang.

Menag Yaqut Cholil QoumasMenag Yaqut Cholil Qoumas (Foto: dok. Kemenag)

"Menurut kami, ada beberapa strategi yang bisa diusulkan dalam menanamkan nilai antikorupsi yang terintegrasi dalam pendidikan di sekolah maupun madrasah sebagaimana mandatori kami, selain mandatori keagamaan mengelola pendidikan yang di dalamnya madrasah," kata Yaqut.

"Yang pertama melalui insersi, atau penyisipan. Ini adalah bisa menjadi visi bersama terutama para pendidik untuk menginternalisasikan nilai-nilai mulia kepada para peserta didik, nilai-nilai kejujuran, nilai-nilai tidak berlaku curang, keadilan, dan seterusnya. Menerapkan keadilan harus diterapkan dalam semua aspek, bisa dimulai dengan memberikan dorongan kepada peserta didik agar senantiasa jujur saat mengerjakan tes, suportif terhadap kawan maupun kompetitor ketika bermain, disiplin saat masuk kelas, dan sebagainya," tambahnya.

Selanjutnya, Yaqut mengatakan pendidikan agama dan kewarganegaraan tentu menjadi faktor yang menentukan nilai-nilai antikorupsi dalam diri seseorang.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: