Gelar Sarasehan Kehumasan, MPR Bahas Sejarah Paham Kebangsaan

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 06 Des 2021 23:08 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga Setjen MPR, Budi Muliawan menghadiri Sarasehan Kehumasan MPR 'Menyapa Sahabat Kebangsaan'. Dia menekankan dinamika pergerakan nasionalisme di Tanah Air.

Menurutnya, paham kebangsaan atau nasionalisme sudah muncul di Indonesia sejak tahun 1908, ditandai dengan berdirinya pergerakan Budi Utomo yang memiliki tujuan Indonesia merdeka.

"Organisasi ini didirikan oleh mahasiswa yang menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Tokoh-tokoh organisasi ini adalah Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji. Hari berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional," ujar Budi dalam keterangannya, Senin (6/12/2021).

Dalam diskusi dengan tema 'Bangkitkan Semangat Nasionalisme Bagi Generasi Muda' yang digelar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Kota Serang, Banten pada Sabtu (4/12), Alumni Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya ini mengatakan sebelum Budi Utomo, telah ada organisasi yang melawan kebijakan pemerintah kolonialisme Belanda, yakni Sarekat Dagang Islam.

"Organisasi ini lahir di Solo, 16 Oktober 1905. Organisasi ini sebagai organisasi yang pertama lahir di masa pergerakan. Organisasi yang dibentuk oleh Hadji Samanhoedi itu merupakan perkumpulan pedagang Islam yang menentang politik Belanda yang telah memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai sektor perekonomian pada masa itu," jelasnya.

Adapun tokoh penggerak yang berperan dalam Serikat Islam, yaitu Hadji Oemar Said Tjokroaminoto yang kemudian dikenal sebagai Bapak Bangsa.

Budi menilai, dinamika pergerakan kebangsaan semakin membesar saat digelarnya Kongres II Pemuda pada Tahun 1928. Dikatakannya, kongres yang diikuti oleh berbagai mahasiswa dengan berbagai latar belakangan itu menghasilkan Sumpah Pemuda.

"Kemudian berlanjut pada gerakan pemuda mahasiswa pada tahun 1945, 1966, dan 1998. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa mempunyai dampak yang besar pada bangsa dan negara," tuturnya.

Menurutnya, nasionalisme bersifat tidak mononton. Atau dengan kata lain bisa dipengaruhi oleh banyak faktor. Budi menyebut revolusi industri yang terjadi pada tahun 1760-1850 turut berpengaruh terhadap perkembangan paham ini.

Dijelaskannya, revolusi industri membawa perubahan besar-besaran pada berbagai bidang yang berimbas terhadap perubahan tatanan dunia.

"Membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan manusia seperti pada bidang sosial, budaya, dan ekonomi. Perubahan ini berawal dari Inggris hingga menyebar ke seluruh benua dan negara lainnya," katanya.

Berdasarkan data di atas, pun menyimpulkan nasionalisme dapat menyesuaikan zaman dan keadaan. Sehingga kemudian tolong-menolong, peduli sesama, dan gotong royong juga merupakan semangat nasionalisme.

"Membantu orang lain saat pandemi COVID-19 juga merupakan bentuk nasionalisme," tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, saat ini di media sosial banyak beredar berita bohong atau hoaks. Berita bohong ini dinilainya bisa menumbuhkan benih-benih permusuhan dan perpecahan.

"Nah melawan berita bohong juga salah satu bentuk nasionalisme. Nasionalisme seperti ini bisa kita lakukan saat ini," tambahnya.

Menurut Budi, yang terpenting dalam paham ini adalah bagaimana nilai-nilai yang ada tidak hanya diucapkan, namun juga diimplementasikan. Dia mengingatkan nasionalisme yang diinginkan adalah nasionalisme yang berdasarkan pada nilai-nilai para pendiri bangsa, yang termuat dalam Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945.

"Bukan nasionalisme sempit. Bangsa ini harus bersyukur karena memiliki Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Hukum Tata Negara FH Untirta, Lia Riesta Dewi menambahkan, nasionalisme tak bisa diukur, dilihat, dan diraba. Akan tetapi tetap bisa dirasakan.

"Bila saat menyanyikan lagu Indonesia Raya maka bila ada rasa nasionalisme maka seseorang akan bergetar. Demikian juga bila ada bendera merah putih maka hatinya juga akan bergetar," katanya.

Di sisi lain, Dosen Fakultas Hukum Untirta, menyampaikan terima kasih atas kehadiran tim dari Setjen MPR.

"Kegiatan ini untuk mensosialisasikan apa saja tentang MPR. Yang hadir dalam kegiatan ada 50 mahasiswa. Yang mengikuti kegiatan secara daring juga tak kalah banyaknya," tuturnya.

Dia mengatakan tak hanya mahasiswa, para dosen pun antusias menyambut kegiatan ini. Dia berharap kegiatan tersebut dapat menambah wawasan keilmuan bagi mahasiswa.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Program Pendidikan Fakultas Hukum Untirta, Nurikah. Dia menyebut kedatangan MPR ke kampus ini merupakan yang kedua kalinya. Dia menilai, MPR tidak hanya sebagai lembaga negara dalam bidang legislatif namun lembaga ini juga lembaga yang membangun karakter bangsa.

"Berbagai kegiatan telah dilakukan oleh MPR di Untirta. (Semoga) setiap kegiatan MPR yang hadir dapat dimanfaatkan oleh civitas akademika untuk menambah ilmu dan pengalaman. Kegiatan ini merupakan sarana untuk melakukan asah intelektual," pungkasnya.

(prf/ega)